24 C
Semarang
Minggu, 29 Januari 2023

Hadiah Lomba Akan Dipakai Membangun Balai Karawitan

Kampung-Kampung Juara Lomba Kampung Hebat 2022 (9-Habis)

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – RW 13 Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, menjadi Juara II Lomba Kampung Hebat 2022 kategori Kampung Pancasila. Kampung ini mengunggulkan seni dan budaya tradisional yang sejak dini telah diterapkan kepada anak-anak.

Prasasti bertuliskan wisata kampung seni dan budaya yang ditanda tangani oleh Wali Kota Semarang yang kini menjabat Ketua LKPP Hendrar Prihadi terlihat jelas di samping kiri gapura masuk RW 13 Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat. Di samping kanan kiri jalan juga terdapat banner bertuliskan “NKRI Harga Mati.” Ketika memasuki kampung ini, kebersihan sangat terjaga. Tidak ada satupun sampah ditemukan. Warga juga sangat ramah menyambut koran ini ketika datang berkunjung.

Dengan mengunggulkan seni dan budaya, RW 13 Kelurahan Gisikdrono berhasil menyabet juara II Lomba Kampung Hebat yang diadakan Jawa Pos Radar Semarang bersama Pemkot Semarang. Nilai-nilai Pancasila berserta dengan keberagamannya terlihat jelas di kampung ini. Selain ada salah satu RT yang mempunyai dua rumah ibadah, kegiatan keagamaan juga selalu diselipi dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Seperti di depan masjid terdapat Taman Pendidikan Alquran (TPQ) Al Iman sekaligus Taman Baca Pancasila yang setiap hari Jumat akan ada kegiatan pelafalan Pancasila dan pengamalannya. Di dinding-dinding TPQ juga ditempelken berbagai lukisan mengenai keberagaman Indonesia.

Baca juga:  Tanamkan Sopan Santun Sejak Masih Anak

Alhamdulillah kemarin bisa mendapatkan juara II Lomba Kampung Hebat yang diadakan Jawa Pos Radar Semarang dan pemkot. Ini juga berkat keguyuban warga yang selalu bergotong royong untuk terus maju,” jelas Ketua RW 13 Soepangat kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang sudah menjabat ketua RW selama 30 tahun ini mengaku, ada banyak tempat di kampungnya untuk mengenalkan budaya pada anak-anak. Seperti Sasono Budaya, TPQ, Taman Baca Pancasila, dan Sanggar Tari.

“Di situ ada juga ruang khusus untuk pengenalan seni budaya. Jenisnya wayang, jadi anak-anak biar mengenal seni budaya yang sekarang soyo suwi soyo surut. Nah, istilahnya kita menggugah hal tersebut biar dilestarikan,” katanya.

Kampungnya menggelar pelatihan secara rutin, baik seni jathilan, wayang, tarian tradisional, karawitan dan lainnya. Paling tidak satu minggu sekali. Tidak hanya anak-anak, para remaja dan juga ibu-ibu juga turut serta berlatih. Seperti ketika menyambut tim juri Jawa Pos Radar Semarang yang disambut dengan tarian oleh ibu-ibu.

Baca juga:  Bangun Jalan dan Balai RW dari Jimpitan

Soepangat mengaku, penanaman nilai-nilai Pancasila lainnya adalah dengan mewajibkan membaca naskah Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika diadakan pertemuan.

“Kami rutin melaksanakan berbagai kegiatan, seperti senam dan perkumpulan warga. Sebelum itu kami pasti menyanyikan lagu Indonesia Raya dan membaca naskah Pancasila terlebih dahulu. Jadi, kami selalu memasyarakatkan Pancasila agar semua warga bisa terbiasa untuk menerapkannya,” tambahnya.

Kampungnya juga sering menjadi rujukan ketika ada kunjungan PKK dari berbagai provinsi. Karena itulah pertunjukan budaya sering diadakan di kampungnya.

“Gisikdrono kan juara nasional pola asuh anak dan remaja. Kalau mengajukan kunjungan biasanya datang ke sini untuk tinjauan. Terakhir dari Kalimantan,” akunya.

Ayah empat anak ini mengaku, uang pembinaan yang didapatkan akan digunakan untuk membangun Balai Karawitan. Tepatnya di RT 4 RW 13. Harapannya, ketika ada pentas atau akan latihan gamelan langsung bisa digunakan.

“Sekarang kan masih jadi satu sama Sasono Budoyo. Gamelannya disimpan di bawah tanah, kalau mau pentas harus mengeluarkan, dan nanti ditumpuk kembali. Ini akan merusak gamelan. Karena itu kami mau buat Balai Karawitan,” ungkapnya.

Baca juga:  Terapkan Nilai Pancasila dalam Aktivitas

Pihaknya mengaku Kampungnya sudah menjadi Kampung Tematik Seni dan Budaya, dan telah menjadi destinasi wisata. Ke depan, sarana prasarana juga akan ditingkatkan untuk menunjang daya tarik wisatawan agar banyak yang berkunjung.

“Kami selalu gotong royong untuk terus maju. Sebelumnya kami sudah menjadi desa wisata untuk Kampung Seni dan Budaya ini juga ditambah dengan Kampung Pancasila. Nah ini akan kita kolaborasikan,” katanya.

Saat koran ini berkunjung terlihat Ustadz Mahfud Anwar sedang mengajari anak-anak untuk mengaji. Ada 130 anak didiknya. Menurutnya, selain diajari ilmu agama, anak-anak juga diajarkan mengenai idelogi Pancasila. Selain itu, juga mengenai budaya tradisional dengan mengajak mereka bermain permainan tradisional. Seperti gobag sodor, lompa tali, dakon, dan sebagainya.

Ya, tujuan kita ini penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini untuk menangkal radikalisme yang mungkin saja terjadi pada anak-anak. Sekaligus kita juga mengenalkan agama, ideologi yang benar, serta nguri-nguri budaya dengan permainan budaya tradisional,” ungkapnya. (kap/aro)

 

Reporter:
Khafifah Arini Putri

Baca artikel dan berita terbaru di Google News


Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Menarik

Artikel Menarik Lainnya