RADARSEMARANG.ID, Fokus dan tekun, itulah perinsip yang dipegang teguh Budi Turmoko dalam mengembangkan Moko Garment Indonsia. Dari awalnya hanya usaha rumahan, kini menjadi perusahaan besar dengan ratusan karyawan.
BERMODAL uang hasil penjualan motor Vespa VBB atau dikenal Vespa Ndog buatan 1970-an, Budi Turmoko mulai membuka usahanya di bidang konveksi.
Usahanya ia mulai di salah satu ruang kamar rumahnya berukuran tiga kali tiga meter persegi.
Dari ruang itu, ia hanya memiliki dua mesin jahit dan satu mesin bordir. Mesin itu, ia beli dari uang penjualan motor kesayangannya Vespa VBB yang kala itu laku Rp 6 juta rupiah.
“Ditambah modal pinjaman dari saudara sebesar Rp 4 juta. Jadi total modal awal saya membangun usaha Rp 10 juta,” akunya.
Usaha tersebut ia kelola bersama istri tercintanya, Desi Amalia. Ia hanya melayani order pakaian seragam kerja. Tapi metode kerjanya tak jauh beda dengan penjahit rumahan pada umumnya.
Ia mulai menawarkan jasa pembuatan pakaian seragam kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Bahkan tak jarang, ia mendapatkan penolakan.
“Kalau dulu, door to door. Artinya harus datang dan ketemu langsung. Jadi setiap hari saya keliling ke perusahaan-perusahaan,” tuturnya.
Namun, penolakan dan cemooh yang didapatkannya tak membuatnya patah semangat. Malah, ia semakin termotivasi untuk bisa berhasil.
Akhirnya, ia menghubungi saudara, teman, bahkan kenalannya. Yakni untuk ikut menawarkan pakaian seragam kerja buatannya.
Hasilnya mulai ada pesanan masuk, meskipun jumlahnya tidak banyak. Tapi, dari situlah, usahanya mulai berkembang.
Tak sedikit komplain datang kepada dirinya, karena persoalan kualitas yang kurang bagus. Tapi semua komplain itu ia anggap sebagai sebuah masukan positif untuk dirinya bisa menciptakan produk yang lebih baik lagi.
Akhirnya, ayah satu anak ini mulai memesan baju seragam kerja dari luar negeri. Tujuannya untuk ia pelajari dan bandingkan kualitas bahan, jahitan, keunggulan kelemahan, dan harga.
“Saya mendapatkan pengalaman banyak yang akhirnya saya terapkan pada produk saya,” akunya.
Berkat ketekunan dan fokusnya, ia berhasil mengembangkan usahanya. Tepat 2018, ia secara resmi membangun perusahaan Moko Garment Indonesia.
Perusahaan yang memang spesialis membuat seragam kerja. terutama baju kerja safety atau wearpack.
Ia juga mulai menyasar pasar online. Malah kini, produknya mulai banyak diekspor ke berbagai negara.
“Banyak pesanan dari negara-negara di Eropa, Amerika, Uni Emirat Arab (UEA). Mereka yang memesan senang, karena bahan dan kualitas serta bentuknya modis. Itu karena saya terus membuat desain baju kerja mengikuti trend luar negeri,” paparnya.
Di balik kesuksesannya, Budi mengaku semua karena dukungan istri dan keluarganya. Terutama adiknya yang terus membantu dalam produksi dan penjualan. Selain itu doa dari kedua orang tua dan doa dari anak-anak yatim.
“Alhamdulillah, rutin setiap bulan kami selalu menyantuni anak-anak yatim,” tambahnya.
Selain mengembangkan usaha. Ia juga mengembangkan SDM karyawan. Yakni dengan mengikutsertakan dalam pelatihan marketing, menjahit dan pelatihan lainnya yang berhubungan dengan konveksi. (bud/ton)
Editor : Tasropi