alexametrics

Permainan Tradisional Tumbuhkan Jiwa Sosial

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PERMAINAN tradisional memiliki unsur bermain yang sesungguhnya. Di dalamnya ada aktivitas fisik yang membuat anak bergerak, juga ada unsur kreativitas, dilakukan di ruang terbuka dan berkelompok.
Praktisi pendidikan anak Semarang Krisna Phiyastika mengatakan anak harus dikenalkan permainan tradisional. Anak akan semakin kuat motoriknya ketika memegang permainan tradisional.

Pastikan permainan yang digukan sesuai usia anak, misalkan di usia dua tahun hingga lima tahun jangan ajarkan tong rembet, bakiak, atau naik egrang. Cukup dengan dakon, gangsing, atau jalan menggunakan batok kelapa itupun harus dengan pengawasan orang tua.
“Semua permainan ada ketentuan usianya. Tidak bisa semua diberikan harus dipilih. Kekuatan permainan tradisional pastinya membuat rasa percaya diri anak tumbuh dan kuat. Hampir sebagian besar permainan tradisional perlu dilakukan lebih dari dua orang,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Terapkan Nilai Kartini dalam Pengawalan Anggaran Pembangunan

Permainan tradisional juga mengandung banyak makna bahkan bisa membangun karakter positif pada anak. Sayangnya, permainan tradisional saat ini mulai tergeser permainan modern yang mengandalkan teknologi.
“Memang tidak bisa dipungkiri teknologi semakin berkembang, kita sebagai orang tua tidak boleh menolak. Namun juga jangan terlalu terbuka menerima permainan tradisonal yang dikemas di apalikasi handphone. Nilai sosial pada permainan tersebut akan hilang, sama saja anak akan bermaian sendiri,” tegasnya.

Namun persaoalanya saat ini banyak anak yang belum mengenal permainan tradisional karena tidak ada ketersediaannya waktu untuk anak. “Permainan tradisional itu kan membangun interaksi anak satu dengan yang lain karena memang sistem mainan kelompok. Sehingga kerja tim memang terbangun sejak dini, dengan begitu kecemasan saya tentang bully sepertinya bisa ditolak tumbuh dari diri anak saya,”kata salah seorang orang tua, Astuti Retnowati.

Baca juga:  Jalan Kaki 1 Km, Bawa Sapu Lidi, Lentera, dan Kendi

Mengenalkan permaian tradisional ke anak juga bentuk kegiatan melestarikannya ditengah himpitan modernisasi. Biaya yang dikeluarkanpun tidak banyak, bahkan orang tua bisa membuatnya di rumah sedniri. (Maria Novena/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya