Wayang Ringut Pentaskan Cerita Leluhur, Musiknya dari Penthongan

Wayang Ringut khas Nongkosawit yang dikelola oleh Ketua Komunitas Kandang Gunung (paling kiri) bersama Lurah Nongkosawit (memakai batik) berfoto di Omah Pang. (Alvi Nur Janah/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Lain halnya dengan wayang tenda, Kelurahan Nongkosawit Kecamatan Gunungpati memiliki Wayang Ringut. Dinamakan ringut, karena bahan baku pembuatan wayang terbuat dari sisa kerajinan bambu.

Ide pembuatannya muncul dari Komunitas Kandang Gunung Nongkosawit. Semula para seniman berkumpul membuat sebuah seni yang unik dan langka. Semula hanya seperti wayang Werkudara, Janaka dan lainnya. “Otomatis pakem yang dipakai berdasarkan cerita tutur atau legenda masyarakat Nongkosawit,” ujar Ketua Komunitas Kandang Gunung Nongkosawit Warsono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Wayang Ringut memiliki pakem tersendiri karena mengedepankan cerita tutur. Itu berarti cerita yang turun temurun yang dipercaya masyarakat. Masyarakat sekitar biasanya percaya karena bagian dari sejarah lingkungannya. Meski sejarah itu tidak dibatasi dimensi ruang dan waktu.

Cerita pembuka yang wajib ditampilkan adalah asal-usul atau legenda Desa Nongkosawit. “Cerita pembuka pasti mengenai tokoh terkemuka Nongkosawit. Ada yang nanti berperan sebagai Mbah Wali Hasan Munadi, Mbah Hajar Buntit dan tokoh-tokoh lain,” katanya menambahkan.

Dalang biasanya bercerita asal-usul mengapa dinamakan Nongkosawit. Jadi Nongkosawit itu berasal dari kata Nongko (pohon nangka) yang hanya satu pohon. Bukan gabungan dari Nangka dan Sawit. Nongkosawit sendiri dahulu pohonnya berukuran sangat besar. Saking besarnya, bisa untuk bersembunyi bagi orang banyak sekaligus.

Setelah cerita pembuka, barulah masuk pada skenario sesuai yang diinginkan penonton. “Pernah ada tamu dari Bank Indonesia (BI). Pasti saya ganti temanya, terkait keuangan yang berhubungan dengan perbankan. Pakem wayangnya bisa berubah sesuai dengan tema karakter lakon yang akan dimainkan,” ungkapnya.

Cerita yang berbeda juga berlaku pada tetabuhan atau alat pengiringnya. “Wayang Ringut biar unik, langka dan berbeda, tabuhannya penthongan, kendang dan gong. Tidak pakai gamelan,” imbuh Warsono.

Iringan lagu ketika wayang dipentaskan pun berbeda dari lagu wayang pada umumnya. “Contohnya lagu gethuk. Cerita Wayang Ringut pertama kali ditampilkan adalah asal-usul Nongkosawit. Adapun lakon dan tokohnya bisa berubah sesuai dengan jalan cerita yang dituturkan dalang,” kata Warsono sekaligus sebagai dalang.

Saat ini, jumlah Wayang Ringut sebanyak 50. Jumlah segitu termasuk wayang yang kecil-kecil. “Kalau yang bentuk Gunungan itu butuh 3 hari pembuatan. Kalau yang ukuran umum semacam Werkudara, Janaka, Semar, itu paling butuh waktu sehari saja,” beber Agus SIM, pembuat Wayang Ringut.

Pada 2019, Wayang Ringut diperkenalkan. Yakni, dibuat memang dalam rangka untuk atraksi seni dan wisata. Dalam satu paket Desa Wisata Nongkosawit. Wayang ditampilkan di Omah Pang sebagai pusat wisata di Dusun Nongkosawit. “Pengisi lagu itu anak-anak muda perempuan yang masih semangat nguri-nguri budaya,” pungkas Warsono.

Lurah Nongkosawit Al Choiri mengungkapkan hal senada. “Saya sangat mendukung dengan adanya Wayang Ringut. Di samping nguri-uri budaya, Wayang Ringut menambah kegiatan yang mendukung desa wisata,” ucapnya. (avi/ida)

Baca Juga: Wayang Tenda Bikin Anak-Anak Ketagihan

 

 





Tinggalkan Balasan