PPDB 2020 Tak Ada Cabut Berkas

Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang TK, SD dan SMP se-Kota Semarang resmi diluncurkan. Dalam PPDB tahun ini masih menggunakan sistem zonasi. Namun ada yang berbeda dalam pelaksanaan PPDB tahun ajaran 2020/2021 ini. Antara lain, 100 persen dilaksanakan menggunakan sistem online dan tidak ada validasi nilai.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri mengatakan, perbedaan lain yaitu bagi calon peserta didik yang memiliki piagam penghargaan berjenjang sampai tingkat internasional bebas memilih sekolah khusus SMP. “Untuk yang memiliki piagam berjenjang sampai internasional bebas memilih sekolah di luar zonasinya,” ujar Gunawan saat ditemui usai launching PPDB online di kantornya, Rabu (3/2/2020).

Meski begitu, calon peserta didik yang memperoleh jalur khusus tersebut dibatasi hanya 5 orang. Bahkan, lanjutnya, bagi siswa luar kota yang memiliki piagam berjenjang sampai ke tingkat internasional dipersilakan untuk memilih sekolah di Kota Semarang dan dibebaskan. “Saat ini, sudah ada dua yang punya piagam seperti itu,” katanya.

Alasan kenapa hanya berlaku untuk peserta PPDB SMP, karena piagam penghargaan berjenjang tersebut hanya berlaku dalam kurun waktu 3 tahun ke belakang. Sehingga apabila ada peserta PPDB SMP yang memiliki prestasi tingkat internasional yang berjenjang seperti olimpiade juara 1, 2, dan 3, maka bebas memilih sekolah. Terkait dengan bagaimana jika ada pemalsuan piagam, pihaknya hanya mengacu terhadap sistem yang sudah ada.

Sistem aplikasi Sang Juara menjadi acuan penilaian terhadap piagam penghargaan tersebut. Pasalnya, setiap piagam penghargaan pasti di-upload oleh sekolah di aplikasi tersebut. “Ada penilaiannya. Misalnya, kalau piagam yang tidak berjenjang internasional juara 1 nilainya 6, sampai ke tingkat nasional, provinsi, dan kota, nilai ada. Sudah masuk di aplikasi Sang Juara,” ujarnya.

Kemudian nilai rapor untuk kelas 4, 5, dan 6 juga sudah terdata di E-Rapor. “Begitu di-klik nama atau nomor NIK-nya akan muncul nilai dan data semuanya sampai piagam penghargaan juga ada,” katanya.

Seperti diketahui, pelaksanaan PPDB online digelar dengan waktu terpisah. Untuk PPDB TK dan SD pada 14-18 Juni 2020, dan PPDB SMP pada 21-25 Juni 2020. Porsi dalam satu zonasi minimal 50 persen, afirmasi yaitu warga miskin dan punya Kartu Indonesia Pintar (KIP) 15 persen, perpindahan 5 persen, 2 persen luar zonasi, dan sisanya jalur prestasi.

Sementara porsi penilaian dalam zonasi sampai 50 persen dan luar zonasi 40 persen. Khusus untuk SD, selain zonasi juga ada nilai usia. Semakin tinggi usianya, peluang diterima lebih besar.  Selain nilai usia, juga ada nilai lingkungan, yaitu letak rumah dengan sekolah yang dituju. “Itu tambah nilai 2 untuk SD, dan nilai 3 untuk SMP. Untuk masing-masing siswa SD, setiap calon peserta didik bisa memilih tiga sekolah, kalau yang SMP bisa empat sekolah,” jelasnya.

Gunawan menyarankan siswa untuk memilih sekolah di dalam zonasinya saja. Karena tidak ada pula model cabut berkas dalam PPDB kali ini. Di mana di dalam mekanisme pendaftaran, peserta langsung memilih sekolah di dalam zonasinya. Jika dari pilihannya tidak ada yang diterima, berarti peserta dipersilakan untuk mendaftar di sekolah swasta. Khususnya untuk PPDB SD. Hal itu dikarenakan di dalam data Disdik Kota Semarang juga menyebutkan jika jumlah lulusan SD di 2020 ini sebanyak 25 ribu lebih, namun daya tampungnya cuma 11 ribuan. “Otomatis yang lain harus ke swasta,” katanya.

Karena semua sudah diatur dalam sistem, maka cabut berkas pun tidak bisa dilakukan. “Jadi, peserta mau daftar tinggal memasukkan NIK ke SMP yang dituju data sudah ada, tinggal print dan menunggu pengumuman,” katanya.

Untuk peserta nanti yang tidak lolos dalam PPDB, baik itu TK, SD, maupun SMP, Pemkot Semarang juga sudah memfasilitasi dengan menggratiskan biaya pendidikan di beberapa sekolah swasta. Sehingga bisa menjadi pilihan kedua apabila tidak lolos dalam PPDB sekolah negeri.

Adapun untuk TK swasta yang digratiskan oleh Pemkot Semarang sebanyak 7 sekolah, SD ada 14 sekolah, dan SMP ada 19 sekolah. Yakni, TK PGRI 64, TK PGRI 115, TK PGRI 23, TK PGRI 85, TK PGRI 02, TK Pertiwi 34, dan TK Pertiwi 39.

Sedangkan untuk SMP swasta gratis, yakni SMP PGRI 2, SMP Kuncup Melati, SMP Dondong Mangkang, SMP Putra Nusantara, SMP Purnama, SMP Advent Semarang, SMP Taman Dewasa Citarum, SMP Perintis 29, SMP IT Hidayatullah Gunungpti, dan SMP Islam Cahaya Insani. Juga SMP Muhammadiyah 2, SMP Purnama 2, SMP Hasanuddin 3, SMP Muhammadiyah 9, SMP Muhammadiyah 6, SMP Walisongo 02, SMP Islam Al Bisri, SMP Purnama 3, dan SMP Al Huda. “Itu semua kekurangan murid, jadi bisa dipilih bagi peserta yang tidak lolos PPDB,” katanya.

Untuk SD swasta gratis, antara lain SD Budi Luhur, SD Islam Darul Huda, SD Kusuma Bakti, SD Bina Putra, SD Marsudi Utami, SD Muhammadiyah 16, SD Bangunsari, SD Bakti Pratiwi, SD Muhammadiyah 6, SD Pangudi Luhur Vicentius, SD Gunung Brintik, SD Islam Rohmaniah, SD Hasanuddin 03, dan SD Islam Diponegoro.

“Untuk pengumuman sudah kami sampaikan di website PPDB. Saat ini, satu peserta PPDB SD bisa memilih tiga sekolah dan SMP memilih empat sekolah, dan yang jelas kemungkinan untuk diterima di luar zonasi sangat kecil,” tuturnya.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang M Abdul Majid menilai, jika dalam pelaksanaan PPDB tersebut sengaja menggunakan sistem online tanpa ada validasi nilai sudah tepat. “Ini kan untuk mengurangi kerumunan massa,” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Meski begitu, lanjutnya, setiap sekolah diharapkan tetap harus menyigakan petugas khusus. Khususnya untuk melayani warga atau peserta PPDB yang bingung dalam melakukan pendaftaran secara online. “Sehingga yang bingung dan tidak bisa mendaftar online bisa datang ke sekolah. Namun protokol kesehatan juga harus ketat,” katanya. (ewb/aro/bas)





Tinggalkan Balasan