Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

2020, Produksi Belimbing Demak Hanya 45.767 Kuintal

Agus AP • Senin, 29 Maret 2021 | 17:45 WIB
Yatin, petani asal Desa Betokan, menunjukkan buah belimbing yang ditanamnya. (ANANTA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Yatin, petani asal Desa Betokan, menunjukkan buah belimbing yang ditanamnya. (ANANTA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno. Kanggo mbasuh dadatiro.

Begitulah penggalan lirik lagu Lir-ilir karangan Sunan Kalijaga. Lagu yang begitu lekat dengan sejarah penyebaran islam di jawa yang syarat nilai filosofis. “Lagu ini kalau mau diartikan, memiliki pesan yang sangat luar biasa sekali,” kata Muhammad Asyiq, ketua MUI Demak. Bahkan menurut Asyiq, mayoritas pesantren yang ada di Demak selalu mewajibkan dinyayikannya lagu tersebut pada acara khataman Alquran para santri. “Tidak tahu kenapa saya suka sekali sama lagu tersebut,” imbuhnya.

Di lagu tersebut terbesit nama buah belimbing. Buah dengan nama latin Averrhoa Carambola tersebut berbentuk bintang dengan lima sisi. Kelima sisi tersebut diartikan sebagai rukun Islam.  Maka dari itu, penggalan lagu tersebut bisa diartikan bahwa seseorang harus berusaha menjaga kelima rukun Islam untuk menjaga kesucian diri demi keselamatannya.

Buah belimbing merupakan salah satu ikon utama kota Demak. Di jalan-jalan banyak ditemui tugu dan patung berbentuk belimbing yang biasanya selalu berjajar dengan patung jambu air. Ini menunjukkan bahwa Demak dan belimbing sebagai dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Demak mempunyai dua varietas belimbing lokal, yaitu jenis belimbing kunir dan belimbing kapur.

Kendati demikian, belakangan eksistensi belimbing di kota Demak kian surut. Para petani banyak beralih ke jambu air. Biaya perawatan jambu air yang lebih murah serta nilai jual yang lebih menggiurkan secara ekonomis menjadi pemicunya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Demak. Produksi belimbing pada tahun 2020 hanya sebanyak 45.767 kuintal. Masih kalah jauh dengan jambu yang menyentuh angka 149.881 kuintal di tahun yang sama.

Ini menjadi ironis, kendati sebenarnya masih banyak penjual belimbing di kios-kios buah Demak, kebanyakan belimbing tersebut didatangkan dari luar kota Demak. Sedangkan belimbing asli Demak mulai jarang terlihat. Kalaupun ada petani yang menanam, itupun jenis varietas baru yaitu belimbing madu yang memang lebih menggoda dari segi rasa, warna dan ukuran.

Untuk menjawab hal tersebut, wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkeliling ke daerah Betokan, kawasan yang terkenal sebagai penghasil utama belimbing di Demak.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, hampir mayoritas lahan perkebunan memang ditumbuhi pohon jambu. Kalaupun ada belimbing, jumlahnya tidak terlalu banyak.

Kartubi adalah satu dari sedikit petani belimbing yang tersisa. Pada awalnya ia mengaku menanam belimbing lokal, namun sempat beralih ke jambu air yang lebih menjanjikan. Ketika ada varietas baru belimbing madu. Akhirnya ia kembali lagi menanam belimbing. “Kalau pada menanam jambu semua, yang nanam belimbing siapa,” katanya.

Kartubi memiliki 80 pohon belimbing madu. Ia mengakui bahwa daya tahan pohon belimbing lebih rentan daripada jambu. Meski begitu, ia tetap bertahan lantaran buah belimbing selalu berbuah setiap waktu, jadi ia bisa terus mendapat penghasilan harian.

Beda lagi dengan Yatin, petani asal Desa Betokan RT 03 RW 01. Ia memiliki 100 pohon belimbing yang ia tanam berdampingan dengan pohon jambu. Sistem penanamannya dibuat berselang-seling dengan alasan efisiensi lahan. “Daripada ada lahan kosong tidak terpakai,” tuturnya.

Dengan sistem pertanian multikultur tersebut, ia bisa tetap terus berproduksi. “Seumpama jambu tidak sedang musim buah, tetap bisa mendapat penghasilan dari belimbing yang setiap saat berbuah,” ujarnya.

Yatin mengklaim bahwa di desanya cuma ia seorang yang masih bertahan dengan belimbing. Kalaupun ada, cuma satu dua pohon untuk dikonsumsi sendiri.

Ia mengaku dalam setahun omset penjualan memang lebih banyak jambu. Dalam setahun jambu bisa 2 – 3 kali panen. Dan setiap kali panen, setiap pohon bisa menghasilkan setidaknya satu juta rupiah. Sedangkan belimbing tak menentu. "Jadi wajar saja kalau banyak yang beralih ke jambu," pungkasnya.

Yatin sebenarnya juga membuat bibit belimbing dan menjualnya. Akan tetapi ia mengaku yang membeli malah banyak yang dari luar demak. Sedangkan untuk demak sendiri masih banyak yang beralih ke jambu. "Ya gimana lagi mas, jambu memang lebih mudah perawatannya," ujarnya.

Ia mengaku perawatan belimbing memang gampang-gampang susah, jika terlalu kering akan cepat mati, begitu juga jika terlalu banyak air.

Tak hanya soal pangairan dan penyemprotan yang sedikit susah, belimbing juga rentan diserang lalat buah. Dan untuk mengatasi hama tersebut perlu dilakukan pembungkusan. Pembungkusan yang baik adalah menggunakan daun jati. “Bagusnya memang dibungkus daun jati, tapi kan sudah langka. Kalaupun ada, harganya juga mahal dan cuma bisa digunakan sekali pakai,” katanya. Maka dari itu, Yatin menggantinya dengan plastik. Walaupun sebenarnya ia sadar bahwa pembungkusan dengan plastik masih bisa diterobos oleh lalat buah. Tapi itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Haryo, ketua pengelola Agrowisata Mranak juga merasakan sulitnya perawatan pohon belimbing. Bahkan, agrowisata yang dikelolanya kini sudah sepi pohon belimbing. Agrowisata yang sempat mencapai titik keemasan pada tahun 2018 tersebut kini sudah kehilangan pamornya. Kekeringan yang melanda pada 2019 silam dan banjir pada awal 2021 membuat tanaman belimbing yang semula 1000 pohon kini tinggal beberapa. “Belimbing itu kalau kekeringan dia butuh air, tapi kalau terlalu banyak air dia juga akan mati, pokoknya serba salah,” katanya

Ia berharap agar Dinas Pertanian Kabupaten Demak setidaknya memberikan lahan pertanian untuk ditanam belimbing pada tiap kecamatan jika ingin belimbing demak tetap eksis.

Dwi Marfianan, kasi SDM dan Ekonomi Kretaif mengatakan bahwa pihaknya sedang mencoba membentuk semacam industri kreatif agar buah belimbing bisa diolah dalam berbagai bentuk seperti selai, keripik, manisan dan lain sebagainya. "Sehingga produk olahan belimbing bukan dalam bentuk buah saja, kalo produknya beragam bisa mendapat tambahan nilai jual," katanya.

Ia berharap untuk pemimpin Demak yang baru terpilih bisa mengangkat kembali pamor belimbing demak. "Karena belimbing sini dengan daerah lain rasanya beda, lebih nyess belimbing sini," terangnya.

Sementara itu, Dewi Nurul Hidayati, kasi Holtikultura Dinas Pertanian Demak mengaku tidak bisa melarang petani yang berpindah dari belimbing ke jambu karena memang itu kehendak petani sendiri. Kendati demikian, pihaknya mengaku menaruh harapan pada varietas belimbing jenis madu yang belakangan juga mulai dibudidayakan. "Kita tidak bisa menyalahkan para petani, kita harap varietas yang baru tersebut bisa mengangkat kembali belimbing sebagai komoditas utama Demak," katanya. (cr2/ton)

  Editor : Agus AP
#Belimbing