Beraktivitas dengan Sepeda Legendaris

RADARSEMARANG.ID, Semarang – PT Federal Cycle Mustika (FCM) memang memutuskan untuk tidak memproduksi sepeda Federal pada 1996 dan bubar tahun 1997. Namun siapa sangka penggemar sepeda yang bisa digunakan di segala medan tersebut masih banyak di Kota Semarang. Bahkan ada komunitasnya, Namanya Federalist Semarang.

Komunitas sepeda ini sudah berdiri sejak 6 Mei 2011. Memang cukup menarik karena anggota komunitasnya hanya memiliki 1 merek sepeda. Yakni sepeda Federal. Namun jenisnya beragam, mulai MTB, City Bike, Road Bike, sepeda anak-anak dan banyak lagi.

Menurut, Ketua Federalist Semarang Taufiq Hermansyah, merawat sepeda Federal tidak rumit layaknya sepeda umumnya. Hanya saja, karena lebih dikenal dengan sepeda yang sudah berumur sehingga harus lebih telaten merawatnya.

“Biasaya paling sering perawatan gear, perangkat rem, rantai, tekanan angin ban. Kalau onderdilnya di Semarang masih banyak dijual di toko sepeda umum, karena relatif sama dengan sepeda modern sekarang,” kata Taufiq Hermansyah, didampingi seluruh pengurus di basecampnya di Perumahan Emerlad Garden.

Bagi pemula juga tak perlu khawatir apabila ingin mengoleksi atau memiliki sepeda tersebut, harga masih sama dengan sepeda lainnya, pada kisaran harga Rp 1,5juta hingga Rp 5 juta.

(Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

“Sepeda Federal ini sudah jadi barang koleksi dan hobi. Harga tidak mengikat semua jadi kesepakatan saja, antara pembeli dan penjual, semua tergantung kondisi,” sebutnya.

Bagi komunitasnya, memiliki sepeda Federal ada kebanggaan tersendiri, karena produk dalam negeri, kemudian bisa digunakan di segala medan.

“Sekarang jadi barang antik karena sudah tidak diproduksi lagi. Ada juga pengalaman member kami, karena dulu kepengin saat zaman kecil, tapi tidak bisa beli, jadi sekarang bisa beli sendiri. Keistimewaan lainnya kalau digunakan untuk jarak jauh bisa lebih stabil,” jelasnya.

Di komunitasnya, modifikasi sepeda Federal biasanya pada bagian gear seet. Tujuannya, agar saat menanjak lebih nyaman, tarikan enteng. Termasuk gear belakang diganti.

“Ada juga modifikasi ganti cat, ukuran crank atau rotel biasanya diganti lebih kecil, jadi ditanjakan juga lebih nyaman. Kalau ban semua ikuti medan, kalau untuk touring tidak terlalu kecil, biasanya lebih besar karena untuk nahan beban,” sebutnya.

Dikatakannya, untuk medan biasa, dicari ban biasa cukup. Hanya saja, dikomunitasnya, memang lebih seringnya dibuat ban dengan medan touring karena bisa untuk segala medan. Komunitasnya juga selalu mengutamkaan safety riding. Sehingga semua sepeda sudah dilengkapi, lampu di depan dan belakang, helm, bendera penanda, sarung tangan, kacamata, jas hujan agar tidak menghambat perjalanan ketika jarak jauh.

“Termasuk kalau perjalanan jauh harus membawa tulkit atau perlatan sepeda, seperti tambal ban, ban serep dan air minum,”katanya.

Taufiq mengatakan, hal paling rutin diganti dan dikontrol pada sepeda Federal adalah bagian rem dan ban dalam. Namun semua tetap tergantung pemakaian.

“Anggota kami paling banyak sepedanya seri kucing atau seri cat. Kalau di Indonesia ini, jenis sepeda Federal total lebih dari 50 jenis,”ujarnya.

Terkait agenda di komunitasnya, lanjut Taufiq, dilakukan sebulan sekali pada hari Minggu di minggu pertama. Kegiatannya dipusatkan di Simpang Lima. Aktivitasnya gowes, silaturahmi dan bakti sosial. Ia juga bangga karena ada salah seorang member yang sudah berhasil menempuh jarak gowes sampai 1.200 Kilometer dari Semarang sampai ke Lahat, Sumatera Selatan. Adapun agenda komunitasnya di dalam kota, rute yang ditempuh sekitar 30 sampai 50 km.

“Cuma agenda gowes kami pernah ke Sangiran, Sragen, kemudian ke Tebing Bresi Jogja. Total anggota ada 150an member, tapi yang aktif 80 member,”ungkapnya.

“Kami juga menyampaikan kepada seluruh komunitas sepeda Federal di seluruh Indonesia untuk hadir dan mensukseskan kegiatan Jambore Nasional pada 3-5 Oktober 2020 di Tasikmalaya, Jawa Barat,” imbuhnya. (jks/zal/bas)

(Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)




Tinggalkan Balasan