Satu Pasien Klaster ‘Bu Fat’ Meninggal

173
Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Korban meninggal akibat Covid-19 di Kota Semarang bertambah. Seorang pasien Covid-19 dari klaster Rumah Makan Kepala Manyung “Bu Fat” Jalan Ariloka, Krobokan, Semarang Barat akhirnya meninggal. Sebelumnya, korban dirawat secara intensif di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang. Belum diketahui pasti korban merupakan pengunjung, keluarga, karyawan ataupun warga sekitar rumah makan legendaris tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan pada kasus klaster Bu Fat ini. DKK, lanjut dia, juga telah melakukan swab test kepada 36 orang yang merupakan karyawan, keluarga, dan lainnya.

“Hasil swabnya, sebanyak 22 orang dinyatakan positif. Tiga orang positif ini dirawat di rumah sakit, sisanya di rumah dinas wali kota. Satu pasien positif akhirnya meninggal,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (16/9/2020).

Hakam menjelaskan, dari tiga pasien positif ini, salah satunya adalah wanita hamil dan telah melahirkan belum lama ini. Hakam menyebut, bayi pasien dalam kondisi sehat, namun masih dipisahkan dari ibunya.

“Kalau bayinya sehat. Kalau ibunya masih positif. Untuk yang meninggal, terjadi dua atau tiga hari lalu, sudah dimakamkan. Kalau nggak salah (dimakamkan) di Purwodadi,” jelasnya.

Terkait kondisi bayi apakah ikut terpapar Covid-19, Hakam belum mengetahui secara pasti. Karena harus melewati swab test. Saat ini, menurut dia, belum ada laporan apakah si bayi ini juga ikut terpapar atau tidak. “Masih dipisahkan, belum boleh dikasih ASI selama ibunya masih positif. Nanti kalau sudah negatif baru boleh,” tambahnya.

Dari klaster Bu Fat, Hakam menyebut sudah ada pasien yang dinyatakan negatif alias sembuh. Pasien ini dirawat atau dikarantina di rumah dinas wali kota Semarang.“Per tadi pagi (kemarin, Red) di rumdin ada yang sembuh 71 orang. Kalau dari klaster Bu Fat angka pasti belum tahu berapa,” jelasnya.

Jumlah klaster di Semarang sendiri tercatat ada sekitar 40 klaster. Klaster yang masih ada penyebaran misalnya pabrik, kantor BUMN, pemerintahan, tenaga kesehatan dan tempat umum lainnya.

Persentase tertinggi penularan terbanyak sampai Rabu (16/9/2020), berada di daerah Ngaliyan dan Tlogosari Kulon. Masih tingginya angka ini, menurut Hakam, terjadi karena kepatuhan masyarakat yang masih rendah untuk menerapkan protokol kesehatan. Tujuannya untuk menekan angka kematian atau case fatality rate (CRF) yang masih tinggi di angka 9 persen.

“Untuk itu, digencarkan operasi gabungan, Dinkes juga akan melihat kepatuhan warga dari memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak ketika di luar rumah,” tuturnya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengaku telah melakukan razia protokol kesehatan (prokes) dengan Forkompimda dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Pemkot tidak hanya memberi sanksi kepada warga yang melanggar, melainkan juga memberikan masker sekaligus melakukan rapid test kepada pelanggar.

“Misalnya tadi di Pasar Karangayu, ada 17 orang yang melanggar, KTP mereka disita kemudian menjalani rapid test. Alhamdulillah hasilnya nonreaktif,” jelasnya.

Di lapangan, Hendi menyebut ada dua tipe masyarakat, yakni tertib dan bandel. Pemkot akan terus mengingatkan masyarakat yang bandel ini untuk menerapkan protokol kesehatan sampai si pelanggar ini bosan dan mau menggunakan masker.

“Istilahnya kita ingatkan pakai masker sampai mereka jeleh, karena ini bukan untuk Hendi-Ita, bukan untuk sekelompok orang, namun untuk keselamatan semua warga Semarang,” katanya.

Puluhan pelanggar yang terjaring operasi penegakan prokes itu langsung menerima sanksi mulai dari push up, membersihkan sampah sampai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Operasi yang dipimpin langsung oleh Gubernur Ganjar Pranowo itu menyasar tempat-tempat kerumunan, yakni Pasar Johar, Pasar Sampangan dan Pasar Karangayu. Setelah menjalani hukuman, para pelanggar langsung di-rapid test.

Salah satu pelanggar Agus Setyawan, 31, yang terjaring operasi di Pasar Johar  mengaku malu tertangkap basah tidak bermasker. “Malu rasanya. Ya nanti pakai (masker) terus. Apalagi tadi dibilangin Pak Ganjar, kalau tidak pakai masker lagi, dihukum lari keliling pasar selama 10 kali,” kata pria yang bekerja sebagai kuli panggul ini, Rabu (16/9/2020).

Selain dihukum, kemudian di-rapid test, para pelanggar juga diberi peringatan dengan mengisi pernyataan tertulis dan kartu tanda penduduk (KTP)-nya disita seminggu.

Menurut Ganjar, Kota Semarang menjadi perhatian karena memiliki tingkat penularan Covid-19 tertinggi di Jateng.

“Kami sampaikan pada masyarakat bahwa operasi ini untuk mengedukasi. Kami tidak akan main keras atau kasar, namun kami ajak masyarakat membantu dan sadar menerapkan protokol kesehatan selama beraktivitas,” paparnya.

Selain pasar, Ganjar berharap operasi bersama ini terus dilakukan di sejumlah titik keramaian di Kota Semarang. Ia meminta agar warung makan juga menjadi sasaran, mengingat warung saat ini menjadi salah satu klaster di Kota Semarang.

“Penataan warung dan tempat keramaian lain harus dilakukan. Semua harus patuh untuk mengamankan dan menyelamatkan semuanya. Kalau tidak taat, ya langsung ditutup,” tegasnya. (den/ewb/aro/bas)