alexametrics

Tetap Setia dengan Game Konsol, Tiga Hari Sekali Bersihkan Kaset

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Generasi 80-90-an pasti tak asing dengan game konsol. Jauh sebelum game online marak dan digandrungi semua orang, permainan konsol pernah menjadi primadona.

Bagi generasi millenial yang mungkin belum mengetahui apa itu game konsol, permainan ini berbasis video. Yang dapat dimainkan dengan mesin elektronik khusus. Perangkat penampil grafiknya berupa monitor televisi atau komputer, dan alat pengendaliannya berupa controller atau sering disebut joystick.

Salah satu kolektor game konsol asli Semarang Alviyan Bimatara menjelaskan secara keseluruhan ada tiga game konsol yang terkenal di dunia. Nintendo menjadi yang tertua. Dengan permainan andalan berupa Mario Bros, Pac Man, Donkey Kong, Ice Climber, Ninja Gaiden, Contra. Setelahnya ada Sega. Sonic and The Hedgehog, Mortal Combat, Street Fighter dan semua permainan jenis ding dong menjadi andalan perusahaan pabrikan yang bermarkas di Oto, Tokyo ini. Dan yang terbaru serta masih sering digunakan adalah Playstation yang diproduksi Sony.

Baca juga:  Mencari Kerang, Tenggelam di Sungai Plumbon

“Kalau Nintendo dan Saga ini masuknya jadul. Sedangkan Playstation cenderung modern karena masih sering digunakan,” ujarnya.

Pihaknya mengaku saat ini terbilang sulit menemukan dan membeli jenis game konsol. Terutama Nintendo dan Sega. Saat ini pabrikan yang membuat sudah tidak lagi produksi. Sehingga hanya ada yang bekas pakai. Dan kebanyakan dicari di pasar loak.

“Di Jepang pun yang notabene negara pembuatnya sudah tidak ada yang baru. Yang masuk toko itu juga sudah bekas namun masih bagus kualitasnya,” lanjutnya.

Untuk mendapatkan konsol, Alviyan pun harus mencari di luar Semarang. Pasalnya setelah semua pasar loak di kota ATLAS dikunjungi, ia tidak menemukan satu pun barang yang dicari. Alhasil dirinya harus ke pasar Loak di Yogyakarta, Solo, dan Salatiga untuk mencari konsol tersebut. Harga yang harus ditebus pun tidak murah. Ia harus merogoh kocek lumayan. Berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk tiap item game konsol.

Baca juga:  Merawat Sisa Kejayaan Roll Film

“Bahkan untuk konsol yang sudah langka harganya bisa jutaan. Padahal itu bekas,” tambahnya.

Tidak hanya cara mendapatkannya. Cara perawatan game konsul pun susah-susah gampang. Pria 25 tahun ini menjelaskan untuk mesin konsolnya sendiri, cenderung lebih kuat dan awet. Meskipun telah terbanting beberapa kali masih bisa menyala. Namun yang sulit adalah merawat kaset game. Tiap tiga hari sekali ia harus membersihkan dengan alkohol semua kaset miliknya. Agar dapat memunculkan permainan saat digunakan.

“Untuk konsol besar rusak masih bisa diperbaiki. Tapi kalau konsol kecil seperti gameboard rusak ya langsung dibuang. Karena elemennya kecil tidak ada yang mau menerima servicenya,” katanya.

Dengan berbagai kesulitan dan keribetan tersebut, hal ini menjadi salah satu alasan sedikit orang masih memainkan game konsol.Apalagi di tengah gempuran game online yang jauh lebih praktis. Dan dapat dimainkan tanpa berhadapan dengan lawan secara langsung.Terbukti di Semarang saja, ia hanya menemukan tiga orang yang masih menyukai game konsol termasuk dirinya “Termasuk teknisi kalau game rusak pun di Semarang hanya ada satu orang saja,” tuturnya.

Baca juga:  Tim Pemenangan Tetap Fokus Jalankan Kampanye Hendi-Ita

Meskipun begitu bukan berarti game konsol tidak seasyik game online. Menurut Alviyan game konsol tetap punya keunggulan. Baik dari sisi permainan yang ditawarkan dan sensasi saat memainkannya. Bahkan ia mengaku tiap hari selalu menyempatkan waktu untuk bermain. Dan sekalipun di handphone milikinya ia mengunduh game online yang tengah marak di masyarakat. (akm/ton/bas)

Sejumlah koleksi game konsol  berbagai merk milik Alviyan Bimatara. (Dewi Akmalah/ Jawa Pos Radar Semarang)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya