RADARSEMARANG.ID, Semarang - Perjalanan hidup Annisa Firdauzi, S.P., M.P., adalah kisah tentang keteguhan, kegigihan, dan keyakinan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.
Perempuan kelahiran Malang ini pernah ditolak 11 kali saat mendaftar kuliah. Namun ia tidak menyerah.
Pada kesempatan ke-12, ia akhirnya diterima di Universitas Brawijaya (UB) lewat jalur mandiri. Dari sanalah langkahnya menuju dunia pendidikan dan pertanian berkelanjutan dimulai.
"Aku itu awalnya ingin kuliah di jurusan teknik, tapi 11 kali mencoba gagal. Akhirnya saya murung di kamar, dan diam-diam mama saya masukin form pendaftaran kuliah mandiri di UB, dimasukin form itu dari celah pintu bawah kamar lengkap dengan jadwal dan jam ujian. Akhrinya keterima lah saya di Agribisnis," jelasnya.
Annisa, sapaan akrabnya, mengaku menjadi mahasiswa dengan jalur mandiri tak mudah. Ia pernah mendapat celaan dari temannya.
Katanya, mahasiswa mandiri tak bisa mendapatkan beasiswa. Namun perkataan itu dipatahkannya. Dengan usaha keras, Annisa justru menjadi salah satu penerima National Champion Scholarship (NCS) dari Tanoto Foundation, beasiswa prestisius yang kini dikenal sebagai Beasiswa TELADAN. Program ini tidak hanya mendukung biaya pendidikan, tetapi juga membentuk kepemimpinan dan karakter para penerimanya.
"Dulu banyak yang bilang anak jalur mandiri tidak akan bisa dapat beasiswa. Tapi justru saya ingin membuktikan sebaliknya,” ujarnya.
Perempuan 28 tahun ini menyebut Beasiswa TELADAN tidak hanya menanggung biaya pendidikan. Di dalamnya, ia mendapat pelatihan soft skill dan hard skill berupa kepemimpinan, career preparation, komunikasi, manajemen diri, hingga kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.
“Tanoto Foundation memberi saya lebih dari sekadar beasiswa. Saya belajar bagaimana menjadi pemimpin yang berintegritas, berpikir visioner, dan mau turun langsung untuk membantu orang lain,” ungkapnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Annisa adalah ketika ia dan rekan-rekannya menjalankan proyek sosial di Malang pada 2017 lalu. Mereka membangun perpustakaan mini di kawasan pesisir, mengajar anak-anak membaca, hingga memberi edukasi kesehatan seperti cara menyikat gigi yang benar.
“Kami ingin anak-anak pesisir punya akses literasi yang lebih baik. Dari sana saya belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil, asal dilakukan bersama,” akunya.
Program magang dari Beasiswa TELADAN juga membuka jalan Annisa untuk magang di perusahaan ternama di daerah Riau. Ia ditempatkan di bagian Learning and Development, bekerja di tengah lingkungan perkebunan eukaliptus dan fasilitas pelatihan karyawan.
“Itu pengalaman tak terlupakan. Selama seminggu saya tinggal di site tanpa sinyal, hanya bersama para pekerja baru. Dari situ saya belajar disiplin, kerja keras, dan arti bertahan dalam kondisi apa pun,” katanya sambil tertawa.
Dari berbagai pengalaman itulah, cara pandang Annisa berubah. Ia tak lagi memandang pendidikan hanya sebagai tiket karier, tapi sebagai jalan pengabdian. Ia mulai aktif di kegiatan sosial, turun ke masyarakat, dan terlibat dalam berbagai proyek yang memberi manfaat nyata.
Ilmu yang diberikan dari Beasiwa TELADAN benar-benar ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan maupun ketika bersosialisasi dengan masyarakat.
“Saya sadar, ilmu itu tidak berhenti di kelas. Ilmu harus turun ke lapangan dan dirasakan manfaatnya,” katanya.
Usai lulus S1 dengan IPK 3,82 hanya dalam waktu 3,5 tahun, Annisa langsung melanjutkan studi S2. Ia bahkan mendapat pendanaan Rp35 juta pada tahun 2019. Dana itu berasal dari Kementerian Pertanian melalui program Wirausaha Muda Pertanian untuk membangun greenhouse. Ia juga membuka toko pertanian kecil bernama My Farm.
Pandemi sempat mengubah arah bisnisnya, tetapi semangatnya untuk mengabdi tidak pernah padam. Kini, sebagai dosen di Universitas Diponegoro, Annisa aktif menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.
Baginya, menjadi dosen bukan sekadar mengajar teori di ruang kelas. Ia ingin membawa mahasiswa ikut terjun langsung ke masyarakat.
Salah satu langkah nyatanya adalah mendampingi petani sayur di kawasan Gedongsongo, Kabupaten Semarang. Bersama mahasiswanya, ia membantu petani menyusun catatan keuangan sederhana agar lebih mudah menghitung biaya produksi dan keuntungan usaha tani.
“Selama ini banyak petani yang tidak tahu pasti berapa biaya yang mereka keluarkan. Setelah kita bantu, mereka mulai paham manajemen keuangan sederhana,” bebernya.
Tak berhenti di situ, Annisa juga mengajak petani memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk organik. Ia ingin petani lebih mandiri dan tidak terus bergantung pada pupuk kimia.
"Saya ingin petani tidak hanya produktif, tapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tuturnya.
Sebagai pendidik muda, Annisa juga ingin menumbuhkan ketertarikan anak muda terhadap dunia pertanian. Ia tahu, generasi Z sering memandang pertanian sebagai bidang yang kuno dan tidak menjanjikan. Karena itu, ia mencoba pendekatan baru, pertanian digital dan modern.
“Gen Z itu ingin tahu hasilnya, impact-nya. Kalau dikenalkan lewat konsep modern seperti hidroponik, smart farming, atau sensor IoT, mereka jadi tertarik,” jelasnya.
Ia membuktikannya lewat penelitian melon hidroponik di berbagai wilayah Jawa Tengah dengan melibatkan sekitar 25–30 mahasiswa sebagai enumerator penelitian.
“Awalnya mereka (mahasiswa) menganggap pertanian itu membosankan. Tapi setelah terjun langsung ke greenhouse, melihat otomatisasi penyiraman dan hasil panen yang bagus, mereka jadi antusias. Mereka bilang, ternyata pertanian itu keren,” cerita Annisa.
Menurutnya, pengalaman langsung seperti itu penting untuk menumbuhkan regenerasi petani di masa depan.
“Kalau anak muda sudah kenal teknologi dan lihat potensi hasilnya, mereka akan percaya diri untuk turun ke pertanian. Dari situ regenerasi bisa terjadi,” tegasnya.
Selain mengajar, Annisa kini tengah mengembangkan riset bertema livelihood sustainability atau keberlanjutan mata pencaharian petani di pelosok Indonesia. Ia ingin hasil penelitiannya tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi juga bisa menjadi masukan bagi kebijakan pemerintah.
“Saya berharap hasil riset bisa dikolaborasikan dengan Kementerian Pertanian. Jadi tidak hanya berhenti di kampus, tapi bisa diterapkan langsung dan membantu masyarakat,” tegasnya.
Cita-cita besarnya sederhana tapi kuat, menjadikan ilmunya bermanfaat seluas mungkin. Selain riset, Annisa terus mencari topik pengabdian yang benar-benar dibutuhkan banyak orang. Khususnya yang relevan dengan bidang agribisnis.
“Agribisnis itu lebih ke manajerial, jadi tantangannya bagaimana membawa ilmu itu ke masyarakat agar bisa langsung membantu mereka. Saya masih terus memetakan bentuk pengabdian jangka panjang yang bisa benar-benar berdampak,” ungkapnya.
Annisa adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dukungan keluarga menjadi pendorong terbesar dalam setiap langkahnya. Ia tumbuh di keluarga sederhana yang menjunjung tinggi pendidikan dan kerja keras.
Ia pun mengaku akan terus menjalankan riset tentang pertanian berkelanjutan. Ia berharap ke depan generasi muda bisa terjun langsung untuk menjadi petani dengan memanfaatkan teknologi modern.
"Jadi harapannya anak-anak muda sekarang karena udah di era digital jadi bisa lebih mengenal pertanian itu dengan digitalisasi yang ada dengan begitu regenerasi petani kita akan bisa bangkit lagi," pungkasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi