alexametrics

Mengenal Cinta lewat Mega Laura

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Bermusik adalah hal yang tidak bisa lepas dari Mega Laura. Mahasiswi Undip ini, mengaku selalu bahagia setiap melakukan sesuatu yang berhubungan dengan musik.

Entah itu menonton konser, bermain gitar, atau sekadar mendengarkan lagu dengan earphone. Baginya, musik menjadi salah satu cara untuk meningkatkan mood dan healing. Tak hanya sekadar menyukai musik, dia juga telah mengeluarkan tiga single. Pasti Saat Itu, Aku Benci Aku, dan Bandara. Seluruhnya bertema “Cinta” dengan berbagai sudut pandang, seperti kasmaran, patah hati, dan rindu.

Perempuan yang kerap disapa Ega ini mengaku, tak ada batasan tema yang harus dibuat dalam lagu-lagunya. Ia berinisiatif mengangkat tema percintaan karena lebih dekat dengan masyarakat. Cinta adalah suatu hal yang dapat dirasakan siapa pun.

Baca juga:  Renjana Cinta, Kisah Luka Cinta Masa Lalu

“Nggak ada tuntutan lagu yang dirilis harus menceritakan tentang tema apa, tapi kebetulan karena emang dunia percintaan sangat dekat hubungannya sama anak-anak muda. Jadinya aku publish lagu tentang cinta, biar relate sama pendengarku,” ujarnya.

Ega memang gemar menulis lirik lagu. Ia lakoni sejak duduk di bangku SMA. Saat itu hanya untuk kesenangan pribadi saja. Memasuki kuliah, dia mulai bertemu banyak orang sesama penikmat musik dan mulai serius dalam penulisan lirik lagu. “Selain untuk kesenangan pribadi, juga untuk ajang pembuktian diri,” katanya.

Tak disangka, kini lagu-lagunya bisa didengarkan banyak orang melalui berbagai platform musik.

Berbagai inspirasi datang dalam proses pembuatan lagu. Entah itu dari diri sendiri maupun orang terdekat. Seperti halnya ketika ia merasa patah hati, ia akan menciptakan sebuah lagu sebagai bentuk apresiasi dari kesedihannya. Tak jarang lirik lagunya terinspirasi dari curhatan beberapa teman.

Baca juga:  Passion adalah Kunci Rasa Percaya Diri

“Kalau aku lagi patah hati biasanya aku bikin lagu, buat mengekpresikan kesedihanku. Kangen sama keluarga dan sahabat juga jadi salah satu inspirasiku,” ucapnya.

Lagu-lagu keluaran Ega diproduksi Jaingrecords. Sebuah rumah produksi milik mahasiswa Undip.

Masa pandemi memang membuat musisi sepertinya tak bisa tampil secara langsung di hadapan audiens. Namun kelonggaran yang diberlakukan belum lama ini, membuatnya sedikit bernafas lega. Ega bisa lebih optimal memasarkan karyanya. “Kemarin baru aja manggung di Sattire, kebetulan kafenya lagi bikin acara musik gitu. Acaranya seru, penontonnya juga banyak,” ujarnya.

Ega percaya bahwa setiap musik punya pasar dan juga pendengarnya sendiri. Harapannya, makna lagunya bisa sampai. Para pendengar bisa merasakan emosi yang ia sampaikan lewat lagu-lagunya. (mg13/mg16/zal)

Baca juga:  Sarkasme dengan Balutan Jazz dan Funk

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya