Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Progres Proyek Sheet Pile di Tambak Lorok Semarang, Desember Ini Mulai Dibangun

Agus AP
Penulis: Agus AP❯
Lokasi pembangunan sheet pile atau tanggul laut di kawasan pesisir Tambak Lorok, Tanjung Mas, Semarang Utara. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Lokasi pembangunan sheet pile atau tanggul laut di kawasan pesisir Tambak Lorok, Tanjung Mas, Semarang Utara. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Wilayah pesisir utara Kota Semarang masih menjadi langganan rob dan banjir. Salah satu solusi mengatasi bencana ini adalah dengan pembanggunan sheet pile atau tanggul laut di wilayah Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Emas, Semarang Utara. Warga sudah memimpikan sejak lama, namun hingga kini tak kunjung direalisasikan.

Wawan, 37, sudah tak mampu menghitung berapa kali wilayahnya direndam banjir rob. Hampir setiap hari, wilayah Tanjung Mas RT 6 RW 12 direndam rob. Segala upaya telah dilakukan warga. Misalnya, dengan meninggikan lantai rumah, meninggikan jalan dan sebagainya. Namun rob tak kunjung pergi dari wilayahnya. Hampir setiap pagi, rob datang. Siang pergi. Sore terkadang datang lagi.

Wawan merasa senang saat muncul rencana membangun sheet pile di sepanjang pantai utara Tambak Lorok, Semarang Utara. Bahkan, pihaknya sudah beberapa kali mengikuti sosialisasinya. Kebetulan dirinya menjadi salah satu warga yang terdampak proyek pemerintah pusat tersebut.

“Kami sangat setuju dan mendukung. Kebetulan lahan yang kami tinggali ini akan terkena proyek. Pengukuran sudah dilakukan berkali-kali, tinggal persetujuan harga saja," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, pihaknya meminta ganti untung, sehingga nantinya bisa dibelikan tempat tinggal baru yang layak. "Untuk yang punya usaha kan dua kerugian, tempat tinggal dan tempat usaha,” katanya.

Ketua RT 6 RW 12 Kelurahan Tanjung Mas Mashadi mengungkapkan, pembangunan sheet pile merupakan keharusan agar wilayahnya bisa terbebas dari banjir dan rob. Karena itu, ia sangat berharap proyek tersebut segera direalisasikan.

"Informasi awal dari BBWS saat sosialisasi September lalu, proyek segera dimulai. Katanya Oktober sudah dimulai. Tapi, pada kenyataannya belum bisa. Padahal pemberkasan (lahan yang akan dibebaskan) sudah kita masukkan semuanya," ujarnya.

Diakuinya, dua minggu lalu, tim appraisal sudah datang ke wilayahnya, tapi belum ada kabar nominalnya. Setidaknya 28 rumah warga, fasilitas umum, dan lima lahan tambak bakal terkena proyek ini.

"Semula dikabari, nanti Oktober proyek sudah dimulai. Sehingga warga terdampak cepat-cepat cari rumah. Bahkan ada yang sudah membayar DP. Tapi, nyatanya  sampai bulan Desember belum ada kejelasan apakah rumah akan dibongkar atau tidak. Cari rumah kan tidak mudah," katanya.

Ia berharap sheet pile segera dibangun. Ia khawatir kalau proyek sheet pile ini justru dipakai untuk ajang politik jika diundur-undur hingga Pemilu 2024 nanti.

Camat Semarang Utara Margo Haryadi mengungkapkan, hingga kini tahapan proyek sheet pile yang sudah dilakukan antara lain melakukan identifikasi bidang yang terdampak, pengukuran, dan kini tinggal menunggu lelang. Nantinya ada 28 rumah yang berdiri di atas saluran bakal terkena proyek tanggul laut ini.

"Nanti pengerjaan akan dimulai dari samping Indonesia Power ke utara melingkar sampai sheet pile yang lama. Jadi, air yang di dalam kolam retensi dibuang pakai pompa, sehingga dilingkari tanggul untuk mengurangi banjir dan rob," jelasnya.

Sheet pile akan dibangun sepanjang sekitar 1,4 kilometer. "Seharusnya tahun ini sudah berjalan. Sosialisasi sudah dilakukan terus-menerus," katanya.

Lurah Tanjung Mas Sonny Yudha Putra Pradana mengakui, proyek sheet pile kerap ditanyakan warganya. Dikatakan, saat ini sudah bergerak, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana dengan tim appraisal ke wilayah RT 6 RW 12 untuk docking material.  "Itu sudah diukur oleh BPN, appraisal, tinggal nanti nunggu BBWS tindak lanjutnya bagaimana, tinggal nanti DPU melanjutkan teknis penggantian dan sebagainya," jelasnya.

Diakuinya, sosialisasi sudah dilakukan. Sejak awal, pihaknya memohon komitmen dari masyarakat melalui ketua RT, RW dan paguyuban masyarakat agar mendukung pembangunan sheet pile. "Mereka mendukung, dan benar-benar menunggu pembangunan sheet pile ini," tegasnya.

Sementara itu, Kementerian PUPR melalui BBWS Pemali-Juana pun menargetkan pembangunan ini akan selesai akhir 2023.

Kepala BBWS Pemali-Juana Adek Rizaldi mengatakan, pembangunan sheet pile akan dipasang sekitar 1,4 kilometer yang bertujuan sebagai tanggul laut. “Sheet pile nanti dipasang sekitar 1,4 kilometer jadi mengelilingi (Tambak Lorok). Pemasangan ini sebagai tanggul laut, supaya air lautnya tidak masuk ke daratan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menambahkan, sebenarnya usulan pembuatan sheet pile ini sudah sejak tahun lalu. Tapi baru bisa ditindaklanjuti di tahun 2022. Pihaknya mengatakan desain yang sudah disiapkan oleh Dinas PU harus dilakukan evaluasi dan proses lelang.

“Proses tender ini sudah dilakukan mulai tanggal 3 Agustus 2022 lalu. Nah proses tender ini cukup lama, ada beberapa kendala dalam proses tender ini. Sehingga baru bisa tanda tangan kontrak pengerjaannya,” ujarnya.

Menurutnya, tanda tangan kontrak selesai pada Jumat (9/12) lalu. Hari berikutnya sudah mulai melakukan pembangunan di lapangan. Adek mengaku, kontrak pengerjaan mulai 9 Desember 2022 hingga 31 Mei 2024. Namun pihaknya akan berupaya dalam melakukan percepatan di lapangan. “Kontrak kita berakhir 31 Mei 2024. Kita minta dipercepat. Targetnya 31 Desember 2023 selesai,” katanya.

Tidak hanya BBWS, lanjut dia, semua pihak juga terlibat dalam pembangunan ini. Seperti Pemkot Semarang dan Lantamal. Pemkot membantu jalan akses masuk ke tempat pembangunan serta pembebasan lahan warga yang terdampak. Selanjutnya Lantamal bertugas ketika ada pengerjaan di lapangan untuk menghindari masalah sosial. “Lantamal ini kami libatkan juga untuk pengerjaan di lapangan. Jangan sampai nanti ada masalah-masalah sosial di lapangan,” harapnya.

Diakui, ada beberapa kendala yang mesti dituntaskan sebelum pembangunan. Salah satunya sulitnya akses ke lokasi pembangunan karena padatnya rumah penduduk. “Kami sudah minta bantuan ibu wali kota untuk bisa masuk ke dalam-dalam itu,” katanya.

Pembebasan Lahan Terkendala Anggaran

Pembangunan sheet pile untuk mengentaskan banjir dan rob di kawasan Semarang Utara akan segera dimulai. Pembangunan sheet pile yang menelan anggaran sekitar Rp 300 miliar. Proyek ini juga untuk mendukung kegiatan ekspor-impor di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas.

Menurut Plt Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, lelang proyek ini sudah dilakukan oleh pemerintah pusat dan sudah rampung. Diperkirakan pembangunannya akan dilakukan mulai awal 2023 ini.

“Kemarin informasi terakhir Pak Menteri PUPR sudah tanda tangan. Artinya akan segera dijalankan pembangunannya. BBWS juga menginformasikan pemenang tender juga sudah didapatkan,” kata Mbak Ita—sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Menurut dia, lama pengerjaan diperkirakan satu tahun. Pembangunan sheet pile membutuhkan pembebasan lahan. Mbak Ita berharap warga bisa memberikan dukungan untuk pengentasan banjir dan rob ini, termasuk merelakan jika tanah ataupun bangunan yang terpaksa dibebaskan dengan adanya ganti untung.  “Dukungan dari warga sangat diperlukan untuk pembangunan sheet pile ini,” ujarnya.

Selain mengurangi dampak rob di lingkungan permukiman, lanjut Mbak Ita, pembangunan sheet pile ini juga mendukung kegiatan ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas. Menurut Mbak Ita, Pelabuhan Tanjung Emas adalah salah satu hal yang penting dalam menggerakkan ekonomi di Kota Semarang.

“Pelabuhan menjadi urat nadi dalam hal investasi. Di sini sudah banyak kegiatan ekspor-impor perdagangan. Kalau tidak ada lagi rob, perekonomian akan berjalan lebih cepat,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang Iswar Aminuddin membenarkan jika perlu dilakukan pembebasan lahan yang harus dilakukan Pemkot Semarang untuk membuka askes alat berat yang mengangkut dan memasang sheet pile. “Akses jalan ke lokasi ini harus dibebaskan, nah inilah yang menjadi PR Kota Semarang,” tutur Iswar.

Pemkot Semarang, lanjut dia, berharap agar pemerintah pusat bisa memberikan bantuan untuk melakukan pembebasan lahan. Pasalnya, APBD Pemkot Semarang pada 2022 ini telah habis untuk pembebasan di Sungai Beringin. Sementara untuk APBD 2023, anggaran pembebasan lahan tidak diplot terlalu besar. Sehingga jika dipaksakan, tidak akan mencukupi.

“Harapan kita pusat bisa membantu, karena anggaran kita jika dipaksakan tidak akan cukup. Anggaran kami tahun 2022 sudah habis untuk pembebasan Sungai Beringin, dan untuk tahun 2023 sudah diplot, tapi tidak terlalu besar,” katanya. (fgr/kap/den/aro)

 

Advertisement
Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

110 Kepala Keluarga Bertahan di Timbulsloko, 30 KK Pindah Tempat

110 Kepala Keluarga Bertahan di Timbulsloko, 30 KK Pindah Tempat

Kepala Desa Timbulsloko, Nadirin mengatakan, di desa yang dipimpinnya tersebut terdapat 4 dukuh. Yaitu, Dukuh Timbulsloko, Bogorame, Wonorejo dan Karanggeneng. 

Lawan Tawuran dengan Fun Run, 1.000 Warga dan Pelajar Semarang Utara Turun ke Jalan

Lawan Tawuran dengan Fun Run, 1.000 Warga dan Pelajar Semarang Utara Turun ke Jalan

Tawuran dilawan dengan cara berbeda. Seribuan warga dan pelajar Semarang Utara turun ke jalan. Mereka berlari, meneriakkan yel-yel, sekaligus mendeklarasikan perang terhadap tawuran di kawasan Kota Lama Semarang, Minggu

8 Warga Semarang Utara Digelandang Polisi, Kedapatan Pesta Miras dan Bawa Senjata Tajam 

8 Warga Semarang Utara Digelandang Polisi, Kedapatan Pesta Miras dan Bawa Senjata Tajam 

Delapan Pria Warga Semarang Utara Digelandang Polisi Kedapatan Pesta Miras dan Satu Orang Diproses Hukum Terkait Senjata Tajam 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer