Ngaji Nashoihul Ibad, Repost Siaran dari MAJT

Santri Pondok Pesantren Addainuriyah-2 Semarang bertadarus di lantai 2 pondok. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Suasana pondok pesantren Addainuriyah-2 Semarang sangat sepi. Tidak ada aktivitas apapun. Hanya terlihat beberapa santri yang masih tinggal.

Lurah pondok, Fatkhur Rokhim, 25, mengatakan, 500-an santri dipulangkan setelah ada imbauan dari pemerintah. ”Sampai kapan, tidak tahu. Menunggu nanti kebijakannya,” ujar pria asal Kabupaten Semarang ini.

Saat ini hanya ada 20 santri yang masih berada di pondok pesantren Jalan Sendang Utara Raya nomor 38 Gemah, Pedurungan, Semarang ini. Mereka adalah pengurus pondok yang sewaktu-waktu harus siap menangani masalah di pondok. Menemui pihak luar yang berkepentingan di pondok, ataupun menangani persoalan lainnya.

”Misal kalau ada masalah pada pengairan. Ya pokoknya jaga pondok kalau ada apa-apa,” ujar pria yang sedang menunggu wisudanya ini.

Ramadan kali ini dirasa sangat berbeda. Tahun lalu, selalu ada tarawih di masjid, tadarus, ngaji posonan, dan sejumlah kegiatan lainnya. Ngaji untuk santri diintensifkan. Bakda Asar ada ngaji, sehabis Tarawih dan selepas Subuh ada ngaji. ”Tahun ini semua dibatasi. Tidak ada kegiatan apapun dari pondok,” ujarnya dengan tangan kiri menumpu dagu dan pandangan mata kosong.

Mereka yang masih tinggal biasa menjalankan tarawih secara terbatas. Maksimal 10 orang. ”Jadi tiap lantai ada 10 orang santri. Itu jamaah. Dengan pembatasan. Protokol kesehatan tetap kami laksanakan,” ujarnya menceritakan.

Termasuk ketika tadarus Alquran, para santri melakukannya di masing-masing kamar. Masjid sepi. Hanya ada adzan saja. ”Kami berharap pandemi ini segera berakhir,” harapnya.

Meski demikian, ia katakan, masih ada ngaji online yang disampaikan pengasuh pondok pesantren KH Dzikron Abdullah. Ngaji ini disiarkan melalui akun YouTube pondok untuk diakses oleh santri. ”Ngajinya Nashoihul Ibad. Itu sebenarnya untuk siaran di MAJT. Di-repost di akun Pondok Addainuriyah. Bisa diakses santri,” ujarnya.

”Jadi bisa tetap ngaji. Karena meskipun di rumah masing-masing tapi pahalanya sama,” tambahnya.

Shihab, salah satu santri juga merasakan hal sama. Pria asal Gubug, Grobogan ini masih tinggal di pondok. Ia sedang menjaga pom mini di depan sekretariat pondok pesantren saat koran ini datang. ”Tidak ada aktivitas apapun. Semuanya pulang,” ujarnya.

Pondok Addainuriyah, dikatakan, dihuni santri dari berbagai daerah. Ada yang sembari kuliah, sekolah dan ada yang hanya mengaji di pondok. ”Sangat beda dengan tahun lalu,” ujar pria yang mengenakan kaos, bersarung dan berpeci itu. (sga/ida/bas)





Tinggalkan Balasan