Inovasi dan Kreativitas Kunci Ketahanan Pendidikan di Tengah Pandemi

913
Foto: Ilustrasi/dokumen Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kota Semarang telah memasuki usia ke-473 tahun. Tiap tahunnya perayaan yang dilakukan selalu megah dan disambut suka cita warganya. Namun ada hal lain yang berbeda tahun ini. Ditengah pandemi korona saat ini justru menjadi pembuktian bahwa Kota Semarang dapat solid dan tangguh dalam segala bidang. Termasuk Pendidikan.

Sama dengan daerah lainnya, kegiatan pendidikan Kota Semarang pun terhambat akibat virus tersebut. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah pun ditiadakan. Digantikan dengan belajar di rumah. Seluruh pelaksana pendidikan pun mau tidak mau harus berbenah. Mereka melakukan berbagai inovasi dan kreatifitas agar tetap dapat menjalankan KBM tersebut. Termasuk dari Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri menuturkan banyak kebijakan yang diberikan pemerintah kota Semarang untuk menjamin pendidikan tetap terlaksana meskipun di tengah pandemi. Salah satunya terkait anggaran. Pihaknya menjelaskan sesuai dengan instruksi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat ini penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) lebih fleksibel dari sebelumnya.

Sekolah dapat menggunakan dana tersebut untuk mengfasilitasi kegiatan belajar mengajar di rumah. Baik untuk membeli kebutuhan paket data, alat perlindungan diri hingga membiayai tenaga kependidikan yang terdampak. Hal tersebut sebagai upaya untuk mengurangi potensi dampak pandemi pada bidang pendidikan seperti pengaturan honorarium guru honorer dan swasta, kendala membengkaknya kebutuhan paket data siswa guru dalam pembelajaran dan lain sebagainya.

“Kalau sebelumnya alokasi BOS untuk honorarium guru tidak boleh dari 50 persen. Nah sekarang bebas. Jadi anggaran tersebut boleh digunakan untuk membiayai tenaga pendidikan swasta yang terdampak,” ujarnya.

Dirinya menuturkan Kota Semarang sendiri tahun ini mendapat anggaran BOS dari pusat sebesar Rp 110.068.440.000. Jumlah tersebut langsung dibagikan ke 587 SD/MI Negeri dan Swasta serta 218 SMP/MTs Negeri dan Swasta di Kota Semarang. Terkait mekanisme pencairan, tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Dimana semula dibagi menjadi empat periode sekarang menjadi tiga periode.

Nantinya anggaran tersebut dapat digunakan untuk keperluan siswa dan guru selama belajar di rumah.”Bisa juga digunakan untuk membiayai honorarium guru non ASN yang terdampak. Di Semarang sendiri secara keseluruhan kita punya 1.871 pengajar non ASN,” lanjutnya.

Pihaknya menambahkan selain BOS, Pemerintah Pusat juga memberikan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP). Dimana anggaran tersebut dapat digunakan untuk perbaikan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Tahun ini jumlahnya sebesar Rp 32.946.600.000.

Dan tidak berhenti di situ saja, meskipun telah mendapat bantuan dari pusat dengan jumlah yang banyak, pihaknya melanjutkan Pemkot Semarang masih memberi tambahan anggaran untuk pendidikan. Yakni sebesar Rp 56.839.244.000. Hal tersebut sebagai komitmen pemerintah kota Semarang untuk menjamin pendidikan bagi warganya. Pihaknya berharap anggaran tersebut dapat semakin memperkuat ketahanan Kota Semarang untuk terus memberikan kualitas pendidikan yang terbaik apapun kondisinya termasuk saat pandemi seperto ini.”Sementara untuk bantuan BOP dari Kota Semarang hanya khusus bagi TK Negeri yang jumlahnya sebesar Rp 419.000.000,” lanjutnya.

Dengan adanya anggaran pendidikan yang sangat besar tersebut, pihaknya mengaku akan melakukan pengawasan yang ketat. Sebab bagaimanapun anggaran tersebut harus dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan pendidikan Kota Semarang. Pihaknya telah bekerja sama dengan Inspektorat dan BPPK untuk mengawasi pengunaan dana BOS tersebut. Sehingga bagi siapapun yang melakukan penyelewengan dapat langsung terdeteksi.

Khusus untuk pemanfaatan dana BOS saat pandemi ini, pihaknya menjelaskan sekolah harus dapat memberikan rincian penggunaan anggaran dengan maksimal waktu pada minggu kedua ramadan. Jika setelah waktu tersebut sekolah tidak dapat mempertanggung jawabkan, maka bisa dipastikan dana BOS periode kedua tidak akan dicairkan.

“Selalu dan terus menerus kita ingatkan, BOS hanya digunakan untuk keperluan sekolah. Kami telah meminta bantuan pihak ahli untuk mengawasi. Jadi Insya Allah penggunaanya efektif dan efisien,” katanya.

Tidak hanya soal anggaran, pihaknya menjelaskan ada hal lain yang perlu penanganan khusus dalam pelaksaanaan pendidikan di tengah Pandemi. Yakni mengenai pengetahuan guru terhadap sistem pemebelajaran daring. Pihaknya tidak memungkiri masih banyak guru yang kesusahan dengan sistem tersebut.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, pihaknya telah membuka kelas online bagi para guru. Dimana mereka dapat mengupgrade kemampuan mengenai sistem KBM daring. Dan menerapkan di sekolah masing-masing.”Tidak semua guru ya yang ikut. Hanya sebagian saja. Nanti yang kita latih wajib memberitahukan ke temannya sesama guru. Nah nantinya kan jadi bisa semua,” lanjutnya.

Walaupun di tengah pandemi saat ini, dirinya berharap pendidikan Kota Semarang tetap berjalan baik. Karena bagaimanapun pendidikan adalah kehidupan. Agar kehidupan warga Semarang semakin sejahterata maka pendidikan harus terus terlaksana. Dan pihaknya akan berusaha sekuat tenaga untuk berinovasi dan berkreasi agar dapat menjawab segala tantangan demi terjaminnya pelaksanaan pendidikan yang baik di Semarang.

“Tak lupa saya ucapkan selamat ulang tahun Kota Semarang ke-437. Dibawah kepemimpinan Bapak¬† Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota saya yakin kita semua bisa bergerak bersama menjadikan Kota Semarang lebih baik dan sejahtera bagi warganya. Di semua bidang termasuk pendidikan,” pungkasnya. (akm/bas)

 

Tinggalkan Balasan