RADARSEMARANG.ID, Masjid Damarjati diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kota Salatiga.
Terletak bundaran Tamansari Salatiga, diperkirakan telah berusia 198 tahun. Pasalnya masjid ini dibangun pada masa Perang Pangeran Diponegoro.
Bahkan masjid ini diyakini warga setempat dibangun atas perintah Pangeran Diponegoro.
Baca Juga: Masjid Kiai Sholeh Darat Rutin Mengadakan Tadarus Bakda Tarawih
Sejarah Masjid Damarjati tak lepas dari sejarah perlawanan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah Belanda dari tanah Jawa.
Dari cerita turun temurun yang dahulu hingga didengar Mbah Yahya, masjid tersebut dibangun dua orang yang merupakan panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Yakni Kiai Ronosentiko dan Kiai Sirojudin pada tahun 1826.
Kedua orang tersebut diyakini berasal dari Mataram. Kedua nama itu terpampang dalam prasasti di depan masjid.
Dalam perlawanannya terhadap penjajah Belanda, kedua orang panglima perang yang juga sebagai ulama tersebut tidak melakukan perlawanan secara frontal.
Melainkan dengan cara gerilya sekaligus dakwah menyebarkan ajaran Islam.
Supaya gerak-geriknya tidak diketahui Belanda, maka dua tokoh tersebut membuka perkampungan baru.
Bersama beberapa laskarnya membuka Dukuh Krajan di Kelurahan Salatiga.
Selain itu untuk mengelabui Tentara Belanda, Kiai Sirojudin memakai nama samaran. Yakni Kiai Damarjati.
Sedangkan Kiai Ronosentiko membuka perkampungan baru di Dukuh Bancaan, Kelurahan Salatiga. Yakni sekitar 4 kilometer dari Masjid Damarjati.
Hal itu dilakukan, lantaran keduanya saat itu dicari-cari Tentara Belanda.
Meskipun pasukan Belanda pernah dibuat kalang-kabut oleh perlawanan Pangeran Diponegoro.
Dia mendapatkan banyak dukungan dari semua lapisan masyarakat di Jawa Tengah.
Singkatnya, saat membuka perkampungan baru itu, keduanya membangun sebuah musala.
Karena dengan adanya tempat ibadah tersebut, Kiai Damarjati bisa menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.
Selain itu mengajari warga untuk mengaji dan memeperdalam ilmu agama Islam.
Namun saat itu masjid yang dibangun oleh Kiai Damarjati itu masih sangat sederhana.
Hanya terbuat dari papan kayu dan bambu. Atapnya pun masih terbuat dari sirap (daun kelapa). Luasnya hanya sekitar 36 meter persegi. (sas/bud)
Editor : Tasropi