alexametrics

Modal Tidak Banyak, Jualan Online Lebih Menjanjikan Keuntungan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Era digital sekarang ini semakin menjamur usaha perorangan dengan cara online. Bahkan lebih tangguh di tengah pandemi Covid-19 yang banyak merontokkan sendi-sendi perekonomian.

Adalah Rifiana Kartika Sari. Perempuan yang bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Ngaliyan ini sebenarnya sudah menekuni usaha jualan sejak tahun 2011 silam. Kala itu, hanya jualan baju dengan membuka toko di wilayah Boja, Kabupaten Kendal.

“Ketika itu masih secara offline. Namanya jualan, omzet naik turun. Nah, pas pandemi Covid-19, penjualan mengalami penurunan sangat drastis. Sehari kadang cuma dapat penjualan Rp 35 ribu,” katanya.

Pandemi Covid-19 menjadi pukulan telak bagi usaha Rifiana. Berbulan-bulan, omzet yang diperoleh tak mampu menutup modal. Bahkan merusak perekonomian rumah tangganya. Mau tak mau, perempuan kelahiran Kendal, 20 Juni 1990 ini harus memutar otak untuk mengembangkan usahanya agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Kalau mempertahankan penjualan baju tidak mungkin. Pikiran saya, pandemi Covid-19 tidak mungkin orang belanja-belanja baju. Saya mikir lama, enaknya jualan apa,” jelasnya.

Suatu ketika, Rifiana bersama keluarga dan adiknya jalan-jalan ke wilayah Bandungan, Kabupaten Semarang. Tanpa sengaja melihat petani yang sedang berada di persawahan dan sibuk panen sayuran.

Baca juga:  Warga Berebut Gunungan Ingkung di Gerebek Sura Pasar Peterongan

“Sengaja saya samperin, tanya-tanya, dan harganya murah-murah. Sampai rumah saya berpikir keras. Kalau jualan sayur offline, kan harus menunggu pembeli. Kenapa tidak jualan sayur secara online? Kalau jualan online kan berdasarkan orang pesan barang saja. Kemungkinan rugi banyak tidak ada, ya paling sedikit. Jadi enggak terlalu risiko,” bebernya.

Hingga akhirnya, Rifiana nekat menyalurkan idenya membuka usaha online ‘Pasar Online Semarang’ dengan barang yang dipromosikan berupa sayur-sayuran. Kala itu awal tahun 2020. Awalnya, harus promosi dan sosialisasi melalui gambar-gambar sayuran melalui media sosial.

“Pertama jualan tidak laku. Tapi masih terus melakukan promosi lewat medos. WA, FB, market place, Sophie, Tokopedia. Ada foto dan harga-harganya. Saya juga sampaikan, pesan dulu, kirim orderannya besok paginya. Kirim lewat ojek online (ojol),” katanya.

Upaya dan usaha tersebut pun tak sia-sia dan berjalan sampai sekarang. Sedangkan selain modal uang dan barang, jualan online yang dilakukan hanya dengan menggunakan handphone, lebih praktis. Modal juga tidak banyak.

“Handphone tetap standby. Cuma orderan saya batasi, maksimal order sampai pukul 22.00, close. Mulai terima orderan lagi pukul 06.00 pagi. Rutin setiap hari seperti itu,” bebernya.

Baca juga:  Dukung World Superbike dan MotoGP, Telkom Bangun Infrastruktur ICT dan Konektivitas Kelas Dunia

Menurutnya, sayuran yang dipromosikan dari semua jenis. Sayuran yang diambil dari petani di daerah Limbangan, Kabupaten Kendal. Kebetulan, lokasi tersebut berdekatan dengan tempat tinggalnya di Boja.

“Banyak yang kenal dan malah akhirnya menawarkan juga. Makanya sekarang keterusan, malah enak gini, dibantu suami, adik, dan tetangga. Kalau jualan sayur, sementara ini masih hanya Semarang dan sekitarnya saja,” jelasnya.

Usaha yang dirintis ini, sekarang sudah menyediakan item buah-buahan. Bahkan, merambah ke penjualan ikan dan daging segar. Termasuk kebutuhan sembako. “Kalau ikan mengambilnya dari Pasar Rejomulyo. Malam ambil barang, paginya kirim pesanan pelanggan,” katanya.

Penjualan secara online, Rifiana lebih mempercayai pelanggannya. Dalam artian, uang yang diterima dengan cara transfer, setelah barang orderan sampai ke tangan pemesan.

“Saya percaya sama customer. Kalau mau customer bohong, ya memang bukan rezeki saya. Itung-itung memberi ke orang lain. Meski begitu, sejauh ini belum pernah ada yang membohongi. Malah banyak pelanggan yang maunya kirim uang dulu, baru kirim pesanan. Tapi saya gak mau. Saya lebih percaya pelanggan,” jelasnya.

Baca juga:  Dewan Minta Pengawasan Parkir Elektronik Diperketat

Rifiana membeberkan, omzet penjualan baju sebelum pandemi Covid-19, tembus mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Pelanggannya dan pengiriman barang hingga Papua, NTT, dan Kalimantan. Sedangkan barang yang diambil untuk dijual dari daerah Jakarta.

“Jualanku kan grosir. Ambilnya porsi banyak. Minimal lima biji. Sebenarnya ambil satuan juga bisa. Kalau penjualan sayuran, sehari profitnya Rp 100 ribu labanya. Kalau sekarang hampir stabil Rp 15 juta perbulan. Kalau pas Covid-19 meninggi kemarin bisa tembus Rp 25 juta,” bebernya.

Sekarang ini, pihaknya masih fokus pengembangan penjualan sembako. Menurutnya, keuntungan yang diperoleh juga lumayan banyak. Sebab, setiap hari sembako lebih dibutuhkan masyarakat.

“Inginnya saya punya kantor untuk pemasaran. Pelan-pelan, sambil jalan, nabung untuk tambah modal. Kalau jualan baju sama sayuran, labanya lebih besar yang jualan sayuran. Kalau bahan pokok, memang modalnya besar,” ujarnya.

Menurutnya, tak mengalami kendala dalam menekuni bisnis online. Bahkan, setelah dikenal banyak orang, justru mendapatkan tawaran kerjasama. “Kendalanya selama ini paling cuma alamat tidak sesuai. Selebihnya ya enak-enak saja. Banyak yang mengajak kerjasama, perorangan. Tapi masih pikir-pikir dulu,” pungkasnya. (mha/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya