Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kepala Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jawa Tengah ini awalnya ingin sekedar berbagi saja. Namun, karena kondisi kehidupan di Jakarta dengan uang ikatan dinas yang kecil, di akhir bulan ia pergi ke Palang Merah Indonesia (PMI) untuk donor darah. Tujuan lain untuk mendapatkan mi instan dan telur.
"Karena kebutuhan hidup itu, akhirnya jadi kebiasaan supaya dapat mi dan telur. Akhirnya saya rutin pertiga bulan donor darah," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang sambil tertawa mengenang perjuangan karirnya dulu.
Pria kelahiran Bengkulu ini menyatakan sudah ratusan kali mendonorkan darah. Hingga, ia mendapatkan penghargaan Piagam Donor Darah Sukarela. Piagam itu dikatakan bukan tujuan utama, ia sama sekali tak terbesit bakal mendapatkan penghargaan. Pasalnya, niat hatinya hanya ingin bhakti kemanusiaan.
Dari sederet pengalamannya, ia sangat berkesan bisa membantu tetangganya. Kala itu, ucap Yuspahruddin mengenang, ia sedang berada di rumah sakit tempat istrinya bertugas. Secara tiba-tiba ia didatangi petugas medis diminta untuk donor darah karena ada pasien yang membutuhkan.
Yuspahruddin tanpa basa-basi langsung tancap gas. Tentu ia berharap kondisi tubuhnya prima sehingga bisa donor darah. Donor tanpa rencana itu selesai. Seperti biasa, ia kembali aktivitas. Namun, yang membuatnya terkejut ternyata darahnya itu diberikan pada anak kecil yang merupakan tetangganya. Sebelumnya ia tak mengetahui untuk siapa darah itu diberikan.
“Rasanya luar biasa senang bisa membantu. Darah saya bisa menyelamatkan orang lain. Karena selama ini, saya tidak tahu kemana darah saya didonorkan. Setelah itu keluarganya datang ke rumah mengucapkan terimakasih," ucapnya.
Menurutnya hal itu menjadi pengalaman berarti. Sejak saat itu ia semakin termotivasi untuk bisa mendonorkan darah lebih banyak. Kemudian, ia tularkan pada jajaran dan pegawai di lingkungan Kemenkumham Jateng. Hal ini juga sebagai bagian dari role model bhakti kemanusiaan seorang pemimpin agar dapat ditiru bawahannya. Biasanya, dalam setiap event peringatan Hari Karyadika atau Hari Bhakti unit pelaksana teknis, ia tak pernah lupa menyelipkan bhakti sosial donor darah sebagai salah satu agenda.
“Saya mengajak kawan-kawan untuk donor darah agar bisa membantu saudara-saudara kita yang sakit. Sebagaimana jargon yang selama ini digunakan PMI bahwa satu tetes darah kita bisa menyembuhkan yang sakit,” ungkap pria berusia 59 tahun itu.
Mengenai kondisi kesehatan, ia meyakini setiap selesai donor darah akan menjadi lebih sehat. Namun, lulusan Magister Hukum Universitas Indonesia ini mengungkapkan, selama ini dirinya tidak selalu dalam situasi yang memungkinkan untuk menjadi pendonor. Hal itu karena kondisi kesehatan yang terkadang tidak stabil seperti tensi darahnya tinggi.
Kendati demikian, Yuspahruddin bertekad, selama masih bisa berbagi ia akan terus donor darah. “Selama masih diperbolehkan dari kondisi kesehatan ya, saya akan terus donor darah," tukasnya.

Awalnya Coba-Caba, Sekarang sudah 118 Kali Donor Darah
Donor darah adalah salah satu aktivitas yang banyak memberikan manfaat tidak hanya pada diri sendiri. Tapi juga kepada seluruh orang yang membutuhkan. Banyak kisah yang dialami para pendonor darah.
Novian Furqon tercatat sudah 118 kali mendonorkan darahnya di Palang Merah Indonesia (PMI). Itu di luar donor panggilan mendadak untuk pasien pendarahan. Padahal dulunya ia tak begitu tertarik dengan kegiatan kemanusiaan itu.
Pria 49 tahun ini menceritakan, kali pertama donor darah saat menjadi mahasiswa di Universitas Diponegoro (Undip) tahun 1995. "Iya, gara-gara saya ngekos bersama mahasiswa kedokteran. Waktu itu diajak. Padahal sebenarnya tidak tertarik," kenangnya.
Tapi ternyata itu justru jadi awal mula ia akhirnya ketagihan donor darah. Gara-gara senang bisa tahu kondisi tekanan darah dan kesehatannya tanpa harus datang ke dokter. Sederhana itu. "Kalau mau donor harus diperiksa. Nah, dari situ saya senang. Perasaan senang itu yang akhirnya mendorong saya donor darah rutin," ucapnya.
Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai ia kembali dan menetap di Kabupaten Pekalongan. Sampai sekarang. Meski usianya sudah tak lagi muda.
Motivasi Furqon donor darah yang semula hanya karena ingin mengetahui kondisi tekanan darahnya kini berubah. Ia semakin senang donor karena tahu darahnya bermanfaat untuk orang yang membutuhkan. "Cuma sekarang, kerap gagal donor karena tensi sering tinggi," ucap pria yang bekerja di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan ini.
Hal itu yang membuat Furqon terkadang sedih karena harus menunda donor darah. Kalau sudah begitu, ia selalu termotivasi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. "Ya, akhirnya jadi termotivasi juga menjaga kondisi tubuh," katanya.
Furqon berapa kali juga pernah dipanggil secara mendadak ke rumah sakit untuk mendonorkan darahnya kepada pasien pendarahan. Namun ia tidak pernah tahu pasien pendarahan karena apa. Ia pun tak pernah mau menanyakan. "Niatnya menolong, jadi tidak pernah kepikiran bertanya ke dokternya. Dokter pun tidak pernah memberi tahu karena keadaan tentu sedang genting," ucapnya.
Sejauh ini ia tak pernah punya pengalaman dramatis menolong pasien pendarahan. Sebab, kata dia, tiap dimintai tolong Furqon selalu sedang dalam keadaan santai tidak bekerja. "Walaupun sedang bekerja, ya, sebisa mungkin saya sempatkan," ujarnya.
Sederet penghargaan sudah ia raih dari kegiatan donor darah. Terakhir mendapatkan dari Bupati Pekalongan Fadia Arafiq saat HUT ke-400 Kota Santri, Agustus 2022 lalu. Itu penghargaan karena Furqon sudah 118 kali donor darah. Salah satu yang terbanyak di Kabupaten Pekalongan. 118 kali itu dihitung sejak kali pertama donor darah pada 1995. (ifa/nra/fth)
Advertisement
Advertisement
Radar SemarangIkuti
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement





