alexametrics


Pedagang Pusat Oleh-Oleh Pandanaran ‘Megap-Megap’

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Efek pandemi Covid-19, beberapa ruko dan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pusat Oleh-Oleh Jalan Pandanaran, Kota Semarang mulai sepi dan ditinggalkan penjualnya. Semula ada 50 pedagang, sekarang tinggal 11 pedagang.

“Saya jualan disini sudah 10 tahun. Namun malah dimatikan karena adanya pandemi. Kini harus memutar otak untuk menambah usaha dengan jualan minuman,” kata salah satu pedagang Ria, 49, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (4/8/2021).

Menurutnya, PPKM sangat berpengaruh besar bagi pedagang. PPKM pertama, yang jualan hanya empat orang. Selebihnya memilih jualan di rumah. “Ya, karena percuma kalau jualan hanya buang-buang waktu menunggu lapak. Karena tidak ada pembeli sama sekali,” keluhnya.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang saat berkunjung ke lokasi pusat oleh-oleh, tampak pedagang lesu menunggu jualannya yang tak kunjung laku. Bahkan sampai pukul 14.00, tidak mendapatkan pembeli satupun. Tampak beberapa lapak dipinggirkan dan ditutup karena penjualnya hengkang dari lokasi itu. Di lokasi itu hanya tersisa tiga toko pusat oleh-oleh, beberapa penjual wingko, dan kurang lebih ada empat penjual lunpia dan tahu bakso.

Baca juga : Tak Ada Pemasukan, Pengusaha Sound System di Semarang Terpaksa Jual Aset dan Mobil

Pedagang lain, Ita, 35 mengungkapkan selama beberapa minggu terakhir mengalami kerugian karena tidak ada pelanggan yang datang. “Kalau pedagang wingko babat seperti ini kan tidak bertahan lama. Kalau tidak laku tidak bisa dikembalikan atau diangetin ya dibuang. Wingko ini hanya bertahan kurang lebih tiga sampai empat hari. Lebih dari itu pasti keras,” tuturnya. (cr5/ida)

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya