alexametrics


Tanam Seribu Mangrove di Tambakrejo dan Sayung

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah dan 25 komunitas peduli lingkungan menggelar aksi tanam seribu mangrove di Tambakrejo dan Sayung, Rabu (9/6/2021). Mengingat abrasi di dua wilayah tersebut sudah parah.

Manajer Advokasi dan Kampanye Iqbal Alma menjelaskan, kegiatan bertema “Cegah Maleh Dadi Segoro” tersebut sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia pada 5 Juni dan Hari Laut Sedunia pada 8 Juni kemarin.

Menurutnya, sejumlah titik pesisir Semarang-Demak kian tenggelam akibat abrasi. Penyebabnya tak lain karena tanah aluvial yang terbentuk dari endapan di pesisir Semarang-Demak ini cukup lunak. Selain itu pengembangan pelabuhan membuat bawah permukaan laut longsor. Lalu ekstraksi air tanah, dan proyek pembangunan industri juga turut mengikis hutan mangrove.

“Jangan tunggu pesisir tenggelam begitu saja. Setidaknya kita berupaya, sekalipun kecil-kecilan, sebisa-bisanya, semampu-mampunya,” tandasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kenaikan permukaan air laut telah dialami warga Bedono sejak tahun 1994. Setiap tahun warga yang tinggal di kawasan tersebut harus menaikkan pondasi rumahnya beberapa kali. Sebagian besar wilayah RT 3, 4, dan 5 yang terletak di RW 01 berbatasan langsung dengan laut telah tenggelam. Meski kesulitan beraktivitas warga setempat tetap bertahan.

Siang kemarin puluhan aktivis dan relawan yang datang dari Surakarta hingga Kudus menyebar ke sepanjang pesisir. Karena kondisi pasang, mereka harus menceburkan diri cukup dalam, sekitar satu meter. Berbekal sebilah bambu dan tali rafia, satu bibit mangrove ditanam dan diikatkan pada bambu. Sebanyak 500 mangrove ditanam berjajar rapi layaknya pasukan perang. Belasan anak kampung ikut menyaksikan kegiatan tersebut sambil berenang.

Kepala RW 01 Desa Bedono Rusipa mengaku masyarakat setempat lelah dengan fasilitas jalanan yang rusak parah cukup lama. Kurang lebih lima kilometer jalanan tak merata dan berlumpur. Selain itu kondisi permukaan laut yang terus naik membuat rumah warga terancam tenggelam. Ia memohon agar pemerintah turut menyumbang dana untuk penanganan abrasi. “Karena wilayah kami nggak ada tanggul penghambat air laut masuk,” terangnya.

Terdapat 248 KK di wilayahnya. Bila dalam setahun pemerintah tak turun tangan, desa tersebut perlahan akan tenggelam. Bagaimana pun ia mengapresiasi upaya yang dilakukan anak muda di desanya. Ia juga ikut turun mengarahkan penanaman mangrove di wilayahnya itu. (taf/zal)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer