Gorong-Gorong Ambles, Pemukiman Warga Kebanjiran

215
Petugas mulai mengerjakan jalan yang ambles di wilayah Jangli Krajan Barat IV, Kelurahan Jatingaleh. (M Haryanto/Jawa Pos Rdar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Sebuah jalan perkampungan di wilayah RT 1 RW 3 Jangli Krajan Barat IV, Kelurahan Jatingaleh mengalami ambles. Saat ini, dinas terkait masih melakukan perbaikan. Diperkirakan, jalan tersebut dapat difungsikan kembali dalam kurun waktu tidak sampai sepuluh hari.

Terlihat, lokasi jalan yang ambles tersebut selebar kurang lebih enam meter. Kejadian ini disebabkan oleh derasnya hujan yang mengguyur wilayah tersebut pada Minggu (12/4/2020) siang.

“Hujan kemarin itu sekitar pukul 14.00, terus sekitar jam 15.00 mengalami ambles. Memang hujannya kemarin sangat deras,” ungkap laki-laki warga setempat bernama Angkasa kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (13/4/2020).

Jalan yang ambles tersebut, dibawahnya merupakan sungai yang terdapat terowongan terbuat dari baja dengan diameter mencapai lima meter. Menurut Angkasa, terowongan tersebut mengarah ke jalan tol.”Itu terowongan jembatan kampung wilayah RT 1 RW 3 Jangli Krajan mengarah ke akses jembatan tol pas bagian naik itu kan bawahnya ada sungai, dibikin terowongan itu,” bebernya.

Amblesnya jalan tersebut membuat aliran air mengalami tersumbat dan meluber ke pemukiman warga. Setidaknya ada dua rumah yang kebanjiran parah lantaran berada dekat dengan lokasi.

“Kondisi air tinggi sekali masuk ke rumah. Begitu jembatan ambrol air terus meluap ke pemukiman warga. Ada sekitar dua rumah milik pak Ayik sama pak Arif. Begitu air dapat jalan air langsung surut,” katanya.

Terlihat, para pekerja dan petugas dari Dinas Pekerja Umum Kota Semarang telah mendatangi lokasi tersebut dengan menurunkan alat berat untuk melakukan perbaikan awal.”Kalau kendaraan ya jelas gak bisa lewat, harus muter dari depan pasar Jangli bisa lewat Kesatrian bisa. Sebaliknya juga gitu,” pungkasnya.

Herman, pelaksana perbaikan dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang menduga tanah yang dibawah terowongan tersebut telah tergerus oleh air. “Itu namanya gorong-gorong aremko dari baja itu. Itu tidak longsor, kemungkinan patah karena bawahnya mungkin sudah pada kropos atau bagaimana gak tahu. Bawahnya sudah bocor. Ini sudah lama, pembangunan tahun 1982 jadi memang sudah faktor usia,” jelasnya.

Saat ini, langkah yang dilakukan adalah melakukan perbaikan dengan cara mengurug kembali terowongan tersebut menggunakan tanah. Menurutnya, perbaikan tersebut memakan waktu tidak sampai 10 hari.

“Proses pengerjaan tidak sampai 10 hari selesai. Kita kan urug kembali, sampingnya dibuntu pakai pasanganya. Ini sudah nyambung menata letaknya saja supaya tidak gerak lagi, geser,” pungkasnya. (mha/bas)

 





Tinggalkan Balasan