RADARSEMARANG.ID, Semarang — Sejarah takbiran memiliki makna mendalam bagi umat Islam sebagai bentuk pengagungan kepada Allah Swt.
Takbiran selalu dikumandangkan menjelang Hari Raya Idul fitri dan Idul Adha sebagai tanda kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa atau kurban.
Baca Juga: Mak Nyes! Ini Kumpulan Naskah Khutbah Idul Fitri 2025 yang Bisa Disampaikan Besok saat Lebaran
Tradisi ini telah ada sejak zaman Rasulullah saw., dan terus berkembang hingga menjadi bagian dari budaya Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sejarah takbiran bermula pada masa Rasulullah saw setelah disyariatkannya Idul fitri dan Idul Adha pada tahun kedua Hijriyah.
Dikutip dari buku Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq, 1997:496, disebutkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan umat Islam untuk mengumandangkan takbir pada malam sebelum hari raya sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan kepada Allah Swt.
Berdasarkan buku Kitab al-Umm, Imam Syafi’i, 2003:175, dijelaskan bahwa takbir dilakukan sejak malam hingga sebelum pelaksanaan salat Id.
Baca Juga: Aturan Besarnya Zakat Fitrah 2025, Nilai Fidyah dan Zakat Mal dari Baznas RI
Umat Islam dianjurkan untuk mengumandangkan takbir di rumah, masjid, maupun di jalanan.
Rasulullah saw bersama para sahabat juga sering mengumandangkan takbir dengan suara lantang untuk menandakan datangnya hari raya.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah Islam dan menjadi bagian dari syiar keislaman yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejarah takbiran di Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan negara lain.
Berdasarkan buku Islam dan Tradisi Nusantara, Azyumardi Azra, 2005:212, disebutkan bahwa tradisi takbiran di Nusantara mulai berkembang sejak masuknya Islam pada abad ke-13 melalui para ulama dan saudagar dari Timur Tengah.
Pada masa Kesultanan Demak, takbiran dilakukan di masjid-masjid dan alun-alun dengan tabuhan bedug serta lantunan takbir yang menggema di seluruh negeri.
Hingga kini, tradisi ini masih lestari dengan berbagai inovasi seperti takbir keliling menggunakan obor, kendaraan hias, serta gema takbir yang disiarkan melalui media elektronik.
Dijelaskan bahwa tradisi takbiran di Indonesia memiliki unsur budaya yang kuat, seperti penggunaan alat musik tradisional dan pawai takbir yang melibatkan masyarakat luas.
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Lebaran 2025 Ngagem Boso Jowo Cocok Damel Tiyang Sepah Soho Media Sosial
Sejarah takbiran telah menjadi bagian dari budaya Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perkembangannya di Indonesia mencerminkan kekayaan budaya Islam yang tetap menjaga nilai-nilai keislaman.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga wujud syukur dan kebersamaan umat Islam dalam menyambut hari kemenangan.
1. Takbiran Idul Fitri Pendek
اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar laa illaa haillallahuwaallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd
Artinya: “Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Baca Juga: Rayakan Idul Fitri 2025, Ini Ide Warna Cat Tembok yang Estetik Saat Ini Bisa Dicoba
2. Takbiran Idul Fitri Panjang
اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamd
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa
wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa
Laa ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku
Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah
Baca Juga: Cara Cek dan Top Up Saldo e-Toll dengan HP untuk Perjalanan Mudik Balik Lebaran Idul Fitri 2025
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil hamm
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Allah Maha Besar dengan segala kebesaran
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya
Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore
Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.
Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Waktu Takbiran Idul Fitri
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu takbiran Idul Fitri.
Ada yang berpandangan bertakbir Idul Fitri dikumandangkan dari waktu pergi salat Id hingga khutbah dimulai.
Ada pula terdapat ulama yang berpendapat takbir Idul Fitri dimulai sejak hilal 1 Syawal terlihat, tepatnya di malam hari raya sampai waktu pagi harinya saat hendak pergi menuju tempat salat Id atau hingga imam berangkat untuk memimpin salat.
Dari Ibnu Abi Dzi’bin dari Az-Zuhri menyebutkan Nabi SAW keluar menuju lapangan pada Idul Fitri. Beliau bertakbir hingga tiba di lapangan dan sampai selesai salat. Setelah selesai salat, beliau menghentikan takbir. (HR Ibnu Abi Syaibah; dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)
Jika seseorang tak salat berjamaah maka takbirnya dianjurkan berlanjut hingga ia memulai takbiratul ihram salat Id.
Namun, apabila ia tidak salat, maka ia boleh bertakbir sendiri hingga waktu tergelincirnya matahari.
Baca Juga: Mudik Lebaran Idul Fitri 2025, PLN Sediakan 682 SPKLU POM Mobil dan Motor Listrik, Ini Lokasinya
Hukum Takbiran Idul Fitri
Menurut Syekh Said Bin Muhammad Ba Ali Ba Isyan dalam Syarh al-Muqaddimah al-Hadramiyah hukumnya sunnah bagi laki-laki dan wanita melakukan takbiran serta membaca bacaan takbir di malam takbiran.
Salah satunya dalam surat Al Baqarah ayat 185,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ ت َشْكُرُونَ
Artinya: “Dan hendaklah kamu menggenapkan hitungan (hari Ramadan), dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah) (atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Baca Juga: Waktu yang Tepat Untuk Menghindari Kemacetan Saat Mudik Lebaran Idul Fitri 2025
Ibnu Abbas RA menafsirkan ayat di atas sebagai berikut,
“Wajib bagi kaum muslimin apabila mereka telah melihat hilal Syawal untuk bertakbir, mengagungkan Allah sampai selesai hari raya mereka.”
Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi’i dalam Fathul Qarib al-Mujib menjelaskan, takbiran Idul Fitri merupakan takbir mursal yang tidak mengacu pada waktu salat atau harus dibaca setelah menjalankan salat.
Sebaliknya, takbiran dapat dilakukan setiap waktu dalam keadaan apapun.
Takbiran dapat dilakukan setelah terbenamnya matahari malam Idul Fitri hingga saat imam melaksanakan takbiratul ihram dalam salat Idul Fitri. (fal)
Editor : Tasropi