Membawakan Musik Puisi, Banyak Berkisah Tentang Kegalauan Terhadap Sebuah Pertanyaan

Grup akustik Biscuittime saat tampil di Universitas PGRI Semarang membawakan musik puisi. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID – Biscuittime adalah satu dari sedikit grup akustik di Semarang yang mengusung konsep musik puisi. Pada mulanya, lirik dari karya musik mereka berasal dari puisi-puisi penyair ternama sebut saja Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail dan Korrie Layun Rampan.

Namun tak lama setelahnya, ketika nama Biscuittime terbentuk, mereka mulai memusikkan puisi karya penyair di Semarang. Lagu berjudul Menukar Kau Menakar Aku adalah salah satunya. Lagu yang dirilis pada tahun 2015 tersebut diambil dari puisi Arif Fitra Kurniawan.

Deska Setia Perdana, salah satu personel mengisahkan sebelum Biscuittime terbentuk, ia terlebih dahulu berproses bersama teman sesama personel Biscuittime di grup Gramophone. Di sana mereka mengenal apa itu musik puisi dan menyusun komposisi-komposisi musik untuk pertunjukkan seni.

Kemudian ia mendapatkan seorang vokalis. Setelah itulah grup yang semula bernama Biscuit itu mulai manggung dari kafe ke kafe.

Personel yang memegang instrumen gitar tersebut menjelaskan bahwa nama Biscuittime diambil untuk menggambarkan jenis musik mereka. Yakni ringan dan manis seperti biskuit.

Dalam perjalanan musiknya, hingga saat ini tercatat Biscuittime telah merilis tujuh lagu. Lagu-lagu tersebut dibungkus dengan apik dalam sebuah album bertajuk Kramagung. Masih berakar pada musik puisi, lagu-lagu di dalam album Kramagung banyak berkisah tentang kegalauan terhadap sebuah pertanyaan.

“Nama Kramagung dipilih karena diartikan sebagai semacam perjalanan kisah. Lagu-lagu di dalamnya juga punya benang merah yang sama yaitu sama-sama berisi tentang pertanyaan-pertanyaan,” tutur Deska kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (27/6/2020).

Satu hal yang menarik dari Biscuittime adalah meski erat hubungannya dengan puisi, namun grup yang beranggotakan Deska, Yongki, dan Annisa ini dalam penulisan liriknya jauh dari kata-kata mainstrem seperti senja. Menurut Deska, menjadi grup  indie tak melulu harus menggunakan kata senja atau metafora-metafora puitis lainnya. Cukup menggunakan kata-kata sederhana yang enak didengarkan.

Satu contoh yakni pada lagu Menjelma Puisi. Lagu yang diciptakan oleh Deska itu tak banyak termuat kata-kata berbelit yang sulit dimengerti. Cukup dengan kata-kata yang sederhana, diiringi oleh instrumen gitar akustik, ia berharap musik-musik Biscuittime bisa dinikmati dengan mudah oleh siapapun.

Meski saat ini sedang vakum, lagu-lagu Biscuittime dapat dinikmati di seluruh platform musik. Tak menutup kemungkinan juga kelak grup beraliran pop tersebut akan reuni untuk menghapus rindu para penggemarnya. (nor/lis/bas)





Tinggalkan Balasan