Hanya 16 Umat yang Hadiri Tawur Kesanga

Umat Hindu Kota Semarang saat melaksanakan upacara Tawur Kesanga di Pura Agung Girinatha, Semarang, Selasa (24/3/2020) sore. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Umat Hindu Kota Semarang menggelar upacara keagamaan Tawur Kesanga di Pura Agung Girinatha, Semarang, Selasa (24/3/2020) sore. Prosesi Tawur Agung Kesanga dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942.

Seperti saat upacara Melasti lalu, Tawur Kesanga juga diikuti umat Hindu dalam jumlah terbatas.  Hanya 16 orang. Mereka mengenakan busana putih khas Bali. Mengenakan udeng (ikat kepala) bagi laki-laki, dan kebaya bagi wanita. Ada juga yang mengenakan masker. Di meja doa, tersedia lengkap aneka sesaji, air suci, kelapa muda, buah jeruk, pisang, buah pir, janur kuning, hio swa, serta piranti sembahyang lainnya.

Di tengah pura juga didirikan lima rumah sesaji persembahan bagi Buta Kala dari bambu yang dikelilingi anyaman daun kelapa. Ibu-ibu tampak menata sesaji di rumah bambu yang dihias rumbai-rumbai dari janur kuning. Setelah semua siap, umat Hindu berkumpul di bawah tenda dan memanjatkan doa dalam tapa brata (meditasi).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang Nengah Wirta Dharmayana mengatakan, upacara Tawur Kesanga merupakan upaya pembersihan alam semesta, yang salah satu esensinya berupa ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang  Maha Esa, karena selama ini telah banyak memberikan anugerah dari alam semesta.  Tawur Kesanga juga merupakan upaya untuk melepaskan sifat serakah yang melekat pada diri manusia.

“Itulah esensi dari Tawur Kesanga. Jadi, nanti ada pembersihan, pencaruan, dan lain sebagainya. Itu bentuk secara spiritualnya,” jelasnya.

Tahapan dalam Tawur Kesanga itu melaksanakan pencaruan dengan memberikan persembahan kepada Buta Kala baik yang ada di alam semesta, dan juga dalam diri manusia. Seperti aura negatif, perilaku negatif, kesombongan, dan keserakahan. Pembersihan itu dilakukan sebelum melakukan brata penyepian.

“Sehingga ketika masuk dalam brata penyepian, sifat Buta Kala itu harus direduksi. Ketika melaksanakan brata penyepian dalam kondisi hening dan khusyuk, sehingga doa-doa akan diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

 

Nengah menambahkan, upacara Tawur Kesanga ini seharusnya diikuti oleh seluruh umat Hindu di Kota Semarang. Namun melihat kondisi dan kesehatan lantaran wabah korona, serta adanya imbauan dari pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas massa, harus dihormati  karena untuk kebaikan bersama.

Setelah melakukan Tawur Kesanga, umat Hindu melantunkan doa selama 24 jam hingga 26 Maret mendatang. Mereka juga mendoakan bangsa Indonesia agar segera terhindar dari bencana wabah korona. (hid/aro/bas)

Tinggalkan Balasan