Sudah Gunakan Sistem Online, Orang Tua Siswa masih Datangi Sekolah

RADARSEMARANG.ID, Semarang –Pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) SD Negeri di Kota Semarang resmi dibuka sejak Minggu (14/6/2020). Karena berjalan di tengah pandemi Covid-19, pelaksanaan pendaftaran PPDB dilakukan secara online dan dilakukan tanpa tatap muka. Sayangnya, pantauan Jawa Pos Radar Semarang masih ada orang tua siswa yang tetap mendatangi sekolah. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pemahaman orang tua siswa untuk mendaftar secara online. Selain itu, juga keterbatasan perangkat berupa akses smartphone ataupun komputer yang tidak dimiliki orang tua siswa.

Di SD Negeri Petompon 2 Gajah Mungkur, pihak sekolah menyediakan empat komputer dan laptop untuk membantu orang tua calon peserta didik yang akan melakukan pendaftaran online. Pendaftaran dilakukan di teras sekolah. Di tempat itu  disediakan 30 kursi yang ditata berjarak. Juga tujuh tempat cuci tangan lengkap dengan sabun. Empat operator pendaftaran menggunakan face shield dan masker.

Kepala SD Negeri Petompon 2 Purwiyati mengatakan, jumlah pendaftar hingga pukul 09.10 mencapai 145 pendaftar. Tahun ini, sekolahnya menerima 84 siswa yang terbagi menjadi tiga rombel. Di sekolah ini, sejumlah orang tua calon peserta didik juga berdatangan ke sekolah. Mereka kesulitan mendaftar online. Ada juga yang khawatir datanya belum masuk, sehingga bermaksud mengumpulkan berkas pendaftaran ke sekolah.

“Padahal kalau sudah mendaftar online, tinggal nunggu pengumuman hasil, Nggak perlu mengumpulkan berkas,” jelasnya.

Di SD Negeri Gisikdrono 2, orang tua calon peserta didik juga berdatangan ke sekolah. Mereka yang datang harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di SD ini, petugas yang membantu pendaftaran online sempat terkendala wifi. Petugas terpaksa memanfaatkan teatring handphone. “Hingga kemarin, jumlah pendaftar sudah 134 siswa,” kata Kepala SD Negeri Gisikdrono 2 Agus Ngaderiyanto.

“Mamang hampir 100 persen wilayah Kota Semarang terjangkau internet, namun di lapangan masih ada masyarakat yang kurang paham akan kemajuan teknologi. Imbasnya pada pelaksanaan PPDB yang menggunakan cara pendaftaran secara online,” kata Sekretaris Komisi D Kota Semarang, Anang Budi Utomo, Senin (15/6).

Komisi D, kata dia, telah melakukan langkah antisipasi. Misalnya, kendala yang dihadapi masyarakat jika PPDB dilakukan online. Salah satunya selain membuka PPDB online, ada petugas yang diminta berada di sekolah untuk melayani masyarakat yang kurang paham terhadap tahapan ataupun cara mendaftar secara online.

“Tujuannya agar jangan sampai ada siswa yang tidak mendapat sekolah karena orang tuanya tidak paham teknologi,” ucapnya.

Meski meminta menempatkan petugas di sekolah, lanjut Anang, protokol kesehatan tetap harus dijalankan. Misalnya, menjaga jarak dan wajib memakai masker.  Pantauan koran ini di SD Negeri Karangayu 2, petugas membuat sekat dari plastik dan menggunakan face shield untuk melayani orang tua calon siswa yang datang. “Protokol kesehatan tetap harus dipenuhi. Nanti pihak sekolah akan memberikan bantuan dan mengarahkan pendaftaran secara online, termasuk memfasilitasi perangkatnya,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri menjelaskan bahwa para calon peserta didik cukup mengakses syarat dan mengikuti tahapan secara online. Dari sistem tersebut, nantinya akan muncul data peserta, seperti data penduduk yang diambil dari Disdalduk Capil, nilai sampai prestasi yang dimiliki calon siswa sudah terintegrasi dari E-Rapor dan aplikasi Sang Juara bagi siswa berprestasi, data lingkungan, serta data siswa kurang mampu atau miskin juga sudah masuk ke database PPDB.

“Untuk tahun ini, siswa masuk SD mencapai 29.439 siswa. Kemudian yang lulus SD atau MI sebanyak 25.420 siswa. Sedangkan daya tampung SD negeri 14.364 siswa. Dan daya tampung SMP Negeri 11.136,” jelasnya.

Sesuai dengan Perwal Nomor 37 Tahun 2020 terkait PPDB pada TK, SD, dan SMP atau sederajat, formulanya untuk zonasi minimal sebesar 50 persen, siswa afirmasi minimal 15 persen, Jalur perpindahan tugas orangtua/wali maksimal sebesar 5 persen. Untuk zonasi, lanjut dia,  siswa yang mendaftar SD bisa memilih tiga sekolah sesuai zonasi, sedangkan yang mendaftar SMP bisa memilih empat sekolah juga sesuai zonasi

“Untuk sisanya bisa ada jalur prestasi. Di Kota Semarang kemungkinan ada beberapa siswa yang memiliki piagam kejuaraan berjenjang. Jadi bisa memilih untuk sekolahnya,” imbuhnya. (jks/den/aro/bas)

Tinggalkan Balasan