RADARSEMARANG.ID, Semarang — Menjadi dosen merupakan profesi yang mulia dan berperan penting dalam membentuk generasi penerus bangsa.
Namun, isu kesejahteraan dosen, khususnya terkait gaji, kerap menjadi perbincangan hangat.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kendala pencairan tunjangan, baca artikel ini.
Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai gaji dosen di Indonesia pada tahun 2025, baik dosen ASN di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun dosen di Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Analisis komparatif, tantangan, serta solusi untuk meningkatkan kesejahteraan dosen juga akan dibahas.
Gaji Dosen ASN
Gaji dosen ASN diatur oleh pemerintah berdasarkan golongan dan masa kerja.
Semakin tinggi golongan dan masa kerja, semakin besar pula gaji pokok yang diterima.
Selain gaji pokok, dosen ASN juga berhak atas berbagai tunjangan, seperti tunjangan profesi, tunjangan keluarga, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan tunjangan jabatan struktural.
Berikut rincian gaji pokok dosen ASN berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2024:
Golongan III (Lulusan S2):
IIIa: Rp2.785.700 – Rp4.575.200
IIIb: Rp2.903.600 – Rp4.768.800
IIIc: Rp3.026.400 – Rp4.970.500
IIId: Rp3.154.400 – Rp5.180.700
Golongan IV (Lulusan S3):
IVa: Rp3.287.800 – Rp5.399.900
IVb: Rp3.426.900 – Rp5.628.300
IVc: Rp3.571.900 – Rp5.866.400
IVd: Rp3.723.000 – Rp6.114.500
IVe: Rp3.880.400 – Rp6.373.200
Tunjangan Dosen ASN:
Tunjangan profesi diberikan sebesar satu kali gaji pokok bagi dosen yang telah tersertifikasi.
Tunjangan khusus diberikan kepada dosen yang bertugas di daerah khusus.
Dosen dengan jabatan profesor berhak atas tunjangan kehormatan.
Selain itu, terdapat tunjangan jabatan struktural bagi dosen yang menjabat sebagai rektor, dekan, dan sebagainya.
Besaran tunjangan ini bervariasi tergantung jabatan dan peraturan yang berlaku.
Gaji Dosen Swasta
Berbeda dengan dosen ASN, gaji dosen swasta lebih dinamis dan ditentukan oleh kebijakan masing-masing PTS.
Beberapa PTS menerapkan sistem pembayaran berdasarkan SKS yang diajarkan, sementara yang lain memberikan gaji tetap bulanan.
Hal ini menyebabkan variasi gaji yang cukup signifikan antar PTS.
Beberapa faktor yang memengaruhi gaji dosen swasta antara lain:
- Reputasi dan akreditasi PTS
- Tingkat pendidikan dan pengalaman dosen
- Jabatan fungsional dan beban kerja
- Lokasi PTS dan UMR setempat
Sistem penggajian berbasis SKS dapat menimbulkan ketidakpastian finansial bagi dosen swasta, terutama jika jumlah SKS yang diajarkan fluktuatif.
Ketidakjelasan jenjang karir dan minimnya tunjangan di beberapa PTS juga menjadi tantangan tersendiri bagi dosen swasta.
Tuntutan Tukin untuk Dosen PNS
Pada Senin (3/2) nanti, dosen berstatus ASN di bawah Kemendiktisaintek akan menuntut hak atas tukin.
Pihak aliansi dosen menjelaskan, sebenarnya hak atas tukin sudah termaktub dalam Undang-Undang ASN yang terbit tahun 2014, namun dosen dari Kemdikbud (kini dosen di bawah Kemdiktisaintek) tidak pernah mendapatkannya.
“Kami tidak meminta belas kasihan tapi kami menuntut hak kami yang telah tertunda selama 5 tahun!” kata Kooordinator Nasional Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek Seluruh Indonesia (ADAKSI), Anggun Gunawan
Anggun membagikan lampiran Keputusan Mendikbudristek Nomor 447/P/2024 yang memuat besaran tukin untuk dosen ASN yang seharusnya dibayarkan.
Ada sejumlah variasi besaran tukin.
- Untuk jabatan asisten ahli dengan kelas jabatan 9, besaran tukin adalah Rp 5.079.200,00.
- Untuk jenjang jabatan lektor dengan kelas jabatan 11, besaran tukin adalah Rp 8.757.600,00.
- Untuk lektor kepala dengan kelas jabatan 13, besaran tukin Rp 10.936.000,00.
- Untuk profesor dengan kelas jabatan 15, besaran tukin adalah Rp 19.280.000,00.
“Aturannya ada, tapi nggak pernah dibayarkan,” ujar Anggun.
Anggun memberikan ilustrasi mengenai duit yang diterima seorang dosen.
Untuk dosen CPNS, uang yang dia terima adalah sekitar Rp 2,9 juta.
Dosen yang sudah berstatus PNS atau ASN penuh tapi masih bujangan biasanya menerima gaji Rp 3,3 juta.
Apabila si dosen ASN tersebut mendapat tunjangan keluarga (tunjangan untuk anak dan istri) dan tunjangan lainnya maka total take home pay yang didapat dosen ASN itu adalah sekitar Rp 4 juga sampai Rp 5 juta.
Tunjangan keluarga, tunjangan beras-pangan, tunjangan hari tua, dan tunjangan jabatan akademik disebutnya bernominal tidak seberapa.
Tunjangan istri sekitar 10% dari gaji pokok, tunjangan anak 5% dari gaji pokok.
“Gaji pokok dari Rp 2,3 juta sampai Rp 4 juta yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Uang beras cuma Rp 70-100 ribuan.
Tunjangan jabatan fungsional itu asisten ahli cuma Rp 375 ribu, profesor cuma Rp 1,3 juta,” ujar Anggun.
Total remunerasi mencakup gaji dan tunjangan-tunjangan lebih besar lagi apabila si dosen ASN ini mendapat sertifikasi dosen atau ‘serdos’, hal yang bisa didapat dosen setelah beberapa tahun bekerja dengan kuota serdos yang terbatas tiap tahun.
Dia bisa dapat tunjangan serdos sebesar 1x gaji.
Bila dosen ASN itu dapat serdos maka total take home pay bisa lumayan, sekitar Rp 7 juta.
Namun tidak semua dosen mendapat total take home pay sebesar itu.
Baca Juga: Aplikasi Terbaru Ruang GTK Pengganti PMM Platform Merdeka Mengajar, Tenaga Pendidik Wajib Tahu
Terdapat kesenjangan yang cukup jelas antara gaji dan tunjangan dosen ASN dan dosen swasta.
Dosen ASN memiliki pendapatan yang lebih stabil dan terjamin, sementara dosen swasta menghadapi dinamika dan tantangan yang lebih besar.
Kesenjangan ini perlu diatasi untuk menciptakan iklim pendidikan yang lebih adil dan merata.
Beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan kesejahteraan dosen di Indonesia antara lain:
Standarisasi Gaji Dosen Swasta: Pemerintah dapat mendorong standarisasi gaji minimum dosen swasta berdasarkan kualifikasi dan pengalaman, mengacu pada UMR dan standar nasional pendidikan.
Peningkatan Transparansi: Transparansi informasi mengenai gaji, tunjangan, dan sistem penggajian di PTN dan PTS perlu ditingkatkan.
Insentif dan Reward: Pemberian insentif dan reward bagi dosen yang berprestasi, baik di bidang pengajaran maupun penelitian, dapat meningkatkan motivasi dan kualitas dosen.
Pengembangan Karir: Membuka jalur karir yang jelas dan terstruktur bagi dosen swasta, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kesejahteraan.
Peningkatan Anggaran Pendidikan: Investasi yang lebih besar dalam sektor pendidikan, termasuk peningkatan gaji dan tunjangan dosen, merupakan langkah krusial untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Meningkatkan kesejahteraan dosen merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Dosen yang sejahtera dan berkualitas akan menghasilkan lulusan yang kompeten dan mampu bersaing di era global.
Kolaborasi antara pemerintah, PTS, dan stakeholders lainnya sangat penting untuk mewujudkan tujuan mulia ini. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi