Gereja Dibuka, Batasi Kursi Jemaat

188
Pastor Kepala Paroki St Theresia Bongsari, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ melihat bangku tempat duduk umat yang telah diberi batas dengan tali di Gereja Bongsari, Minggu (28/6/2020). (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang Sejumlah pengurus gereja telah melakukan persiapan untuk menghadapi perayaan ekaristi di gereja mulai 18 Juli 2020 mendatang. Salah satunya Gereja St. Theresia Bongsari. Persiapannya yakni dengan menata ulang tempat duduk jemaat.

Pengurus gereja menyekatnya menggunakan tali. Agar antar jemaat tidak saling berdempetan. Selain itu, sejumlah tempat cuci tangan telah terpasang di sejumlah titik. Lengkap dengan hand sanitizer.

Pastor Kepala Paroki Santa Theresia Bongsari Semarang Romo Eduardus Didik Chahyono mengatakan, pembatasan tempat duduk bagi jamaah itu dilakukan untuk mempersempit celah penyebaran virus Covid-19 di tempat peribadatan. Tempat duduk yang seharusnya bisa dipakai untuk empat jamaat sekarang hanya digunakan satu jamaat.

Selain itu, yang diperkenankan datang mengikuti Misa hanya jamaat yang berusia 10 tahun sampai 65 tahun. Tidak boleh ada yang mempunyai penyakit bawaan.

“Jemaat kurang dari 10 tahun dan lebih dari 65 tahun bisa menjalankan ibadah di rumah. Dengan adanya Covid-19 ini maka segala sesuatunya harus dibatasi. Bukan apa-apa tetapi ini semua untuk keselamatan umat agar sehat dan bisa menjalankan ibadah,” tambahnya.

Sedangkan untuk kapasitas di Gereja St. Theresia Bongsari mencapai 700 jemaat. Karena harus ada jaga jarak maka yang boleh mengikuti hanya 200 jemaat.

“Kalau ada jemaat yang tidak menaati protokol kesehatan maka petugas akan menegurnya,” imbuhnya.

Koordinator gugus tugas penanganan Covid-19 keuskupan Agung Semarang, RM Edi Purwanto melalui surat Nomor: 0536/A/X/20-29, mengatakan perayaan ekaristi di gereja dapat dilaksanakan mulai tanggal 18 Juli 2020. Pelaksanaannya harus menjalankan protocol kesehatan.

“Ini penting diperhatikan agar umat dapat beribadat dengan aman, sehat dan sukacita. Selanjutnya masing-masing Paroki, diminta untuk mengurus izin pelaksanaan peribadatan pada gugus tugas penanganan Covid-19,” katanya. (hid/zal/bas)





Tinggalkan Balasan