alexametrics

Bisnis Kain Ecoprint Mulai Menggeliat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tren ramah lingkungan semakin merambah dunia busana dan menjadi ladang bisnis. Salah satunya bisnis wastra atau kain-kain berpewarna alam yang dilakukan Hartati Tri Arini, 58. Bahkan selama pandemi Covid-19, ia terus memproduksi wastra untuk para pelanggannya.

Wastra atau kain ecoprint ini menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Hal itu ditekuni Hartati, pemilik butik La Romiz Etnik di Banyumanik, Kota Semarang. Ia memanfaatkan dedaunan, batang kayu, serta bunga sebagai motif di kainnya. Selain itu, sisa dedaunan yang telah digunakan juga dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

“Selain unik, wastra ecoprint ini juga ramah lingkungan. Karena hanya memanfaatkan tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan. Tidak ada limbah juga,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang Senin (8/11).

Baca juga:  Sinergi Percepat Digitalisasi Daerah, Bank Indonesia dan Pemda Bentuk TP2DD

Saat koran ini berkunjung, terlihat beberapa mahasiswa sedang mengukus kain. Ada juga pengunjung yang sibuk memilih-milih wastra untuk diborongnya.

Arini-sapaan akrabnya-menceritakan, keahliannya dalam membuat wastra ecoprint ini diperoleh secara otodidak. Ia sering penasaran dengan hal-hal baru. Kemudian ia bereksperimen dengan rasa penasarannya itu. Hingga saat ini, setidaknya ada 12 warna wastra yang berhasil ia ciptakan.

“Kan saya suka menanam juga. Jadi semua bahan pewarna ya saya ambil berasal dari kebun saya,” ujarnya sambil mengajak koran ini berkeliling di butiknya.

Bisnis wastra ecoprint sejak 2016 ini, ternyata memiliki pangsa pasar tersendiri. Salah satu produk tas ecoprint milik Arini, telah sampai ke pasaran Inggris. Harganya mulai dari Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah. Saat ini, produk yang paling laris miliknya adalah cardigan dan outer. Itu digemari remaja dan ibu-ibu sebagai luaran busana.

Baca juga:  Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional Masih Cukup Tinggi

“Produknya limited edition. Sekali produksi hanya bisa menghasilkan satu motif maka harganya juga memengaruhi. Motif di satu kain wastra ini adalah satu-satunya motif yang ada di dunia,” terangnya sambil menunjukkan wastra hasil produksinya.

Selama pandemi, Arini giat menanam tumbuhan yang bisa dimanfaatkannya sebagai motif wastra. Biasanya, ia menggunakan daun jati, daun wortel, daun lanang, hingga batang secang. Ia juga pilih-pilih terhadap tumbuhan yang akan dijadikannya motif. “Saya mencari tumbuhan yang sekiranya bisa menghasilkan warna bagus untuk wastra,” tandasnya.

Salah satu pelanggan butik La Romiz, Arisani, 42, mengaku jika wastra ecoprint ini memiliki sisi art yang limit. Ia juga telah mengoleksi beberapa wastra ecoprint di rumahnya. Ia berharap, agar generasi muda ikut serta mempopulerkan wastra ini. “Saya ingin, wastra ini bisa populer. Apalagi pembuatannya benar-benar ramah lingkungan,” harapnya. (dev/ida)

Baca juga:  Santri Harus Mandiri dan Bermanfaat

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya