alexametrics

Bentuk Pokdarwis Bhineka Tunggal Ika

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID,  SEMARANGKelurahan Bendungan, Kota Semarang, tonjolkan Pura Agung Giri Natha sebagai objek wisata rasa Bali dan simbol penghargaan terhadap minoritas. Hal itu sengaja dilakukan untuk persiapan lomba Kampung Hebat 2019-2020 kategori Kampung Pancasila yang dihelat Jawa Pos Radar Semarang bersama Pemerintah Kota Semarang.

Lurah Bendungan Heri Rusdijo Pramono mengungkapkan, banyak wisatawan yang sengaja datang ke sana untuk berburu foto. Terutama di sudut yang mirip pura-pura di Bali.

“Jika ke sana, orang akan mendapatkan suasana dan kesan seperti di Bali. Bangunan dan suasananya memang mirip,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Rabu (4/12).

Pihaknya sengaja mengajukan RW 03 Bendungan dalam ajang Kampung Hebat karena lingkungannya mencerminkan nilai persatuan yang terkandung dalam Pancasila. Hal tersebut tercermin dengan adanya pura, masjid, dan gereja di sana.

Baca juga:  Pemerintah Kelurahan Bendungan Dukung dan Dorong Warga Pulihkan Ekonomi

“Sejauh ini Pura Agung Giri Natha banyak dikunjungi wisatawan. Baik dari dalam maupun luar kota. Bahkan wisatawan luar negeri juga,” katanya.

Menurutnya, toleransi dan penerimaan warga terhadap kaum minoritas di RW 03 sangat tinggi. Dibuktikan dengan tak pernah adanya gejala intoleransi di sana. “Masyarakat sudah punya kesadaran menghargai kaum minoritas dan toleransi beragama. Tak pernah ada gejolak sentimen agama meski semua agama hidup di sana,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua RW 03 Sulasno mengatakan, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) RW 03 bernama Pokdarwis Bhineka Tunggal Ika. Nama itu menjadi simbol penerimaan warga pada semua suku, ras, agama, dan golongan yang ada di RW 03. “Nama itu menjadi simbol pemersatu,” tuturnya.

Baca juga:  Setiap Minggu Jual 250 Telur Asin Rempah

Ia menambahkan, aktivitas dan kegiatan di RW 03 sangat mencerminkan masyarakat  Pancasilais. Warga sangat menghargai satu sama lain meski berbeda agama. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kegiatan pertemuan antar umat beragama baik di pura, masjid, atau gereja pada saat-saat tertentu.

“Saat Idul Adha, kurban dibagikan ke semua warga baik muslim maupun non muslim. Saat gereja atau pura membagikan sembako, warga non muslim juga mendapat bagian,” pungkasnya. (nra/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya