Duh, Arca Candi Duduhan Raib

266
Tim Regnas Cagar Budaya dan Disbudpar Kota Semarang mengukur lokasi hilangnya tiga batu situs Candi Duduhan, Mijen, kemarin. (kanan) Dua dari tiga batu sebelum hilang. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Tiga benda bagian dari situs Candi Duduhan, Mijen, Semarang raib dicuri orang. Bukan kali pertama bagian dari percandian kuno abad 8-10 masehi itu jadi incaran maling. Sejak sekitar 1991, fragmen arca Nandi bagian perut, lapik sesaji dan kemuncak dari situs Candi Duduhan, Kelurahan Mijen dipindah ke pertigaan kampung, tak jauh dari kantor Kelurahan Jatibarang. Tepatnya di depan warung mi ayam. Tapi sejak Selasa (7/7/2020) malam, batuan bersejarah tersebut tak lagi berada di lokasi.

“Kemungkinan hilangnya sekitar pukul 02.00 dini hari, soalnya saya sekitar pukul 01.00 malam masih di warung,” kata Nuryanto, penjual mi ayam di lokasi arca kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/7/2020).

Sejumlah warga mengaku sempat mendengar suara mobil berhenti. Sekitar pukul 02.00, ia juga mendengar suara orang dan benturan benda keras. Tapi ia tak curiga karena mengira mobil tersebut hanya parkir di dekat tiga batu bersejarah tersebut.

Sudarso,75, warga sekitar yang tinggal tak jauh dari pertigaan mengaku heran ada orang yang mengambil tiga benda yang semula untuk menghias taman tersebut. “Padahal dari tahun 1991 ya di situ dan aman-aman saja,” ucapnya.

Arkeolog Tri Subekso yang datang ke lokasi menjelaskan, situs Candi Duduhan diduga sudah ada sejak abad ke 8 sampai 10 Masehi dan masuk pada klasifikasi perabadapan Jawa Kuno. “Termasuk tiga arca yang hilang tadi, merupakan situs dari Candi Duduhan,” jelasnya.

Sekitar tahun 1979 lalu, lanjut Subekso, tercatat ada beberapa komponen bangunan candi di situs Candi Duduhan. Selain ketiga benda yang hilang tersebut, juga ada arca Ganesha dan pecahan arca lain.

Ganesha yang menjadi simbol dewa ilmu pengetahuan juga sempat dicuri orang. Namun pencurinya berhasil ditangkap. Selanjutnya arca Ganesha disimpan di Museum Ranggawarsita Semarang hingga saat ini.

Pada 2015 dan 2018, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Bersama Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) mengekskavasi situs Candi Duduhan. Ditemukan struktur candi dari batu bata berupa candi induk dan tiga candi perwara. Candi induk berukuran 9,3 x 9,3 meter. Lebih besar dari ukuran candi terbesar di Gedongsongo. Yoni berukuran besar juga ditemukan di sumuran candi induk.

Tim Registrasi Nasional (Regnas) Cagar Budaya bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Kamis (9/7) mengecek hilangnya tiga benda cagar budaya tersebut. “Kita akan laporkan ke pimpinan, indikasi memang hilang karena dicuri dan rencananya akan kita bawa atau laporkan ke Polisi,” kata Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya Disbudpar Kota Semarang Haryadi Dwi Prasetyo.

Pria yang akrab disapa Hary ini menilai situs Candi Duduhan sangat menarik dan menjadi kewajiban warga untuk menjaganya. Apalagi ada undang-undang yang mengatur. “Ini akan menjadi perhatian Pemkot, semoga bisa ditemukan. Termasuk situs candi yang masih terpendam,” tuturnya.

Disbudpar, lanjut dia, pada 2021 sudah memasukkan situs Sendang Guwo ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) sebagai kawasan cagar budaya. “Untuk Candi Duduhan, kita akan usulkan tahun 2022, semoga bisa terealisasi dan menjadi objek wisata edukasi,” jelasnya. (den/ton/bas)





Tinggalkan Balasan