Jaga Stabilitas Rupiah, BNI-BI Sosialisasikan DNDF

120
SOSIALISASI: Direktur Tresuri dan Internasional BNI Bob Tyasika Ananta (tengah), Direktur Pengembangan Pasar Bank Indonesia,Yoga Affandi (tiga dari kiri), Chief Economist BNI, Ryan Kiryono (tiga dari kanan) dan Head Regional Coverage Treasury Sales Divisi Treasuri BNI, Fayadri (dua dari kiri) di PO Hotel Semarang kemarin. (ist)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk menggelar Economic Outlook 2020 untuk memaparkan kondisi ekonomi global dan domestik terkini. Economic Outlook 2020 mengangkat tema dan isu yang berkembang saat ini serta kebijakan-kebijakan baru dari Bank Indonesia yang berpengaruh pada bisnis pelaku usaha. Tema yang diangkat pada acara yang digelar di di PO Hotel Semarang, Selasa (29/10) kemarin adalah Sosialisasi Transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Acara Gathering dibuka oleh Direktur Tresuri dan Internasional BNI Bob Tyasika Ananta, dihadiri oleh 25 nasabah korporasi se Jawa tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta yang antusias mendengarkan penjelasan dana narasumber yaitu Direktur Pengembangan Pasar Bank Indonesia,Yoga Affandi yang memaparkan materi tansaksi DNDF.

Selain itu materi mengenai kondisi ekonomi makro dibawakan oleh Chief Economist BNI, Ryan Kiryono. Dan materi mekanisme transaksi DNDF disampaikan oleh Head Regional Coverage Treasury Sales Divisi Treasuri BNI, Fayadri.

Direktur Pengembangan Pasar Bank Indonesia, Yoga Affandi menuturkan DNDF merupakan transaksi derivatif valuta asing (valas) terhadap rupiah yang standar (plain vanilla), berupa transaksi forward dengan mekanisme fixing, yang dilakukan di pasar domestik. Transaksi tersebut merupakan salah satu langkah dari pihaknya untuk memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dengan melakukan relaksasi terkait ketentuan dokumen underying pada Kuartal II tahun 2019, pihaknya telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 21/7/PBI/2019 yang merelaksasi ketentuan sebelumnya. Yakni nasabah atau pihak asing penjual valas sampai nominal tertentu tidak perlu menyampaikan dokumen underlying kepada bank jika menggunakan transaksi DNDF.

“Program ini diluncurkan pada akhir 2018 lalu. Dengan mekanisme transaksi DNDF, nasabah atau pihak asing penjual valuta asing sampai nominal tertentu tidak perlu menyampaikan dokumen underlying kepada bank. Dokumen underlying yang bersifat perkiraan tersebut dapat digunakan untuk transaksi di atas nominal tertentu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Tresuri dan Internasional BNI, Bob Tyasika Ananta mengungkapkan pihaknya berkomitmen turut serta dalam menjaga stablitas nilai rupiah. Dan salah satu upaya yang dilakukan pihaknya yakni memberikan dukungan kepada BI sekaligus turut serta mensosialisasikan dan memasarkan transaksi DNDF. Dirinya berharap dengan upaya yang dilakukan diatas, produk tersebut lebih dimanfaatkan para pelaku pasar. Termasuk diantaranya adalah eksportir yang menjadi nasabah BNI.

“Salah stau program BNI dalam mendukung aktifnya transaksi DNDF ini adalah dengan mengangkat tema pada Event Economic Outlook 2020 dan Costumer Gathering yang diadakan oleh BNI,” ujarnya.

BNI mencatat peningkatan volume transaksi valuta asing dengan nasabah sebesar 14,04 persen year on year (yoy) pada tahun 2018. Begitu juga transaksi lindung nilai (hedging) dengan nasabah BNO pada tahun 2018 meningkat 27,53 persen yoy. (*)