alexametrics


Belum Ada Titik Temu, Pedagang Johar Wadul Dewan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Rencana pemindahan pedagang Johar dari relokasi Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ke Pasar Johar masih menemui kendala.

Selain pedagang merasa tidak pernah diajak diskusi terkait pemindahan, juga masih ada ketidakjelasan klasifikasi antara pedagang grosir dan eceran.

Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Johar Surahman menjelaskan, jika pedagang grosir yang ada di tempat relokasi belum mengetahui jika akan dilakukan pemindahan pada 24 September nanti.

“Sebenarnya pedagang yang grosir ini dulu punya lapak eceran, lalu memakai sebelahnya agar lebih besar,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Informasi yang diperoleh koran ini, rencananya para pedagang grosir Johar akan dipindah ke Pasar Rejomulyo yang dijadikan pasar induk.

Terkait wacana ini, Surahman menilai kurang proporsional, apalagi luasan pasar di sana hanya sekitar 2 hektare. Padahal untuk pasar induk memerlukan area bongkar muat yang cukup luas.

“Jumlah area ini untuk lapak diperkirakan 40 persen, Jadi, hanya 8 ribu meter persegi. Nah, kalau dibagi luasnya 12 meter persegi per lapak, jatuhnya sekitar 600 pedagang, tentu nggak akan nyukupi,” tuturnya.

Seharusnya, kata dia, pemindahan dan klasifikasi pedagang grosir ini harus memakai kajian. Tidak bisa dipukul rata.

Misalnya, yang memiliki lima lapak hanya dikasih satu lapak saja. “Kita tentu akan melawan, nah kita juga minta sebelum pindah bisa ketemu DPRD agar ada mediasi,” tuturnya.

Menurut informasi yang dihimpun, mediasi antara pedagang, Komisi B, dan Dinas Perdagangan akan dilakukan pada Rabu (14/9/2021) hari ini di gedung DPRD Kota Semarang. Selain itu, terkait wacana pemindahan pedagang grosir pun pedagang belum pernah diajak koordinasi.

“Grosir ini cocoknya hasil bumi. Kami belum diajak koordinasi dan bicara. Kami harap DPRD bisa memediasi sehingga mendapatkan titik terang,” harapnya.

Sakdullah, salah satu pedagang buah di Yaik menjelaskan, ada beberapa pedagang yang memiliki kios kecil hingga empat titik, namun dengan nama yang berbeda.

Mereka tetap dianggap sebagai pengecer.Di Yaik dulu, kata dia, ada dua blok pedagang buah. Satu blok dengan luasan 6×4 meter persegi, dan satu blok lainnya seluas 4×3 meter persegi.

“Kalau tidak ada klasifikasinya, misalnya hanya dapat satu kios, kami tidak bisa jualan, padahal ada yang satu pedagang registernya beda nama dengan lapak lainnya,” katanya.

Mimin, pedagang sembako mengkhawatirkan penempatan lapak tidak sesuai dengan pasar sebelum terbakar dulu.

“Kalau memang diperintahkan untuk  pindah, saya sudah siap. Hanya saja, saya khawatir kios yang akan saya dapatkan tidak sesuai dengan yang saya harapkan,” ujarnya.

Belum lagi jika ada pedagang baru yang ikut masuk dalam data pedagang yang dipindah ke Pasar Johar. Ia khawatir posisi kiosnya yang dulu akan diambil para pedagang baru.

“Kalau seperti ini, nanti kami yang rugi. Karena kami kan pedagang lama Pasar Johar,” tambah Halim, pedagang perabotan rumah tangga.

Mimin dan beberapa pedagang yang lain memprediksi boyongan pedagang akan tertunda kembali.

“Sebenarnya kami tidak terlalu khawatir kalau pemindahan diundurkan. Kan Pasar Johar Selatan itu kan belum jadi. Rencananya, pada Januari 2022, gedung eks Matahari Johar akan mulai direnovasi. Jadi, nanti pindahnya bertahap. Johar Tengah dan Johar Utara dulu, serta bersama Kanjengan,” tutur Mimin sambil melayani pedagang. (den/mg9/mg14/aro)

 

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya