Ada Nisan di Dalam Rumah, Lahan Pakai Sistem Sewa

Warga Karanggawang Lama Semarang Hidup di Tengah Makam China

455
TIDAK SERAM: Batu nisan makam China bertebaran di antara permukian warga Kampung Karanggawang Lama, Sendangguwo, Semarang.(DICKY ABDILLAH/RADARSEMARANG.ID)
TIDAK SERAM: Batu nisan makam China bertebaran di antara permukian warga Kampung Karanggawang Lama, Sendangguwo, Semarang.(DICKY ABDILLAH/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, Kebutuhan hunian menjadi masalah di setiap kota besar. Tak terkecuali di Kota Semarang. Tak hanya lahan yang layak dibangun rumah saja yang dicari, namun lahan yang berdampingan dengan makam bong China pun menjadi incaran. Ini karena mahalnya harga lahan yang ada di perkotaan. Anak-anak yang tinggal di daerah ini pun sudah tak asing lagi untuk bermain di antara batu nisan yang ada.

DICKY ABDILLAH, RADARSEMARANG.ID

SEJUMLAH batu nisan bertuliskan huruf China bertebaran di Kampung Karanggawang Lama, Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Batu nisan dengan model beragam itu mengelilingi permukiman warga. Ada yang di belakang rumah, samping rumah, halaman depan, bahkan ada yang di dalam rumah. Tampak anak-anak bermain di sela-sela batu nisan. Tak ada rasa takut, meski tempat tersebut merupakan areal pemakaman China.

Ya, Kampung Karanggawang Lama itu dulunya memang areal makam Thionghoa. Namun sudah banyak lahan di situ yang kini telah beralih fungsi menjadi permukiman warga. Ratusan rumah telah berdiri di antara makam China. Tidak diketahui tepatnya kapan kawasan tersebut beralih fungsi. Namun yang pasti, di sekitar perumahan selalu ada makam dengan nisan berukuran besar khas makam China.

“Kalau penghuni awal di sini tepatnya saya tidak tahu, Mas. Tapi dengar-dengar sudah sekitar 40 tahunan yang lalu. Dulu seingat saya waktu saya masih muda, sekitar 20 tahun yang lalu, makam dan rumah-rumah sudah ada. Namun rumah-rumah di sini dulu hanya beberapa saja,” ujar Kisno, Ketua RT 06 RW 1, Kelurahan Sendangguwo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/8).

Pria berusia 50 tahun ini menceritakan, tidak tahu berapa luas lahan pemakaman China yang telah menjadi permukiman di RW 1 Kelurahan Sendangguwo. Di wilayah Kelurahan Kedungmundu bagian lain pun dapat kita temukan makam China seperti yang ada di daerah Karanggawang Lama.

Menurut penuturan Kisno, jumlah kepala keluarga di RW 1 mencapai 100 lebih. Mayoritas rumah yang ditinggali tidak memiliki sertifikat dengan status tanah garapan atau dengan membayar uang sewa.

“Kalau sertifikatnya hanya ada surat perjanjian kontrak dengan ahli waris tanah, soalnya sistemnya sewa. Setiap penyewa besarannya tergantung kesepakatan. Kalau rumah saya, ini sudah sertifikat hak milik (SHM), Mas,” katanya tanpa menceritakan lebih rinci bagaimana pengurusan sertifikat hak milik yang dimiliki.

Makam yang ada di Karanggawang Lama, lanjut dia, masih memiliki ahli waris dengan sistemnya sewa. Rata-rata selama tiga tahun, namun ada juga yang hingga 18 tahun. Sebelum didirikan rumah, pihak penyewa harus izin dulu kepada ahli waris dengan cara mencari keberadaannya kemudian melakukan kesepakatan. Jika ahli waris menghendaki dengan cara menyewa, maka warga yang ingin mendirikan rumah harus menyewanya. Jika tidak, tentu setiap pemilik rumah memiliki tanggungjawab untuk menjaga makam. “Tergantung kesepakatannya, bagaimana sama ahli waris? Jika tidak dibayar sewanya ya digusur. Besaran uang sewanya, saya kurang tahu berapa?” tuturnya.

