Tetap Legawa Meskipun Kangen dengan Suasana Gereja

Misa Kenaikan Isa Almasih yang digelar secara online di Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Randusari, Semarang, kemarin. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Perayaan Kenaikan Isa Almasih digelar di tengah pandemi Covid-19. Hampir semua gereja di Kota Semarang menggunakan media daring dalam menggelar misa. Seperti di Gereja Katolik Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Randusari, Semarang.

Di gereja ini digelar tiga kali misa online yang dapat diikuti para jemaatnya lewat channel Youtube resmi gereja. Yakni, pada Rabu (20/5/2020) sore, Kamis (21/5/2020) pagi dan sore. Pihak gereja telah memberikan panduan yang dapat diikuti para jemaat agar bisa beribadah dengan khusyuk di rumah masing-masing.

Pada misa online yang yang dilaksanakan Kamis (21/5/2020) pagi pukul 08.00 kemarin, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang  Mgr Robertus Rubiyatmoko sendiri yang langsung membuka misa tersebut. Didampingi dengan Vikaris Jenderal Keuskulan Agung Semarang Rm Yohanes Rasul Edy Purwanto yang pada kesempatan kali ini bertugas memberikan homili atau pewartaan sabda Tuhan atas bacaan perayaan ekaristi. Misa sekitar 1,5 jam pun berjalan khidmat dan penuh penghayatan terhadap kenaikan Isa Almasih.

Guna memaknai perayaan kali ini, dalam homili yang disampaikan,  Rm Yohanes mengajak umat kristiani untuk menjadi murid Kristus yang taat. Di mana dengan komitmen penuh mampu secara konsisten meneladani dan menjadi saksi Kristus di dunia.  “Menjadi murid berarti kita semakin serupa dengan Kristus. Dan untuk menjadi murid Yesus yang taat, kita harus berkomitmen dan siap menjadi saksi yang diutus,” ujarnya.

Ia menambahkan, apapun kondisinya, umat haruslah tetap siap diutus. Termasuk saat pandemi terjadi. Meskipun segala aktivitas terbatas dan imbauan tetap berada di rumah masih diterapkan, pihaknya ingin mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk mengasah diri menjadi murid yang berkualitas. Salah satunya dengan lebih banyak mempercakapkan Kristus atau membaca kitab suci di rumah masing-masing. Di mana hal tersebut dapat mengembleng diri untuk menjadi murid yang sejati.

“Menjadi saksi haruslah dengan tindakan keteladanan dengan hasil karya yang konsisten. Dan menjadi teladan bisa dibuktikan dengan mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah,” lanjutnya.

Tak lupa pihaknya berpesan umat kristiani harus dapat menjadi teladan dalam masyarakat. Salah satunya dengan menjadi pioneer dalam menjalani gaya hidup normal yang baru. Di mana bisa berjalan berdampingan dengan Covid-19. Dan tentu saja tetap berlandaskan iman Kristus di setiap kegiatannya.

“Saya bangga dengan umat Katolik yang mampu menjadi saksi di tengah masyarakatnya. Di mana dengan membantu sesama menghadapi Covid-19 semakin membuktikan bahwa kesempatan dalam menjalankan peruntusan Tuhan di dunia tidak berkurang. Meskipun di saat pandemi,” katanya.

Sementara itu, misa kenaikan Isa Almasih kemarin diikuti Leocadia Desy Pranatalisa secara online. Ia sempat berharap misa kali ini sudah dapat dilakukan di gereja. Namun dengan kondisi yang belum membaik, ia terpaksa mengikuti secara online. “Ya, kembali lagi via streaming. Tapi tidak papa. Tidak mengurangi kekhusyukkan saya dalam beribadah kok,” ujarnya.

Ia mengaku lebih legawa menjalani misa online kali ini. Meskipun kangen dengan suasana gereja, ia tidak mau menyalahkan keadaan yang ada. Ia justru bersyukur dengan adanya pandemi saat ini. Baginya dengan ini, justru Tuhan ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada seluruh manusia. Dengan kesusahan yang ada, manusia menjadi lebih peduli dan saling mengasihi sesama.

Ya, saya jadi berpikir mungkin ini cara Tuhan untuk membersihkan bumi juga. Jadi berkurang polusinya. Air jadi lebih bersih dan sebagainya. Jadi bumi bisa baik kembali untuk ditempati manusia,” lanjutnya.

Ia berharap pandemi yang ada dapat segera sirna. Sehingga ia dapat menjalankan ibadah dengan normal di gereja. Sembari menunggu waktu tesebut, ia akan terus berusaha melakukan hal terbaik di jalan Tuhan. Dengan tetap menjadi murid dan saksi Kristus yang taat di dunia.

“Meskipun memang manusia tidak luput dari dosa, tapi juga harus berusaha untuk tetap di jalan yang terbaik. Karena Tuhan juga mau memberikan yang terbaik untuk kita,” katanya.

Perayaan Kenaikan Isa Almasih berbeda dari tahun-tahun sebelumnya juga dirasakan Nita. Meski demikian, ia mengaku tetap beribadah dengan khusyuk. Bersama kedua anaknya, ia beribadah di kediamannya di Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.  “Biasanya bisa saling berjabat tangan untuk mengucapkan Selamat Merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus, kini hanya bisa saling mengucapkan lewat WA, video call dan via Instagram. Memang cara merayakannya beda, tapi intinya tak berubah,” jelasnya.

Baginya, yang terpenting tetap mengimani hakikat dari Hari Kenaikan Tuhan Yesus meski tidak bisa beribadah bersama di gereja. Nia –sapaan akrabnya– memaknai peristiwa naiknya Tuhan Yesus ke surga bukanlah akhir dari kisah karya penyelamatan Allah. Akan tetapi, menjadi awal yang mendasari kelanjutan karya Allah melalui murid-murid dan semua jemaat. Justru, lanjutnya, menjadi kisah kasih penyelamatan Allah yang masih terus dibagikan lewat kehidupan. Bukan hanya sebatas kata-kata, namun juga cara hidup yang mencerminkan kasih Allah yang tak terbatas.

Ia mencotohkan seperti halnya kondisi sekarang. Ketika dalam gereja tidak ada ibadah, tidak ada latihan paduan suara, bukan berarti gereja berakhir. Masih ada ibadah di tengah-tengah keluarga di setiap rumah, masih ada pelayanan kasih untuk sesama yang membutuhkan di tengah pandemi ini. Ketika tidak bisa berkumpul bersama keluarga, bukan berarti sebuah keluarga berakhir. Keluarga tetap ada, meskipun anggota berjauhan tetap saling mendoakan  Saling berkirim kabar lewat WA, video call, telepon atau media sosial lain.

You may not understand now, what I am doing. But someday, you will. Mungkin awalnya kita merasa marah, kecewa, kesal, kenapa harus ada virus korona? Kenapa segala sesuatunya jadi tidak bebas, tapi kita harus percaya bahwa ada rencana Tuhan yang jauh lebih indah daripada rencana kita. Yang pastinya akan terjadi tepat sesuai waktu yang sudah diatur oleh Tuhan. Bukan sesuai waktu yang kita inginkan,” tutur Nia. (akm/ifa/aro/bas)





Tinggalkan Balasan