Usung Semangat Budaya Jawa, Padukan Musik Modern dan Tradisional

343
Senjalatiga Band

RADARSEMARANG.ID – Genre musik koplo remix belakangan memang begitu nge-hits. Bahkan sempat menguasai panggung hiburan Tanah Air. Termasuk dua event musik besar seperti Synchronize dan Soundrenaline. Meski 2020 ini trend musik diprediksi mengalami pergeseran. Ke arah DJ-DJan, namun hal tersebut tidak memengaruhi aliran musik yang dibawa Senjalatiga.

Ya, Senjalatiga adalah band asal Salatiga yang mengusung semangat budaya Jawa dalam bermusik. Senjalatiga sendiri kependekan dari Seniman Jalanan Kota Salatiga.

Band yang memadukan musik modern dan tradisional. Band ini terdiri dari tiga personel, yaitu Dimas Pramudana sebagai vokalis, Randall Gurusinga di bass, dan Rigar Yudistyo di gitar.

Budaya Jawa memang kental dengan band yang berdiri pada Maret 2019 ini. Selain meleburkan musik tradisional (Jawa), para personelnya pun membangun image budaya Jawa melalui pakaian Sorjan Lurik yang selalu dikenakan setiap perform. Meski baru 15 bulan terbentuk, Senjalatiga sudah menelurkan 11 lagu.

Memang, band ini berbeda dengan yang lain karena selalu mengedepankan unsur budaya dan tatanan kehidupan manusia. Band ini suka mengulik sastra Jawa, Babat dan sejenisnya. Lagu-lagu yang diciptakan sebenarnya kutipan dari wejangan-wejangan orang zaman dulu. Beberapa lagu menggunakan lirik Jawa, namun kebanyakan diolah dan di alihbahasakan ke Indonesia agar mudah diterima.

Seperti lagu berjudul Janma, yang memiliki arti manusia. Menurut Dimas, sang penulis lagu sekaligus vokalis, lagu yang berdurasi 4:38 menit ini berisikan perjalanan kehidupan manusia yang mengalami fase berputar. Sebentar senang, sebentar susah.

“Lagu ini menggambarkan kehidupan manusia. Polanya itu ya sebentar. Sebentar bahagia, sebentar berduka. Tidak ada yang abadi. Jadi manusia ya harus menikmati keduanya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Di lagu ini, lanjut Dimas, sengaja diselipkan alunan gamelan dan musik keroncong untuk memperkuat kearifan budaya Jawa. Unsur keroncong juga dimasukkan dalam lagu berjudul Sabda Hujan. Tentunya, inti keroncong yaitu cak, cuk, flot dan selo membaur. Di lagu lain, beberapa dipadukan dengan gamelan, akustik gitar, dan biola.

“Selama ini gamelan kita ngakali (mengganti) pakai teknologi. Nanti, kita arahnya akan berkolaborasi dengan gamelan orchestra,” imbunya.

Tak ketinggalan, di tengah pandemi ini Senjalatiga juga telah meluncurkan lagu yang berjudul Lekaslah Pulih Dunia. Lagi-lagi mengangkat unsur sosial. Dalam video klip lagu tersebut, Senjalatiga menggandeng berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari tukang parkir, penjual kopi, guru, tukang ojek, pejabat pemerintah, mahasiswa, dan lain-lain.

Seiring berkembangnya teknologi, Senjalatiga tidak menggunakan managemen musik, namun berkarya melalui Digital Music Platform. Saat ini tengah mengulang proses lagu ke 11 yaitu recording, mixing, mastering. Barulah bisa masuk youtube, spotify.

Saat ini tengah menggarap album yang akan diberi judul Andragogi, yang berarti pendidikan untuk orang dewasa. Pentingnya belajar hidup. Ada yang ditinggal orang tua, bekerja, menikah, dan siklus orang dewasa. Bagi Senjalatiga, hal itulah yang sangat dibutuhkan orang Indonesia. Karena banyak orang tua yang masih melakukan pedagogi.

“Sudah harus pakai nalar. Misal, kamu ingin kaya. Kaya itu akibat, nah sebabnya apa. Kerja saja gak cukup, kamu harus gemati dan setiti dengan hemat, menabung. Jangan cuma mau mengerjakan akibat saja. Itulah yang akan kita sampaikan ke masyarakat,” tandasnya. (ifa/zal/bas)





Tinggalkan Balasan