alexametrics

Mempertahakan Keroncong di Sudut Taman Kota

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Mata Suhadi tampak terpejam, bibirnya tak berhenti bergumam mengikuti alunan suara biduanita yang berdiri di atas panggung. Jaraknya hanya tak lebih dari 5 meter tempat dia duduk di atas kursi beton. “Bengawan solooo.. riwayatmu kinii.. sedari dulu kalaa.” Begitu menikmati irama keroncong, membuat kepala Suhadi tergeleng tak sadar saking asyiknya.

Malam itu Suhadi sengaja datang ke Taman Nada, yang terletak di seberang kantor Kecamatan Semarang Tengah. Demi menyaksikan seniman keroncong Semarang beraksi di acara Warung Keroncong. Jauhnya jarak lokasi Warung Keroncong dari tempat tinggalnya, tak menyurutkan semangat pria berusia 67 tahun itu, menikmati musik klangenannya, keroncong.

“Saya ngonthel loh mas ke sini, ta bela-belain datang ke warung keroncong untuk ngobati kangenku sama panggung keroncong,” tutur pria yang tinggal di Krapyak kepada RADARSEMARANG.ID

PADAT: Pecinta musik keroncong memadati depan panggung Warung Keroncong, saat pentas di Taman Nada, Semarang Tengah. (ist)

Tak hanya Suhadi, malam itu atrium panggung Taman Nada tempat manggung seniman keroncong di penuhi oleh warga yang ingin menikmati alunan musik keroncong.

Baca juga:  Belajar Gymnastics di Youtube, Raih Juara II di Malaysia

“Kalau gak ada acara keluar kota, saya sempatkan datang ke sini mas, karena kan jarang ada pementasan keroncong di Semarang kecuali di sini,” ucap Joko Waluyo, pengunjung Warung Keroncong lainnya yang malam itu datang ditemani istrinya.

Warung Keroncong yang rutin hadir Rabu malam, minggu ke empat, muncul berkat ide tiga seniman keroncong di kota Semarang yakni Wuryanto, Kecuk Sumarsono dan Setyanto. Berangkat dari kegelisahan mereka akan minimnya kegiatan musik keroncong di Kota Semarang serta kurangnya perhatian terhadap musik keroncong ini, membuat keberadaan keroncong di ibu kota Jawa Tengah seolah “hidup segan, mati tak mau”.

“Waktu itu saya ,mas Kecuk dan mas Setyanto ngobrol di rumah saya,ternyata kami memiliki kegelisahan yang sama yakni geliat kegiatan musik keroncong dikota kita semakin memprihatinkan” kenang Wuryanto akan pertemuan dengan dua sahabatnya itu 11 tahun silam.

Baca juga:  Orang Tua Shock Berat, dan Menutup Diri di Rumah

Dan, sangatlah wajar kegelisahan mereka, jika menilik musik keroncong saat ini seolah-olah kurang bergaung, kalah dengan genre lainnya. Amat jarang pentas musik keroncong ditampilkan pada even besar di kota Semarang. Kegelisahan yang sama itulah, melahirkan sebuah ide untuk membuat kegiatan musik keroncong secara rutin, tak hanya sekadar “datnyeng”.

“Kami sepakat bikin acara yang teratur dan terjadwal sebagai wadah seniman keroncong berekspresi dan juga bertemunya pecinta musik keroncong kota Semarang” timpal Kecuk Sumarsono.

Dari pertemuan di rumah Wuryanto di bilangan Tlogosari itu, mereka sepakat memberi nama acara “Warung Kerocong”. Namanya seperti sebuah tempat menjual makanan, minuman atau barang kelontong, sebuah nama yang sangat familiar dengan orang Indonesia.

“Soal nama sich sebenarnya gak ada arti khusus, nama warung keroncong supaya mudah diingat dan bisa menjadi tempat nongkrong sambil menikmati musik keroncong,” cetus Wuryanto.

Baca juga:  Waspada, Ada Perbaikan Saluran di Jalan MT Haryono

Tidak hanya sekadar menjadi tempat berkumpulnya seniman dan pecinta keroncong, namun keberadaan Warung Keroncong memiliki misi yang lebih luas.

“Kami berharap Warung Keroncong ini menjadi tempat edukasi bagi masyarakat, bahwa keroncong bukan hanya sekadar bisa dinikmati orang-orang yang sudah sepuh, namun seluruh lapisan usia, agar keroncong tetap lestari,” ucap Wuryanto tegas, setegas keyakinannya mempertahankan eksistensi keroncong di bumi Semarang.

“Ini keroncong pertemuan pria dan gadis remaja
Yang tlah lama merindukan kasih sayang bersama
Indah dam syahdu kisahnya seakan jauh di surga
Betapa tulus impiannya ingin hidup bersama”

Sepenggal lirik lagu keroncong berjudul “Pertemuan” yang dilantunkan dari atas panggung Warung Keroncong itu, membuat Suhadi, Joko Waluyo dan puluhan pecinta musik keroncong lainnya larut dalam lagu yang dipopulerkan grup musik legendaris Koes Plus itu. (sls/ap)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya