RADARSEMARANG.ID - Siapa yang tidak mengenal ayam geprek? hidangan ini merupakan menu berbahan ayam andalan semua masyarakat.
Harganya yang murah dan mudahnya akses dalam mencari menu ini menjadikan menu ini sebagai hidangan rakyat yang menjangkau semua kalangan.
Kisaran per porsi hanya Rp 10.000 hingga termahal paling 15.000 tergantung dimana letak warung si penjual dan mengikuti harga pasaran daerah tersebut.
Pembuatan ayam geprek sangatlah mudah, yakni ayam tepung yang sudah digoreng lalu diberi sambal yang didalamnya berisi bawang, garam, cabai lau diulek menjadi satu dengan ayam tersebut.
Untuk pembeli, kita bisa request terkait kadar kepedasan yang akan kita pesan, kita bisa meminta penjual memberi cabai tergantung dengan pesanan kita.
Menu ini sangatlah populer dan menjamur dimana-mana. Tapi pernahkah kita berpikir bagaimana hidangan ini bisa merebak seperti sekarang ini?
Dilansir akun TikTok @semlidut, menu ayam geprek berasal dari sebuah warung makan sederhana milik Bu Rum di Jogjakarta.
Awalnya warung Bu Rum sendiri menjual berbagai jenis makanan, ada soto, ayam lalu berbagai jenis sayur dan lauk pauk.
Terapi suatu hari ada ada seorang pemuda bernama Mas Andri asal Kudus yang meminta Bu Rum untuk membuatkan sambal bawang yang ditumbukkan ke ayam goreng tepung, persis seperti menu yang sekarang kita kenal sebagai ayam geprek.
Lalu banyak orang yang melihat menu tersebut lalu bertanya makanan apa yang sedang Bu Rum sajikan.
Mereka tertarik dan ikut mencoba menu baru yang baru saja dicetuskan ini, awalnya banyak yang menamakan menu ini sebagai ayam gejrot hingga ayam ulek.
Lalu dengan inisiatifnya sendiri, Bu Rum menamakan menu ini sebagai ayam geprek "Yaudah aku namakan saja ayam geprek, soalnya ayam penyet udah banyak gitu" ujar Bu Rum via VT TikTok @semlidut.
Mengenai bisnis kuliner ayam geprek yang sudah menjamur, Sebagai pelopor, Bu Rum menyatakan tidak bermasalah dengan banyak orang yang menggunakan resep makanan yang tidak sengaja ia temukan.
" Kalau masalah saingan, saya nggak kepikiran begitu kok. Itu kan sudah diatur rezeki masing-masing oleh Allah SWT, jadi saya lillahi ta ala saja" ujar Bu Rum.
Bu Rum tidak pikir pusing terkait hal tersebut, baginya yang lebih penting adalah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bisa menggaji beberapa karyawan yang ia pekerjakan. (*/bas)
Editor : Baskoro Septiadi