Screaming School Ajak Pendengar Berpikir Kritis

Band Screaming School saat pentas disambut euforia penonton dan penikmat musik grunge. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID – Screaming School merupakan band grunge asal Semarang yang patut diperhitungkan. Sejumlah karya band yang digawangi Jonerd Arjuno Praptowo (vokal, gitar), Ricky Hari Puspito (drummer) dan Yudha Ferry Ananta (bass) ini mengajak pendengar untuk berpikir kritis.

Tilik saja lagu “Kegiatan Belajar Menghajar”. Screaming School (ScSc) mengajak pendengar berpikir lebih jauh mengenai tindak kekerasan yang masih terjadi di dunia pendidikan. Mengenali faktor pemicunya. Hingga pada akhirnya dilemparkan pesan betapa penting bagi korban untuk memiliki keberanian, agar terhindar dari kekerasan.

Atau, pada lagu “Mangsa Pariwara”. Di single kedua tahun 2017 ini, ScSc mengajak pendengar lebih jeli dan bijak belanja. Bijak, karena band ini paham betul bahwa mustahil untuk tidak mengonsumsi produk pemenuh kebutuhan.

”Semua standar soal kebutuhan manusia meningkat terus tanpa henti. Katakan, standar kecantikan awal abad 20 pasti beda dengan abad ini. Dan standar cantik sekarang itu, nilai luhurnya produk,” ujar Jonerd – sapaan akrab Jonerd Arjuno Praptowo.

Secara pribadi, – sebagai penulis lirik- Jonerd memang ingin pendengar bisa terbiasa berpikir. Berpikir mengenai apa yang terkadang tidak terpikirkan oleh pikiran banyak orang. Meski demikian, ia pun realistis, bahwa masalah-masalah sosial, pendidikan, dan sebagainya tidak bisa selesai lewat media musik saja.

”Setidaknya saya punya peluang untuk membuat orang bisa berpikir dan bertindak sesuai dengan refleksi pikiran yang berfungsi. Walaupun satu orang saja, itu sudah berhasil menurut saya,” ujarnya saat dihubungi koran ini.

Refleksi kritis pada lagu-lagu ScSc diambil dari cara pandangnya terhadap lingkungan sosial. Sebut saja lagu ”Perbedaan”. Jonerd berpendapat, perbedaan kelas adalah keniscayaan hidup. Setara itu, tidak ada. ”Dan menghargai perbedaan sedari pikiran hingga ke manifestasi itu cuma opsi turunan dari satu keniscayaan yang bernama ketimpangan dan kesenjangan,” jelasnya.

Dengan kata lain, ia sampaikan, hidup fitrahnya memang tidak setara, berbeda, ketimpangan, dan kesenjangan. ”Jadi lagu ScSc yang “Perbedaan” itu utopis sebenarnya. Itu cuma kayak ngasih opsi berpikir dan bertindak, bahwa hal utopis bukan berarti tidak bisa diterapkan,” ujarnya.

Terhitung sudah lebih dari satu dasawarsa, band ini berkarya sejak dibentuk tahun 2005. Hingga kini, band ini sudah menelurkan 3 album. Ricky Hari Puspito hanya memiliki resep memposisikan band sebagai keluarga untuk menjaga eksistensi band ini. ”Segala yang menjadi persoalan, diselesaikan sebagaimana seharusnya sebagai keluarga,” katanya.

Di tengah pandemi, band ini tetap berupaya menghibur para pendengar dengan merilis secara digital album yang sebelumnya dirilis fisik. ”Biar makin betah di rumah,” ujar Ricky.

Sayangnya, semakin ke sini Ricky dan kawan-kawan merasa kehabisan bahan. Rekaman lagu baru pun belum bisa dilakukan, karena kendala personel yang tinggal berbeda kota. Siapa saja yang rindu moshpit bersama ScSc? (sga/ida/bas)

 





Tinggalkan Balasan