Dikatakan, di Kampung Karanggawang Lama sudah tidak ada lagi penambahan makam baru. Warga China memilih untuk melakukan kremasi kepada sanak keluarganya karena dianggap lebih murah, mudah, dan praktis ketimbang menguburkan di pemakaman. Sudah banyak makam yang dipindahkan oleh pihak ahli waris, bahkan bekas makam tersebut yang sudah habis kontrak, siap untuk dibangun rumah maupun bangunan lainnya.“Di sebelah selatan sudah banyak lahan yang dipesan oleh instansi-instansi swasta untuk dijadikan pabrik maupun kampus Unimus untuk perluasan wilayah setelah habis kontrak pemakamannya,” jelasnya.

Sani Lestari, 60, salah satu pemilik rumah di Karanggawang Lama mengaku sudah lima tahun tinggal berdampingan dengan batu nisan. Di depan rumahnya pun bahkan terdapat tiga nisan. Nisan juga ada di samping dan bahkan tadinya ada di dalam rumahnya.

Ia mengaku tidak takut meski harus tidur di tengah hutan batu nisan. Selama lima tahun menghuni tempat tersebut ada banyak sekali kejadian aneh yang muncul di sekitar kediamannya. “Kalau takut sih tidak, memang terkadang jam dua malam atau sekitar dini hari pernah ada kuntilanak, dan sebangsa orang China laki-laki seperti memakai peci muncul ke dekat rumah. Tapi ya wong sudah meninggal, jadi nggak mungkin ngganggu lagi,” ceritanya.

Status rumah yang ia tinggali pun bukan hak milik, melainkan status sebagai pengguna atau penggarap. Sebelum mendirikan rumah, pihaknya mengaku sudah melakukan kesepakatan kepada ahli waris dan membeli tanah tersebut.

“Saya izin dulu ke orang yang punya dan syukur dibolehkan membelinya. Kalau tidak diterima ya nyari lahan lain, Mas. Ini kebetulan keluarga ahli waris mengizinkannya, sekalian menjaga makam agar tetap bersih. Seminggu sekali makam saya bersihkan, ya jaga-jaga juga makhluk lain biar tidak nggangguin kami, Mas. Soalnya kalau beli rumah sekarang juga mahal,” kata warga RT 17 RW 1 Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang ini.

Pengalaman unik juga pernah dialami warga RT 12 RW 1 Kelurahan Sendangguwo, Siti Munfaedah. Ketika dirinya baru menempati rumah, anak semata wayangnya di pagi hari mendadak tidak bisa berjalan. Ia telah berobat secara medis ke mana-mana, namun tak ada hasil yang didapat. Beruntung, ada tetangga baru yang menyarankan untuk membawa anaknya kepada orang pintar.

“Saya sempat hampir frustasi dan pastinya sedih ketika anak saya yang ketika itu berumur 3 tahun mendadak tidak bisa berjalan. Sempat saya bawa pengobatan medis, namun tidak ada hasil. Kemudia ada tetangga yang menyuruh berobat ke Mbah Sumela, dia itu salah satu orang pintar di daerah sini. Alhamdulillah selepas pulang dari sana, anak saya pulih, bisa jalan seperti sedia kala,” tandasnya.

Selain itu, ibu rumah tangga berusia 29 tahun itu juga pernah mendapat kejadian ganjil tengah malam ketika menonton TV bersama suaminya. Ketika itu sekitar pukul 24.00. Malam terlihat dari jendela rumah ada tukang bakso yang melewati rumahnya tersebut. Lantas suaminya pun berniat membelinya. Namun alangkah terkejut suaminya ketika membuka pintu dan melihat sekeliling tidak ada apapun, yang terlihat hanya sepi dan kesunyian malam yang terasa.

“Pernah tuh mas, suatu malam juga sekitar jam satu pagi, ada orang yang ketok-ketok pintu. Tapi, ketika pintu ruamah dibuka, tidak ada siapa-siapa, dan itu tidak sekali. Lebih dari tiga kali. Awalnya sih takut, tapi ya sudahlah mau begaimana lagi hehe,” ujar Siti sambil tertawa. (*/aro)