Perketat Pengawasan Tandon Cuci Tangan

180
Wastafel portabel di kawasan Simpang Lima sebelum (kiri) dan sesudah diperbaiki.

RADARSEMARANG.ID, SemarangPemkot Semarang bertindak cepat atas laporan kerusakan dan tidak berfungsinya tandon cuci tangan di Simpang Lima dan Kawasan Kota Lama Semarang. Keberadaan wastafel portabel ini sebagai salah satu fasilitas di tempat umum untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru di tengah pendemi. Khususnya, kebiasaan cuci tangan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Sebelumnya, beberapa titik keramaian dan objek wisata sengaja dipasang wastafel portabel sebagai tempat cuci tangan. Sayangnya, ulah tangan jahil telah merusak wastafel yang dipasang Pemkot Semarang melalui dana APBD ataupun bantuan CSR perusahaan tersebut. Misalnya, sabun yang habis sengaja diisi air, keran air yang hilang dicuri, serta tempat tisu yang amblas.

Pantauan koran ini di kawasan Kota Lama Semarang, ada enam wastafel portabel yang dipasang di sepanjang Jalan Letjen Suprapto. Sebelumnya, wastafel yang ada di depan gerai Filosofi Kopi sempat mengalami kerusakan berupa kebocoran selang dan habisnya sabun. Namun Selasa (11/8/2020) kemarin, sudah dilakukan perbaikan oleh dinas terkait. Pun dengan beberapa wastafel portabel lain, termasuk bantuan CSR juga dalam kondisi baik. Tandon air sudah terisi air, keran yang hilang pun sudah diganti.  Juga sabun dan tempat tisu pun sudah terisi penuh dan bisa digunakan untuk cuci tangan.

“Total wastafel portabel di Kota Lama ada 15 buah. Ada yang bantuan CSR, ada pula yang milik pemkot. Beberapa wastafel yang kemarin rusak sudah dilakukan perbaikan oleh dinas,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Indriyasari saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Untuk di kawasan objek wisata, seperti Kota Lama, lanjut wanita yang akrab disapa Iin ini, memang menjadi tanggungjawab Disbudpar. Lain pula dengan wastafel portabel yang ada difaslitas umum lainnya, seperti Simpang Lima, dan jalan-jalan protokol dan pasar menjadi tanggungjawab, Disperkim dan Dinas Perdagangan.

“Wastafel portabel ini harapannya kan untuk memudahkan wisatawan atau masyarakat mencuci tangan, karena adanya pandemi dan digunakan dengan baik. Namun ya kadang-kadang memang rusak, atau bahkan dirusak tangan jahil,” tuturnya.

Ia mencontohkan, beberapa bagian wastafel portabel di Kota Lama yang hilang ataupun rusak. Misalnya kotak tisu, keran, kotak sabun, hingga sabun yang hilang. Kesadaran masyarakat untuk menjaga fasilitas dan merawat yang ada inilah, menurut Iin, harus lebih ditingkatkan. “Kalau rusak ataupun habis, pemkot akan segera mengganti. Setiap hari pasti kita lakukan kontrol. Tapi ya masyarakat harus ikut menjaga dan merawatnya,” ujarnya.

Khusus di tempat wisata seperti Kota Lama, lanjut Iin, keberadaan wastafel portabel ini tetap dilakukan pemantauan oleh petugas setiap hari. Namun ia mengakui petugas sempat kesulitan. Karena selain menjaga wastafel portabel itu, setiap saat petugas harus mengimbau pengunjung di Kota Lama untuk menjaga jarak dan tetap menggunakan masker.

“Kita pantau terus kok. Untuk air dan sabun kita kontrol, kalau habis ya kita isi. Untuk keran atau tisu yang hilang, mungkin terjadi pada hari Minggu. Jumlah petugas kami juga tidak banyak,” ucapnya.

Iin mengajak masyarakat ataupun wisatawan untuk ikut mengawasi keberadaan fasilitas serta sarana dan prasarana yang ada. Contoh kecilnya adalah wastafel portabel. Jika memang air atau sabun habis, masyarakat bisa lapor kepada petugas, bisa ke Disbudpar melalui akun Instagram, atau langsung ke aplikasi Lapor Hendi.

“Langsung laporkan saja, biar ditindaklanjuti jika memang menemukan kerusakan ataupun air dan sabun yang habis,”tegasnya.

Rencananya, untuk wastafel portabel di Kawasan Kota Lama Semarang akan kembali ditambah dan dibangun permanen. Disbudpar, lanjut dia, sedang berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk mewujudkannya. “Kita akan tambah yang permanen, agar lebih kuat,”ujarnya.

Koran ini sempat memantau wastafel di Kawasan Simpang Lima. Minggu (9/8) lalu, ditemukan ada beberapa wastafel portabel yang kerannya hilang atau bahkan rusak. Selasa (11/8) siang, dari tujuh wastafel portabel yang ada, termasuk wastafel portabel bantuan CSR, sudah diperbaiki. Keran air yang hilang sudah diganti baru. Sabun yang sebelunya diisi air oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, sudah terisi penuh dan bisa digunakan untuk cuci tangan.

“Belum lama ini memang ada laporan beberapa wastafel rusak, kami mengucapkan terima kasih. Tentunya adanya laporan itu, saya langsung perintahkan dinas terkait untuk mengecek dan melakukan perbaikan,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Menurut dia, agar bisa digunkan secara fungsional serta sesuai dengan peruntukannya, lanjut Hendi, instrumen yang ada di wastafel portabel ini harus lengkap. Misalnya, airnya harus ada, kerannya pun harus berfungi dan sabun cuci tangan pun harus tersedia. Adanya wastafel ini sendiri, kata dia, sebagai langkah protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus korona. “Agar sesuai peruntukannya, airnya harus ada, sabunnya harus ada juga. Kalau rusak, dinas yang melakukan perbaikan,” tegasnya. (den/aro/bas)