alexametrics


Pemkot Semarang Tambah 450 Kamar Isolasi

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pemerintah Kota Semarang bakal menambah kamar isolasi dengan kapasitas 450 tempat tidur di empat tempat berbeda. Hal ini dilakukan karena tingginya bed occupancy rate (BOR) di Ibu Kota Jateng tersebut. Dari data yang ada, kasus aktif, Selasa (15/6/2021) kemarin, mencapai  1.347 dengan rincian 797 pasien dari dalam Kota Semarang, dan 550 pasien dari luar kota.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, saat ini BOR di Semarang mencapai 82 persen. Selain itu, beberapa rumah sakit ketersediaan ruangan juga ada yang mencapai 100 persen. Dengan menambah kamar isolasi dan tempat karantina, lanjut dia, diharapkan bisa mengantisapasi lonjakan kasus.

“Total akan ada 450 tempat tidur yang akan dibuat. Kami juga sudah melakukan negosiasi dengan beberapa pihak terkait rencana ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (15/6/2021).

Pria yang akrab disapa Hendi ini menjelaskan, saat ini Kota Semarang memiliki 1.771 tempat tidur isolasi yang tersebar di rumah dinas (rumdin) wali kota, Islamic Center, dan lainnya. Selain itu, Balai Diklat yang ada di Ketileng, rencananya bakal kembali dibuka dengan kapasitas 100 tempat tidur.

“Pak Rektor UIN Walisogo punya asrama mahasiswa juga siap. Kami sebelumnya melakukan negosiasi, salah satu rumah sakit baru juga siap membantu. Juga gereja yang ada di Marina,”tuturnya.

Untuk asrama mahasiswa di UIN Walisongo, lanjut Hendi, akan dibuat 200 tempat tidur. Sementara rumah sakit baru yang pembangunan gedungnya sudah selesai, namun belum keluar izin juga siap menyediakan 100 tempat tidur. Sementara gereja di daerah Marina akan dibuat 50 tempat tidur. “Totalnya 450 tempat tidur yang akan dibuka mulai pekan depan,” bebernya.

Dengan bertambahnya tempat isolasi di luar rumah sakit, lanjut Hendi, bisa diisi oleh pasien yang bergejala ringan ataupun tanpa gejala, dan juga untuk mengurangi BOR yang ada di rumah sakit.”Pasien yang tanpa gejala atau hampir sembuh bisa dipindah ke tempat karantina ini, sehingga yang bergejala bisa masuk,” katanya.

Disinggung kondisi rumah dinas wali kota yang dijadikan rumah karantina dan sempat beredar kabar kalau okupansinya tinggi bahkan pasien harus antre, Hendi menjelaskan jika keterisian di rumah dinas cukup fluktuatif. Menurutnya, tingkat kesembuhan di sana cenderung tinggi.

“Kalau di rumah dinas, kabar jika penuh itu memang sangat  fluktuatif, jadi misalnya malamnya penuh, tapi pagi banyak yang pulang, jadi bisa diisi lagi, jadi tingkat kesembuhannya juga tinggi,” tegasnya.

Politisi PDI-Perjuangan mengimbau, masyarakat tidak perlu panik atau risau terkait tingginya okupansi di rumah sakit. Meskipun okupansi sangat tinggi, ia memastikan ketersediaan tempat karantina di Semarang masih sangat memadahi.

“Di Islamic Center misalnya, dari 120 kapasitas tempat tidur, terisi 90, nah tempat ini pun kesembuhannya tinggi. Masyarakat tidak perlu risau, kalau isunya rumah sakit penuh mungkin iya, tapi kalau tempat karantina saya rasa tidak benar,” katanya.

Disinggung rencana untuk menggandeng pihak hotel guna menyiapkan tempat karantina, ia menyebut jika rencana ini belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Rencana tersebut mungkin saja dilakukan jika memang semua tempat karantina sudah tidak sanggup lagi menampung.

“Untuk membuka hotel saat ini belum perlu, karena itu adalah planning terakhir, dan semua rekan-rekan hotel memang sudah bersedia, tapi nanti itu adalah planning terakhir,” tegasnya.

Meskipun langkah antisipasi sudah dilakukan, Hendi berharap tidak ada penambahan kasus lagi. Ia pun mewanti-wanti agar masyarakat tetap patuh terhadap protokol kesehatan, karena adanya varian baru dari India ataupun tidak, Covid-19 tetaplah berbahaya.”Saya juga minta ke Dinas Kesehatan dan rumah sakit untuk melayani seluruh pasien, entah itu dari Semarang ataupun luar Semarang,” tandasnya.

Penambahan ruang isolasi juga dilakukan RSUP dr Kariadi Semarang. Hal ini menyusul bertambahnya kasus positif Covid-19 di sejumlah kabupaten dan kota di Jateng. Karena itu, jumlah ruang isolasi diperbanyak, dan tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas untuk penanganan Covid-19 juga ditambah. Saat ini, di RSUP dr Kariadi merawat 185 pasien Covid-19.

Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang (PMKP) RSUP dr Kariadi dr Agoes Oerip Poerwoko menyampaikan, pihaknya bersama semua rumah sakit di Semarang tengah mempersiapkan diri untuk menambah kapasitas penanganan pasien Covid-19.

“Kami harap bisa menampung pasien di daerah yang mengalami lonjakan cukup tinggi, tidak hanya RSUP dr Kariadi, tapi semua rumah sakit di Semarang,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (15/6/2021).

Lebih lanjut dikatakan perlunya tambahan logistik seperti obat-obatan dan APD untuk petugas yang melakukan pelayanan. Begitu pula jumlah sumber daya manusia (SDM) nakes di ruang isolasi ditambah. Diakui, dalam sehari datang sekitar 30 pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Lonjakan jumlah kasus positif didorong oleh pasien Covid-19 dari luar daerah. Di Semarang sendiri, saat ini menampung kurang lebih 541 pasien dari berbagai kota dan kabupaten di Jateng. Tapi, tak semua pasien covid harus dirawat di rumah sakit. Mereka yang memerlukan perawatan intensif harus ditangani di rumah sakit.“Ada yang karantina, evaluasi, ada yang observasi menunggu hasil pemeriksaan lab,” imbuhnya.

Bagi pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) bisa melakukan isolasi mandiri di rumah atau karantina di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, dan di Islamic Center Semarang. Sebagian besar kelurahan di Kota Semarang juga memiliki rumah karantina mandiri yang dikelola satgas atau Kampung Siaga Candi Hebat. (den/taf/aro)

Terbaru

Fadia Baca Semua Aduan Warga

Tempat Ibadah Harus Taat Prokes

Populer

Lainnya