Lewat Jalan Tikus, Penumpang Terisi Penuh

Grafis: Ibnu/Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Meski dilarang, masih ada saja perantauan yang nekat mudik ke kampung halaman. Tercatat ada sekitar 14.343 pemudik menggunakan bus umum masuk Jateng. Mereka mengelabuhi petugas dengan melewati jalan tikus.

Imam, salah satu warga Jateng tiba di kampung halaman pada 4 Mei lalu. Ia menuju Jateng naik bus pariwisata yang disewa oleh salah satu agen bus. Dari Jakarta, bus yang ditumpanginya berangkat pukul 22.00.

Sebenarnya ia khawatir diberhentikan dan diminta putar balik. Namun, nyatanya, meskipun melewati sejumlah pos pemantauan, keluar masuk tol, dirinya bisa sampai di rumah. ”Di Jakarta dua kali keluar tol. Lewat jalan tikus juga sih memang,” ujar Imam menceritakan pengalamannya.

Alhamdulillah bisa sampai rumah. Bukan tidak mengindahkan anjuran pemerintah. Ini saya juga melakukan karantina mandiri untuk memutus penularan,” tambahnya.

Meski senang bisa lolos dari pemantauan, ada hal yang ia sesalkan. Bus yang ia tumpangi terisi penuh. Padahal di awal ia dijanjikan 50 persen kapasitas. ”Jadinya kan tidak ada physical distancing,” ujarnya. ”Khawatir terkontaminasi juga,” tambahnya.

Pengamat transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, meskipun tetap dilarang, realialitanya banyak yang menggunakan angkutan umum untuk mudik. Bukan untuk berwisata. ”Karena tempat wisata juga semuanya tutup. Ini ambigu,” katanya.

Ia mengatakan, sejak 26 Maret-9 Mei 2020 berdasar data Dinas Perhubungan (Dishub) sudah ada 824.833 orang yang masuk ke Jateng. Bahkan, hingga saat ini masih mengalir sejumlah perantau ke Jateng.

Sebanyak 198.463 orang masuk ke Jateng dengan menggunakan kendaraan pribadi, sepeda motor, atau kendaraan sewa. Bisa jadi, ia katakan, banyak juga yang menggunakan angkutan pelat hitam dan angkutan barang.

Ia menegaskan, esensi pembatasan atau pengendalian transportasi adalah untuk mencegah penularan virus korona. ”Untuk itu, penting untuk memastikan seseorang yang mendapatkan pengecualian menggunakan transportasi umum itu benar-benar negatif Covid-19,” tandasnya.

Mengenai pemudik yang memilih lewat jalur tikus untuk menghindari pemeriksaan, ia katakan, memang sulit untuk mencegahnya. Maka, cara yang dapat dilakukan adalah melakukan karantina di daerah tujuan. ”Perlu peran masyarakat,” ujarnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo selalu mengimbau warga Jateng agar tidak mudik untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Pemerintah telah berkoordinasi memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan mereka di perantauan.

Dalam hal ini, gubernur juga telah meminta kepada pemerintah pusat untuk memastikan masyarakat yang tidak dapat mudik mendapat insentif. ”Tolong jangan pulang dulu. Apalagi dengan ngumpet-ngumpet. Bahaya,” katanya.

Pihaknya juga telah meminta bupati/wali kota hingga kepala desa untuk merespon ketika ada yang masih nekat mudik. Yakni, dengan melakukan karantina. (sga/aro/bas)





Tinggalkan Balasan