Tetap Khusyuk Ikuti Misa Paskah dari Rumah

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Seluruh umat nasrani di Jawa Tengah mengikuti kegiatan rangkaian misa Paskah 2020 secara online. Berbekal peralatan ibadah seperti meja dengan taplak putih penganti altar, salib, lilin dan lainnya mereka dapat menjalankan ibadah Paskah dari rumah masing-masing.

Pastur Kepala Campus Ministry (Reksa Pastural Kampus) Unika Soegijapranata, Romo Aloysius Budi Purnomo menuturkan, Keuskupan Agung Semarang memutuskan mengadakan misa online sesuai dengan anjuran pemerintah. Pasalnya, demi menjaga keselamatan dan kesehatan umat,  langkah tersebut merupakan yang terbaik di tengah pandemi Covid-19. Pihaknya akan menyediakan kanal live streaming baik pada sosial media atau media elektronik. Sehingga tidak hanya jamaah saja, namun para imam dan suster dapat mengikuti ibadah dari rumah masing-masing.

“Untuk misa Tri Hari Suci mulai Kamis Putih (9/3/2020) hari ini (kemarin), Jumat Agung, Minggu Paskah itu sendiri kami adakan secara online. Sedangkan untuk prosedurnya sama, hanya saja dilakukan di rumah masing-masing,” jelasnya.

Ia melanjutkan, perayaan Paskah tahun ini mengambil tema “Terlibat, Menjadi Berkat dan Berbuah dalam Hidup Masyarakat”. Di mana dalam kesempatan tersebut, Uskup Agung berpesan agar umat nasrani dapat menjadi manusia yang beragama dan beriman secara transformatif. Pihaknya meminta umat dapat memiliki daya untuk memperbaiki kehidupan dalam segala hal. Baik dalam kerukunan, kesejahteraan dan lainnya. Sehingga mereka dapat mewujudkan peradaban kasih bagi seluruh masyarakat tanpa melihat apa agama dan kepercayaan yang mereka anut.

“Intinya umat harus memiliki daya ubah untuk dapat menciptakan peradaban lebih sejahtera, bermartabat dan beriman apapun keyakinannya,” katanya.

Meskipun tetap dapat menjalankan misa, pihaknya tidak memungkiri adanya perasaan sedih pada kebaktian kali ini. Pasalnya, ada sesuatu yang berbeda mengingat baru pertama kali pihaknya merayakan Paskah secara daring. Namun ia meminta para umat dapat memanifestasikan perasaan sedih tersebut untuk menghayati kisah sengsara Yesus Kristus. Sehingga keheningan dan kesengsaraan umat saat ini dapat disatukan dengan kenangan Isa Al Masih.

“Jangan hanya dijadikan kesedihan saja, namun momen kali ini justru harus menambah keimanan kita kepada Yesus Kristus,” pesannya.

Tak lupa dirinya menuturkan pada misa kali ini terdapat waktu khusus untuk berdoa terkait pandemi korona. Sehingga umat dapat bersama-sama berdoa agar keadaan dapat membaik. Dan tak lupa ia meningatkan umat agar terus tolong-menolong antarmanusia. Sehingga mampu bersama-sama melewati cobaan tersebut.

Ya yang bisa kita lakukan hanya gotong royong. Secara pasif kita bisa menjalankan social distancing. Kalau aktif, kita bisa terus berderma tanpa harus dipamerkan. Yang penting untuk diri kita dan Tuhan saja,” katanya.

Keluarga Melinda Novita E, warga Wologito, Semarang Barat tadi malam melakukan Perayaan Ekaristi Pekan Suci Paskah 2020 Keuskupan Agung Semarang secara online di rumah bersama suami dan putrinya. Mereka duduk dan berdoa dan mendengarkan kotbah dari Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dari Gereja Katedral.

Melinda mengaku selama ini ia dan keluarganya mengikuti kegiatan di gereja. Tetapi karena ada imbauan dari pemerintah melakukan social distancing, pihaknya mengikuti misa di rumah bersama keluarganya. “Dalam kondisi seperti ini justru lebih khusyuk dan lebih dekat lagi dengan Tuhan, karena walaupun sebenarnya kami merindukan untuk bisa bertemu dan ibadah bersama dengan banyak umat di gereja,” katanya.

Umat Katolik asal Pedurungan, Magdalena Niken, 52, memahami alasan pemerintah dan keuskupan menjalankan misa via online. Ia menyadari di tengah pandemi korona saat ini, langkah tersebut merupakan keputusan terbaik. Meskipun ada perasaan kurang, ia mengaku tetap menjalankan ibadah secara bersungguh-sungguh. Sehingga baik di rumah maupun di gereja tidak memengaruhi kekhuyukan dalam beribadah. “Ya pasti sedih. Ada yang kurang greget ibadah di rumah. Tapi mau bagaimana lagi. Memang kondisi saat ini tidak memungkinkan,” tuturnya.

Meskipun di tengah keterbatasan, ia mengaku tetap bersyukur dengan adanya ibadah di rumah masing-masing. Baginya, dengan cara ini justru dapat memperkuat ikatan keluarganya. Karena mau tidak mau mereka akan beribadah bersama di rumah. Tak lupa ia tetap berharap agar kondisi saat ini cepat membaik. Sehingga ia dapat kembali menjalankan ibadah di gereja seperti sebelum wabah korona.

“Untuk Paskah kali ini selain memohon berkat untuk keluarga, saya juga berharap semoga keadaan segera membaik. Dan siapapun yang berjuang melawan korona mendapat berkat dan perlindungan dari Tuhan,” harapnya.

Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam kotbahnya mengatakan, Yesus memberikan dirinya sendiri sebagai pengganti anak domba Paskah yang menyelamatkan anak manusia. Dalam permohonan selalu ada kerinduan untuk menyambut Yesus, dan kerinduan semakin kuat dalam suasana wabah korona.  (akm/hid/aro/bas)
















Tinggalkan Balasan