alexametrics


Ribuan Pedagang Johar belum Daftar Online

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, SemarangPendataan secara online yang dilaksanakan Dinas Perdagangan Kota Semarang bagi pedagang Pasar Johar, ternyata masih ditemukan pedagang yang kesulitan melakukan input. Terutama mereka yang lanjut usia dan gagap teknologi. Sejauh ini baru sekitar 2 ribu pedagang yang berhasil daftar online. Sisanya sekitar 4 ribu-6 ribu pedagang masih belum meng-input data di aplikasi Pandawa.

Para pedagang yang kesulitan, akhirnya melakukan pendataan online secara kolektif melalui kelompok pedagang yang ada di Johar. Salah satunya kelompok Sub Rayon Johar Selatan Bawah yang membuka posko pendaftaran bagi anggotanya.

“Kalau yang di aula Blok F-10 ini hanya pendampingan saja. Input-nya kita serahkan ke pedagang. Nah ada juga yang mengirim perwakilan, kemudian diajari petugas, dan membuka layanan kolektif bagi kelompoknya,” kata Korwil Relokasi Pasar Johar di Kawasan MAJT Haris Handoko, Senin (7/6/2021).

Dengan cara tersebut, kata dia, pendataan dilakukan oleh kelompok masing-masing. Misalnya, untuk pedagang dari Johar Tengah, ketua kelompok bisa melakukan input data didampingi pemilik lapak. “Setiap kelompok ada yang membuka secara kolektif misalnya dari blok mana gitu, ya kita monggo saja,” bebernya.

Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Sub Rayon Johar Selatan Bawah Robert Wibowo mengakui, jika kendala yang didapati di lapangan adalah banyak pedagang usia lanjut yang kesulitan mendaftar online.

“Banyak pedagang yang usia lanjut ini kesulitan, kadang dibantu anaknya. Kalau syaratnya sesuai sih nggak masalah, tapi ada yang kurang ataupun hilang, jadi harus ngurus ke dinas dulu,” jelasnya.

Namun selama memakai surat relokasi, kata Robert, input masih bisa dilakukan. Sebelumnya ada tim dari dinas yang melakukan sosialisasi ke pedagang. Pedagang pun mengirimkan wakilnya untuk pelatihan dan ikut sosialisasi.

“Banyak yang kolektif, nah pedagang yang bisa ngajarin yang lain, istilahnya saling bantu,” bebernya.

Ia menjelaskan, total anggotanya ada sekitar 600 pedagang. Dalam sehari rata-rata ada 30-an pedagang yang melakukan input data didampingi tim yang dibentuk kelompok pedagang. Peran serta ketua kelompok ini sangat penting untuk mengakomodasi semua pedagang.

“Kendala tahap pertama ini kadang sistemnya error, ya kami minta ada tahap kedua untuk bisa mengakomodasi pedagang yang belum,” pintanya.

Pihaknya belum tahu kapan Dinas Perdagangan akan memindahkan para pedagang ke tempat yang baru di Kawasan Johar Baru yang saat ini sedang dilakukan revitalisasi.  Menurut informasi, kata dia, akan dilakukan secara bertahap, apalagi proses pembangunan bangunan Johar Selatan dan Kanjengan saat ini belum rampung.

“Infonya bertahap, yang harus diisi dulu kan Johar Utara dan Tengah yang sudah jadi. Saat ini baru pendataan saja untuk pengkategorian pedagang. Selanjutnya menunggu imbauan pemerintah,” katanya.

Wahyudi, salah satu pedagang mengaku sempat kesulitan untuk melakukan input data. Namun ia merasa tertolong adanya inisiatif kelompok pedagang yang kolektif mendata pedagang, dan membantu melakukan input.

“Jujur sih saya gaptek, apalagi harus punya email. Nah caranya bikin saja nggak tahu, Mas. Ini dibikinkan teman, jujur agak kesulitan,” akunya.

Pihaknya mengaku sangat terbantu dengan adanya kelompok pedagang yang berinisiatif membuka posko pendaftaran kolektif ini. “Kalau nggak ada ya susah, apalagi anak saya kerja di luar kota. Kemarin juga sempat bolak-balik ke dinas untuk mengurus syarat yang kurang,” katanya.

Terpisah, Persatuan Pedagang Jasa Pasar (PPJP) Pasar Johar meminta agar Dinas Perdagangan bisa memperpanjang pendataan pedagang di relokasi Pasar Johar Kawasan MAJT Semarang. Pasalnya, dari data yang ada baru sekitar 2 ribu pedagang yang sudah melakukan input data di aplikasi Pandawa.

Ketua PPJP Pasar Johar, Surahman mengatakan input data yang dilakukan oleh dinas, membuat pedagang kesulitan. Maklum saja, banyak pedagang yang tidak mengerti teknologi, sehingga memakan waktu.

Input-nya kan mandiri, banyak pedagang yang tidak mampu. Akhirnya banyak yang menunggu kolektif atau minta tolong ke pedagang, atau anaknya yang bisa menginput,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menjelaskan, dari dinas memang memberikan fasilitas berupa komputer, namun petugas yang ada di sana hanya membantu dan mengawasi saja. Saat ini, baru sekitar 2 ribu pedagang yang sudah melakukan input.”Inputnya dilakukan sendiri, Jumat kemarin infonya baru masuk 2 ribuan,” tuturnya.

Padahal informasi yang ada, pendataan dilakukan sampai 10 Juni. Ia pun meminta agar dinas memperpanjang atau, mininal ada petugas yang membantu pedagang untuk melakukan input data. “Karena banyak yang kesulitan, saya harap bisa diperpanjang. Intinya tidak ada pedagang yang telantar,”bebernya.

Jumlah pedagang di Pasat Johar, kata dia, bisa dibilang belum pasti. Diprediksi ada 7 ribu sampai 8 ribu pedagang. Namun pedagang di relokasi MAJT yang menggunakan lapak sekitar 6 ribu sementara 2 ribuan adalah pedagang non lapak.

“Kita sudah punya data sebenarnya, setelah kebakaran dulu sudah kami serahkan, dan meminta agar dikunci oleh dinas ya itu tadi sekitar 6 ribuan. Soalnya kadang-kadang satu register dimiliki lebih satu orang,” tuturnya.

Hambatan lainnya, kata dia, adalah persyaratan yang ditetapkan oleh Dinas Perdagangan misalnya surat izin dan lainnya. Dirinya tidak menampik ada surat dari pedagang yang hilang, ataupun disekolahkan. Hal ini pun dinilai menghambat pendataan. “Kalau harus ngurus di dinas kan memakan waktu,” katanya. (den/aro)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer