Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Jagong Sejarah Demak, Bahas Dewan Walisongo hingga Perlunya Revisi Hari Jadi Demak

Wahib Pribadi • Senin, 9 Februari 2026 | 19:04 WIB
1.Narasumber peneliti sejarah Demak Aka Hasan bersama Edi Suntoro dalam jagong sejarah dirumah H Marwan Desa Kangkung Kecamatan Mranggen Demak
1.Narasumber peneliti sejarah Demak Aka Hasan bersama Edi Suntoro dalam jagong sejarah dirumah H Marwan Desa Kangkung Kecamatan Mranggen Demak

 

RADAR SEMARANG.ID, DEMAK-Menelisik sejarah Demak sebagai Kota Wali hingga kini terus dilakukan para peneliti maupun pemerhati sejarah.

Termasuk yang dilakukan oleh Masyarakat Pemerhati Sejarah Demak (MPSD) bersama Forum Kajian Sejarah Kerajaan Demak Bintoro dan Walisongo (FKSKDBWS).

Yang dibahas soal Dewan Walisongo hingga perlunya revisi Hari Jadi Demak.

Demak memiliki jalan sejarah yang panjang. Keberadaan Dewan Walisongo yang diyakini sebagai pendiri Kerajaan Demak Bintoro merupakan bagian penting dari sejarah itu.  

Hal ini mengemuka dalam diskusi ilmiah Jagong Sejarah yang digelar MPSD bersama FKSKDBWS di kediaman anggota DPRD Demak dari Partai Gerindra, H Marwan, Desa Kangkung, Kecamatan Mranggen, Minggu (8/2/2026) siang.

Sebagai narasumber utama adalah peneliti sejarah Demak, Ahmad Kastono Abdullah Hasan atau yang akrab disapa Aka Hasan.

Adapun, pendamping diskusi ialah Edi Suntoro selaku pemerhati sejarah Demak. Turut menyampaikan sambutan Nur Qosim selaku ketua MPSD dan Rohmat Soleh selaku ketua FKSKDBWS.  

Aka Hasan menyampaikan, penelitian yang dilakukan bertahun-tahun tepatnya sejak 2 Mei 2004 itu dirangkum dalam 148 halaman.

Rangkuman ini merupakan cuplikan dari buku jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 5. Sedangkan, jilid 4 tidak dicuplik karena berupa klasifikasi dan klarifikasi (data). 

 "Untuk melacak data dalam penelitian sejarah Demak ini memang tidak mudah. Setidaknya, saya menggunakan 8 metodologi yang sekiranya mampu mengurai sejarang tentang Walisongo yang imbasnya pada sejarah Kerajaan Demak Bintoro,"katanya.

Manhaj atau metodologi yang dipakai adalah libarary research, observation method, historical method, toponim method, comparation method, clasification method, clarification method dan realisme metafisika.

"Terkait dengan metode realisme metafisika ini banyak yang apriori karena dianggap tidak rasional dan tidak ilmiah. Tapi dari sudut pandang penulis, ini sangat ilmiah dan akademis,"katanya.

Peneliti sejarah Demak Aka Hasan bersama Rohmat Soleh menunjukkan buku tebal kumpulan penelitian .(Wahibpribadi)
Peneliti sejarah Demak Aka Hasan bersama Rohmat Soleh menunjukkan buku tebal kumpulan penelitian .(Wahibpribadi)

Dalam paparannya, Aka Hasan menyampaikan perbedaan antara Walisongo dan Dewan Walisongo. Walisongo adalah julukan untuk 9 tokoh yang menjadi pengurus inti dalam Dewan Walisongo yang menjadi generasi pertama.

Sedangkan, Dewan Walisongo adalah organisasi dakwah Islam pertama di tanah Jawa yang dibentuk para wali se Jawa melalui musyawarah atau pertemuan para wali se Jawa sebanyak dua kali. Musyawarah pertama tahun 1463 M (867 H) dan musyawarah kedua pada 1466 M (870 H).

"Dalam penelitian ini kita telisik data dalam babad dan serat serta jumlah tokoh walinya. Dapat kita sampaikan, nama-nama anggota Walisongo itu lebih dikenal dengan istilah Wali Keramat,"jelas dia.

Menurutnya, setidaknya da 30 naskah yang

diteliti. Naskah babad dan serat menyebut didalamnya istilah Wali Keramat atau Walisongo. 

"Dari sejumlah nama yang ada saya kodeying. Kemudian, dari tiap nama yang sama saya kerucutkan menjadi 85 orang dari 336 nama yang ada dalam naskah,"ujarnya.

Sesuai urutan alfabet, ada nama Abdul Muhyi (Syekh Abdul Muhyi) hingga Wuryapada (Sunan Wuryapada).

Dia menambahkan, dari sisi sejarah, Walisongo merupakan personal dan Dewan Walisongo adalah institusional atau lembaga dakwahnya yang dibentuk para wali se Jawa di Ponpes Glagah Wangi Demak dipimpin Sunan Ampel Demak yang bernama Syekh Muhammad Abuddin al Maghribi.

"Bila selama ini naskah babad dan serat yang dianggap Sunan Ampel adalah Ali Rahmatullah (Sunan Ampel Surabaya), namun setelah penulis teliti dengan seksama ternyata Sunan Ampel Surabaya adalah murid Sunan Ampel Demak dari tahun 1448 M/852 H sampai tahun 1463 M/868 H. Bahkan, istri Sunan Ampel Surabaya wafat pada 1461 M/865 H dimakamkan di komplek makam Glagah Wangi Demak,"ungkapnya.

Dalam penelitian ini disebutkan bahwa nama anggota Walisongo tak berperiode dan masyhur dalam literatur adalah Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel Surabaya Ali Rahmatullah, Sunan Gresik Raden Paku Ainul Yaqin, Sunan Bonang Mahdum Ibrahim, Sunan Drajat Raden Qosim, Sunan Kudus Jafar Sodiq, Sunan Muria Umar Said, Sunan Kalijaga Raden Sahid dan Sunan Gunungjati Syarif Hidayatullah Cirebon.

Adapun, nama angggota Walisongo berperiode tercatat ada 5 periode. Periode 1 (1404 M) adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Syekh Maulana Ishaq, Syekh Maulana Jumadil Kubro, Syekh Maulana Maghribi, Syekh Maulana Malik Isroil, Syekh Maulana Muhamad Ali Akbar, Syekh Maulana Hasanudin, Syekh Maulana Aliyudin dan Syekh Subakir. 

Walisongo periode 2 (1435 M) adalah Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel Surabaya), Sayid Jafar Sodiq (Sunan Kudus) dan Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati).

Walisongo periode 3 (1463 M) adalah Raden Paku Ainul Yaqin, Raden Sahid Sunan Kalijaga, Raden Mahdum Ibrahim Sunan Bonang dan Raden Qosim Sunan Drajat. 

Walisongo periode 4 (1466 M) adalah Raden Hasan atau Raden Fatah dan Fatkhullah Khan putra Sunan Gunung Jati. Kemudian, Wlisongo periode 5 (1478 M) adalah Umar Said Sunan Muria, Syekh Siti Jenar fan Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat).

Menurutnya, sejarah tentang berdirinya Kerajaan Demak Bintoro hingga kini banyak literatur menyatakan bahwa kerajaan itu didirikan Raden Fatah sehingga fakta sejarah yang mendirikan Kerajaan Denak Bintoro adalah Dewan Walisongo dalam sidang akbarnya ke 9 pada 11-14 Dzul Hijjah 879 H atau bertepatan dengan 18-21 April 1475 M. Dewan Walisongo menyetujui dibentuknya Kerajaan Demak Bintoro Hari Jumat Pon 14 Dzul Hijjah 879 H atau 21 April 1475 M. 

Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa bisa saja Pemkab Demak merevisi Hari Jadi Demak berdasarkan Hari Lahirnya Kerajaan Demak Bintoro yaitu Jumat Pon 14 Dzul Hijjah 879 H bertepatan dengan 21 April 1475 M. (*)

Editor : Tasropi
#demak bintoro #Pemkab Demak