Tambakrejo Tanamkan Toleransi Sejak Dini

149
KOMPAK: Lurah Tambakrejo Setyo Widiatmoko beserta warga RW 5 berfoto bersama juri Kampung Hebat. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Lurah Tambakrejo Setyo Widiatmoko beserta warga RW 5 berfoto bersama juri Kampung Hebat. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, GAYAMSARI – Warga RW 5 Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang tanamkan jiwa toleransi pada anak-anak sejak dini. Semua warga sepakat mendukung pendidikan toleransi di dalam keluarga masing-masing maupun lingkungan. Hal ini yang membuat mereka percaya diri tampil di kategori Kampung Pancasila dalam lomba Kampung Hebat 2019-2020.

Ketua RT 3 RW 5 Larjan mengatakan, warga sangat rukun dari mulai anak-anak hingga dewasa. Tidak pernah ada kasus intoleransi. “Meski di sini ada tiga pemeluk agama yang masing-masing berkembang di sini. Yakni Muslim, Kristen dan Katolik. Namun kami tidak pernah membeda-bedakan dalam hal apapun,” katanya.

Ia menambahkan, anak-anak dididik untuk menghormati satu sama lain. Orang-orang dewasa mendukung dengan memberi contoh. “Caranya dengan memberi contoh. Kami di sini membaur. Tak membeda-bedakan agama. Bahkan saat hari raya kami saling mengunjungi,” imbuhnya.

Di wilayah RW 0, ada tiga tempat ibadah yang letaknya berdekatan. Bahkan, ada gereja yang dijadikan sebagai tempat pendidikan anak-anak. “Di gereja ini waktu sore hari ada kelas untuk anak-anak. Materinya bermacam-macam. Salah satunya tentang toleransi. Semua anak, baik muslim maupun kristen boleh bergabung,” tutur Larjan.

Lurah Tambakrejo Setyo Widiatmoko menambahkan, hal tersebutlah yang membuat dirinya berani mengajukan RW 5 di kategori Kampung Pancasila. Menurutnya, kekuatan toleransi tinggi dan rasa persatuan warga RW 5 sudah menggambarkan kebhinekaan. “Paling pas memang RW 05. Tanpa dibuat-buat, warganya memang punya rasa toleransi dan persatuan yang tinggi. Bahkan dari yang masih anak-anak,” katanya.

Ia melanjutkan, tidak pernah ada kasus sedikitpun soal penodaan agama maupun intoleransi. Warga rukun dan guyub. Interaksi antar warga tak pernah menyinggung soal perbedaan agama. “Gotong royong juga jalan, tanpa memandang perbedaan agama,” jelasnya. (nra/ton)

Tinggalkan Balasan