Sehari Sebelum Meninggal, Hasil Rapid Test Sang Adik Nonreaktif

Pernikahan yang Jadi Klaster Covid-19

Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pandemi Covid-19 di Kota Semarang seperti bom waktu. Klaster covid baru bermunculan. Yang terbaru munculnya klaster pernikahan. Kabarnya, dua dari keluarga mempelai wanita meninggal. Hal ini diungkapkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Sabtu (20/6/2020). Ia mengatakan, jika pernikahan yang tak mentaati protokol kesehatan itu dilakukan di sebuah masjid. Pernikahan tersebut kemudian menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Kota Lunpia.

Penelusuran Jawa Pos Radar Semarang diketahui masjid tersebut adalah Masjid Besar Terboyo. Minggu (21/6/2020) kemarin, situasi di sekitar masjid dan kediaman mempelai perempuan tampak sepi. Hanya ada seorang marbot masjid yang tampak sedang berjaga.

Toto Darmanto, 65, sang marbot  membenarkan pada Kamis (11/6/2020) lalu memang dilangsungkan akad nikah di masjid yang terletak di Kelurahan Tambakrejo RT 7 RW 1, Kecamatan Gayamsari tersebut. Ia pun mengatakan bahwa adik dari mempelai wanita meninggal tiga hari setelah prosesi pernikahan. Lalu keesokan harinya disusul oleh meninggalnya sang ibu.

Di samping itu, Toto juga membenarkan bahwa setelahnya dilakukan rapid test untuk takmir masjid. Namun, ia sendiri tidak mengetahui apa hasilnya. Ia hanya menjelaskan, setelah adanya kabar bahwa pernikahan tersebut menjadi klaster baru, Masjid Besar Terboyo tampak sepi jamaah.

“Masjidnya tidak ditutup, tapi sangat sepi jamaah. Kalau salat biasanya hanya diikuti imam, saya, serta satu atau dua jamaah saja,” terangnya.

Menurut pantauan koran ini, di depan pintu masuk Masjid Besar Terboyo dilengkapi dengan bilik sterilisasi, tempat cuci tangan, serta tanda pembatasan jarak. Di samping itu, berbagai poster anjuran untuk menggunakan masker juga terpasang di berbagai sudut masjid.

Pengakuan warga sekitar, Nuryati, 38, saat berlangsungnya prosesi pernikahan hadir sekitar 15 orang keluarga dari mempelai wanita serta rombongan tiga mobil dari mempelai pria. Ia pun mengatakan bahwa tidak ada warga Tambakrejo yang ikut menyaksikan acara akad nikah tersebut. Nuryati juga mengatakan bahwa setelah dua orang dari keluarga mempelai meninggal, hingga hari ini (22/6/2020) keluarga lainnya termasuk pasangan pengantin tengah melakukan isolasi mandiri dan sama sekali tidak terlihat keluar rumah.

Dari pihak keluarga, Hamid, 44, sepupu dari mempelai wanita mengatakan, sebelum meninggal, diketahui kondisi paru-paru  sang adik memang penuh flek. Namun demikian, ia menampik bahwa sang adik positif korona lantaran sehari sebelum meninggal, almarhum sempat rapid test di Laboratorium Cito dengan hasil nonreaktif. Adapun ia menyebutkan bahwa ibu dari mempelai perempuan meninggal lantaran sudah lama mengidap penyakit infeksi rahim.

Hamid juga mengatakan, proses pemakaman ibu dan anak tersebut dilakukan tanpa menggunakan aturan protokol pemakaman pasien korona. “Keduanya memang dimakamkan dengan menggunakan peti, tapi petugas tidak menggunakan baju APD (alat pelindung diri), karena memang tidak dianjurkan dari rumah sakit,” ungkap Hamid.

Di samping itu, kini pihaknya bersama keluarga sedang menunggu hasil rilis dari RSI Sultan Agung. Karena dari pihak keluarga sendiri belum tahu yang sebenar-benarnya apakah almarhum dan almarhumah memang positif korona atau tidak.

Dijelaskan oleh Hamid, Sabtu (20/6/2020) lalu, hasil swab test dari keluarga lainnya telah keluar dan hasil seluruhnya adalah negatif. Saat ini, ayah dari mempelai perempuan yang dikabarkan sakit sedang dirawat di RSI Sultan Agung dengan diagnosis demam. (nor/aro/bas)





Tinggalkan Balasan