alexametrics


Tak Ada Pemasukan, Pengusaha Sound System di Semarang Terpaksa Jual Aset dan Mobil

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pandemi Covid-19 membuat para pengusaha sound system di Kota Semarang terpuruk. Karena tidak ada pemasukan, terpaksa menjual aset-asetnya berupa seperangkat sound system dan mobilnya sekaligus.

Salah satunya Suratman, 63, yang sedang menjual aset miliknya secara terbuka di Taman Indonesia Kaya, Rabu (4/8/2021) kemarin. Bahkan, hari ini, Kamis (5/8/2021) berencana menjajakan seperangkat sound system di halaman Balaikota Semarang.

“Ini saya serius menjual loh mba. Sak mobile juga gakpapa. Yang penting saya dapat uang buat beli beras sama kebutuhan makan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (4/8/2021).

Tak hanya itu, Suratman juga mengatakan jika dua mobil miliknya yakni Grandmax dan Avanza sudah laku terjual untuk melunasi utang.

“Sekarang gak ada lagi yang bisa digunakan buat bayar utang, Mobil saya yang bagus sudah dimakan korona. Tinggal sound system ini yang belum laku. Kalau ada yang mau beli, satu set sound system-nya saya hargai Rp 75 juta. Kalau mau lebih murah lagi sama mobil ini sekalian, jadi Rp 150 juta,” ungkapnya sambil menunjuk seperangkat sound system dan mobil yang dijual.

Baca juga : Pedagang Pusat Oleh-Oleh Pandanaran ‘Megap-Megap’

Suratman mengaku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Job yang tidak ada serta kebutuhan makan yang tak lagi bisa ia penuhi, membuat dirinya mantap menjual peralatan sound system-nya.

Suratman yang menjadi pendiri Komunitas Sound system Semarang (KS3) itu mengaku pernah mendapatkan job penyewaan di acara pernikahan. Sayangnya, ketika acara berlangsung setengah jalan, kemudian dibubarkan oleh petugas keamanan. Ia pun merasa was-was dan takut jika perlengkapan sound system-nya disita petugas. “Dibubarkan, terus gak bayaran juga. Tapi saya tetap bayar anak-anak yang usung-usung. Itu yang bikin rugi,” katanya.

Tak hanya Suratman, hal serupa dirasakan Supriyadi, 50, yang usaha sound system-nya terkena dampak pandemi. Bahkan dirinya kerap di PHP oleh penyewa yang punya hajatan. “Sering dapat job. Tapi pas tanggal mainnya malah di-cancel karena perpanjangan PPKM dan gak boleh sama lurahnya. Padahal sudah nyiapin semua. DP juga dikembalikan. Kalau seperti ini terus, satu set sound system ini bakal saya jual,” tuturnya.

Meski begitu, Supriyadi berharap agar pemerintah memerhatikan pelaku seni sound system di Kota Semarang. Ia ingin hiburan musik melalui sound system tidak dilarang. “Kami cuma ngasih dengar musik saja. Kecuali kalau hiburan konser sama event besar yang menimbulkan banyak kerumun gitu. Apalagi kami gak tentu juga dapat job-nya,” katanya. (cr8/ida)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya