Tak Jalankan Protokol Kesehatan, Pasar dan Mal Bakal Ditutup

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Dalam sepekan ini, pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional kembali dipadati pengunjung. Warga mulai berbelanja kebutuhan lebaran. Yang memprihatinkan, warga mulai melupakan bahaya Covid-10. Terbukti, banyak pengunjung tidak mengindahkan protokol kesehatan. Terutama di pasar tradisional. Di kawasan Pasar Johar Lama dan Johar Masjid Agung Jawa Tengah, masih ditemukan pengunjung dan pedagang yang tidak mengenakan masker. Di mal, pengunjung tidak lagi menjaga jarak, terutama di depan kasir. Mereka bergerombol antre pembayaran.

Pantauan koran ini, hampir semua pengelola mal memang sudah menerapkan protokol kesehatan. Di depan disiapkan tempat cuci tangan. Di pintu masuk, setiap pengunjung dicek suhu tubuhnya dengan thermo gun. Yang tidak memakai masker dilarang masuk mal. Namun begitu sudah masuk mal, pengunjung mulai mengindahkan aturan physical distancing. Di pusat perbelanjaan Lotte Mart Jalan Majapahit, warga antre di depan kasir. Meski rata-rata sudah mengenakan masker, namun mereka tetap bergerombol.

“Saya belanja buat parsel sanak famili. Antrenya lumayan lama. Karena rata-rata belanjanya banyak. Lihat saja, setiap troli penuh barang belanjaan,” kata Riyani, 40, warga Semarang Selatan saat ditemui di Lotte Mart.

Ratna, 32, warga Semarang melihat sejumlah mal dan supermarket mulai ramai dikunjungi warga untuk memenuhi kebutuhan lebaran. Sejumlah jalan juga dipadati kendaraan. Berbeda dari hari-hari sebelumnya.  ”Dari temen saya yang kerja di mal, di sana juga sudah mulai ramai,” ujar perempuan yang bekerja di salah satu tempat laundry di Semarang ini.

Rini, 27, warga lainnya mengatakan, sejumlah mal memang sudah ramai pengunjung. Meski demikian, ia katakan, protokol kesehatan tetap dilakukan dengan ketat. Pengunjung wajib mengenakan masker, menggunakan handsanitizer yang disediakan dan dicek suhu tubuhnya. ”Kalau tidak menggunakan masker dilarang masuk. Ada sekuriti yang jaga,”ujar perempuan yang belum lama ini berkunjung ke mal bersama anaknya.

Menanggapi kondisi ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya masih membuka peluang aktivitas ekonomi tetap berjalan. Namun jika dalam pelaksanaannya tidak mengikuti protokol kesehatan, maka pasar maupun supermarket akan ditutup. ”Semuanya sudah dikontrol ketat. Sudah berjalan sekitar satu minggu ini. Kalau tidak mau mengikuti aturan, saya minta ditutup,” tegasnya.

Mengenai hal ini, ia katakan, pemerintah kabupaten/kota sudah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan penataan. ”Banyak kawan-kawan bupati, wali kota melakukan tindakan. Seperti di Kota Tegal itu langsung ditata, Wonosobo juga. Di Banyumas, bupati dan wakilnya cukup rajin menata,” jelasnya.

Selain di pasar, gubernur juga meminta agar kabupaten/kota mengikuti ketentuan pemerintah pusat untuk tidak menyelenggarakan salat id di masjid. Beberapa daerah yang memperbolehkan salat id di masjid, menurutnya, memang memiliki pertimbangan masing-masing. Persyaratannya pun ketat. Meskipun demikian, menurutnya, risikonya juga tinggi. ”Problemnya kemudian jika ada OTG (orang tanpa gejala), karena sampai saat ini masih ada yang nekat mudik,” tandasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang terus melakukan operasi di berbagai tempat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Utamanya di tempat umum seperti pasar dan mal. Menjelang H-4 lebaran kemarin (20/5/2020), ratusan pengunjung Paragon Mal Semarang dites swab. Kegiatan ini merupakan operasi gabungan yang dilakukan Dinas Perdagangan, Satpol PP, Dinas Kesehatan Kota Semarang beserta pihak terkait.

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto mengatakan, tes swab di mal ini diikuti oleh 100 orang, terdiri atas karyawan, penjaga tenant, hingga pengunjung yang dipilih secara acak.

“Pemkot Semarang mengalokasikan tes swab untuk 100 orang. Semuanya cek secara gratis. Hasilnya nanti akan disampaikan setelah tiga hari, jadi maksimal hari Sabtu,” jelas Fajar.

Berbeda dengan operasi biasanya di tempat ini sangat istimewa. Pihak General Manager Paragon Mal sendiri yang meminta secara langsung. Padahal selama ini pihaknya yang selalu aktif mencari lokasi untuk pemeriksaan. “Tadi malam kami dihubungi manajemen Paragon, meminta untuk diadakan pemeriksaan karena untuk kenyamanan para pengunjung,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman menambahkan, warga yang mengikuti pemeriksaan ini harus menunjukkan identitas KTP dan nomor telepon. “Hasilnya nanti akan ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan,” beber Fravarta.

Seminggu terakhir ini, petugas gabungan rutin mengadakan pemantauan pelaksanaan PKM. Sebelum di Mal Paragon ini, telah dilakukan operasi gabungan di Mal Ciputra, ADA Swalayan dan Java Mall. Tak hanya di mal, pagi hari juga dilakukan tes swab di Pasar Pedurungan.

Bersamaan dengan rapid test yang ada di pusat perbelanjaan ini, pihaknya juga memantau bagaimana pelaksanaan PKM, sudah dilaksanakan atau belum oleh pengelola mal. Dimulai dari pintu masuk apakah ada alat protokol kesehatan atau tidak. Dilihat juga bagaimana perlakuan terhadap pengunjung yang tidak pakai masker.

“Kami mengimbau kepada seluruh pengelola yang ada termasuk ke Asosiasi Pelaku Bisnis Indonesia (APBI, Red) di Semarang ini supaya mereka bisa menaati kegiatan protokol kesehatan,” jelasnya.

Dikatakan, jika didapati ada pengunjung maupun pedagang yang tidak memakai masker, pihaknya meminta saat itu juga untuk menutup dagangannya. Baru boleh berjualan keesokan hari, tentunya dengan menaati aturan pemerintah.

Salah satu peserta tes swab, Rahma mengaku sedikit takut pada saat proses pemeriksaan. Namun senang dengan diadakannya kegiatan gratis ini. “Takut tadi, kan diambil sampel, mulai dari lendir di mulut sampai hidung. Agak sakit sama nyeri tadi rasanya,” akunya. (sga/ifa/aro/bas)





Tinggalkan Balasan