alexametrics


Komunitas Parkour Semarang Fly to Sky: Padukan Seni Gerak, Kecepatan dan Konsentrasi

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, PARKOUR atau seni bergerak dari satu titik ke titik yang lain saat ini sedang digemari. Tak terkecuali di Kota Semarang yang saat ini memiliki komunitas parkour Semarang yang menyebut dirinya Fly to Sky.

Salah satu anggota Fly to Sky, Angguh Marco Anderty yang telah bergabung dengan komunitas sejak akhir 2014 itu mengatakan, parkour Semarang saat ini terus berkembang termasuk media yang digunakan juga cukup variatif meski belum semaju di negara asalnya, Prancis.

“Masih gerakan dasar ya, seperti jumping, balancing, footing, climbing. Media kita juga masih yang ringan, seperti pagar, tempat duduk dari semen, tembok, dan tangga,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kegiatan jamming atau hanya sekadar berkumpul rutin dilakukan. Mereka sering berkumpul dan berbagi teknik parkour sesama anggota. Latihan rutinpun dilakukan tiap hari Jumat selepas maghrib.

Mereka terbiasa berlatih di GOR Tri Lomba Juang. Kadang juga berlatih di Taman Indonesia Kaya. Anggota baru yang bergabung rata-rata mengetahui informasi parkour dari media sosial. Saat ini, anggota yang sudah bergabung berjumlah 50-an. Latar belakang mereka beragam, seperti mahasiwa, remaja, dan bahkan yang sudah berumah tangga.

“Macam-macam, ada juga yang masih SD menjadi anggota. Gerakan juga masih mudah dan dasarnya saja. Ada juga yang sudah bekerja dan berumah tangga, banyak yang tergabung,” ucap anggota sekaligus humas parkour semarang tersebut.

Menurutnya, hal positif yang didapat dari parkour adalah cekatan dan cepat merespon sesuatu. Mereka dilatih untuk tangkas, sigap dan cepat berpindah.

Muhammad Panca, anggota parkour yuang bergabung sejak tahun 2015 menambahkan, baginya, bergabung dengan komunitas Parkour Semarang memiliki banyak manfaat. “Dulu saya itu takut ketinggian, akhirnya disini dilatih mental juga. Alhamdulillah sekarang sudah tidak takut ketinggian,” jelas laki-laki 21 tahun tersebut.

Ia juga bisa menambahkan, semua media bisa digunakan tergantung kreativitas saja. Misalnya ada tembok, tempat duduk dari semen, pagar rumah bisa digunakan untuk lompat.Namun, obstacle yang ada saat ini belum memadai. Angguh berharap pemerintah kota menyediakan tempat yang luas layaknya tanah lapang. “Inginnya ada tempat yang luas biar sekaligus untuk tempat berlatih dan berkumpul semua anggota,” jelasnya. (Alvi Nur Janah/bas)

Terbaru

Populer