Tunda Mudik, Lebaran terpaksa Sungkeman via Zoom

433
Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Momen lebaran biasa menjadi ajang berkumpul keluarga. Berbagi kebahagian menyambut hari kemenangan. Namun tahun ini, perayaan lebaran menjadi berbeda. Karena semua orang masih masih prihatin dengan adanya pandemi Covid-19. Mudik yang biasanya menjadi keharusan, sementara waktu tertunda sampai keadaan membaik.

Tradisi mudik tidak dilakukan oleh Annisa Nafasari tahun ini. Dirinya yang bekerja di Semarang mengaku bingung bagaimana cara untuk mudik ke kampung halamannya di Tegal. Pasalnya, semua moda transportasi umum, seperti kereta api yang biasa ia gunakan pun sudah tidak beroperasi. Selain itu, dengan tidak adanya libur panjang membuatnya memutuskan untuk tetap berlebaran mandiri di Semarang.

“Mau naik bus atau motor juga tidak berani sampai ke Tegal. Ya sudah sementara di kos saja lebaran kali ini,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku baru kali pertama berlebaran jauh dari keluarga. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu menunggu kepulangan putrinya. Namun sangat disayangkan kali ini dirinya terpaksa berlebaran menggunakan media daring. Ia akan sungkem dengan virtual. Berkomunikasi melalui pesan singkat, telepon atau video call dengan keluarganya.

“Ya pasti sedih sih. Apalagi orang tua. Tapi beruntung sih di Semarang ada teman satu kos yang tidak mudik juga. Jadi ada temannya,” ucapnya.

Untuk mengobati rasa rindu terhadap tradisi lebaran di keluarganya, ia berencana memasak opor bersama dengan teman satu kosnya. Sehingga meskipun jauh dari keluarga, ia tetap merasakan suasana lebaran di perantauan. Ia berharap setelah lebaran kondisi saat ini segera membaik. Sehingga ia dapat segera kembali ke kampung halamannya, dan n melepas rindu dengan sanak keluaraga.

“Tidak apa-apa. Sebisa mungkin saya akan mencoba untuk menghadirkan keluarga di perantauan. Bisa dengan vidcall atau membuat makanan khas rumah. Jadi, meskipun jauh, saya tetap merasa dekat dengan keluarga di rumah,” katanya.

Hal yang sama juga dialami Fitria Dwi. Meskipun perusahaan tempatnya bekerja memberikan surat rekomendasi agar dirinya dapat pulang ke Banjarnegara, ia justru memilih untuk tetap di Semarang. Alasannya, situasi yang ada di kampung halamannya pun tidak jauh beda dengan kota tempatnya merantau. Salah satu tetangganya juga terdeteksi terpapar virus korona. “Jadi orang tua justru bilang tidak usah pulang. Menunggu kondisi membaik dulu,” ujarnya.

Tidak hanya dirinya, sang ayah pun memutuskan hal yang sama. Dengan tidak pulang ke rumah pada lebaran kali ini. Meskipun diselimuti kesedihan tidak dapat berkumpul dengan keluarga besar, ia meyakini keputusan tersebut merupakan yang terbaik. Sehingga baik dirinya maupun keluarganya sama-sama tidak berpotensi menjadi penyebar virus korona di kampung halaman nanti.

“Ya, bisanya cuma lewat daring saja. Nanti maaf-maafannya lewat video call. Sedih sih ya. Tapi bagaimana lagi, cuma ini yang bisa kita lakukan agar tidak memperparah keadaan,” katanya.

Ia menghimbau agar seluruh perantau dapat melakukan hal yang sama dengannya. Yakni, dengan mematuhi anjuran pemerintah dengan tidak mudik. Harapannya, jika semua orang dapat patuh, maka pandemi yang ada dapat segera berakhir. Dan kehidupan yang sempat terganggu dapat kembali berjalan normal.

“Penginya pasti agar orang-orang dapat mengerti. Yang pingin mudik tidak hanya mereka. Saya juga. Namun saya memilih untuk menahan diri agar keadaan cepat membaik. Semoga saja mereka bisa melakukan hal yang sama,” harapnya.

Berbeda dari dua orang sebelumnya, alasan Rizal Mutaqin tidak mudik adalah karena ‘keparnoannya’ terhadap pandemi korona. Meskipun tidak terpapar, ia mengaku tetap takut bertemu dengan keluarga besarnya dan menularkan virus tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halamannya di Purwodadi. “Untungnya keluarga di rumah paham alasan saya. Karena bagaimanapun kesehatan juga menjadi yang utama. Makanya tidak masalah,” katanya.

Ia menambahkan, kemungkinan besar perayaan lebaran kali ini akan sama dengan hari libur biasa. Karena yang membedakan hanya terdapat pada ibadah salat Idul Fitri saja. Meskipun jauh dari keluarga, ia mengaku tidak terlalu kesepian. Mengingat banyak temannya yang juga tidak pulang kampung. Sehingga ia tidak merasa sendiri.”Beda pasti rasanya lebaran kali ini. Tapi memang sudah seperti ini keadaanya. Selama masih ada video call saya rasa perasaan kangen keluarga masih bisa terobati,” ujarnya.

Ariyani, 42, kali ini juga tidak mudik ke rumah mertuanya di Solo. Ia dan suaminya akan berlebaran di rumah orangtuanya di Semarang Barat. Padahal 10 tahun menikah, biasanya setiap lebaran selalu mudik ke Solo. “Ini pertama kali suami saya lebaran di rumah orangtua saya. Saudara-saudara dari suami juga tidak mudik,” katanya.

Untuk acara sungkeman, pihak suami sudah menyiapkan aplikasi zoom di hari pertama lebaran. “Nanti semua keluarga akan halalbihalal lewat zoom, baik yang di Jakarta, Semarang, termasuk mertua di desa. Ya, ini demi kebaikan bersama,” katanya. (akm/aro)





Tinggalkan Balasan