Khotbah 10 Menit, Baca Qunut Nazilah

Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), kemarin. Shaf atau barisan salat dibuat berjarak agar antar jamaah tidak menempel. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di tengah ancaman wabah virus Covid-19, salat Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tetap berlangsung dengan khusyuk. Namun pelaksanaan salat Jumat di masjid terbesar di Jateng ini berbeda dari biasanya. Takmir masjid memperketat standar kesehatan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19.  Pengurus masjid menyediakan sabun untuk mencuci tangan sebelum berwudhu dan hand sanitizer untuk para jamaah. Seluruh jamaah yang datang juga diperiksa suhu badannya satu per satu dengan menggunakan thermal gun.

Dalam masjid yang berisi ribuan jamaah itu, pelaksanaan salat Jumat juga sudah tidak menggunakan karpet. Sebagian jamaah tampak membawa sajadah sendiri. Shaf atau barisan salat juga dibuat berjarak agar antar jamaah tidak menempel satu sama lain. Khotbah Jumat pun dipersingkat, dari biasanya antara 20 -30 menit, kali ini menjadi 10 menit. Setelah salat, para jamaah langsung pulang dan tidak dianjurkan bersalaman.

Sekretaris Masjid Agung Jawa Tengah KH Muhyidin mengatakan, sesuai fatwa MUI pusat dan MUI Jawa Tengah, daerah yang masih terkendali dalam penyebaran virus korona diperbolehkan menyelenggarakan salat Jumat. Dengan catatan, harus melaksanakan protokol kesehatan secara ketat.  ”Shaf jamaah juga diatur lebih renggang. Selanjutnya menghindari salaman. Karpet kami gulung dan jamaah diminta membawa alas dari rumah,” ujarnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, masih banyak jamaah yang bingung ketika petugas menyodorkan cairan antiseptik. Beberapa jamaah tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah cairan pembasmi kuman diteteskan ke tangan. ”Diusap-usap kedua tangan,” ujar petugas menginstruksikan.

Di pintu masuk sayap kanan, banyak pula jamaah yang bingung karena antrean menumpuk. Sebab, pemeriksaan suhu tubuh memang dilakukan pada setiap jamaah.

Ulil Albab, 20, pekerja di kawasan Karimata mengatakan, biasanya jamaah salat Jumat penuh hingga belakang. ”Ini tadi hitungannya sepi. Sangat berkurang,” katanya.

Seluruh jamaah diperiksa suhu badannya dengan menggunakan thermal gun. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Salat Jumat juga digelar di Masjid Agung Kauman Semarang, kemarin. Sama seperti di MAJT, sebelum masuk masjid, tangan setiap jamaah disemprot dengan cairan disinfektan. Pengurus masjid bersama petugas Dinas Kesehatan Kota Semarang juga mengecek suhu badan para jamaah. Para jamaah salat Jumat juga diajak bersama untuk membaca qunut nazilah untuk meminta pertolongan dan menjauhkan dari malapetaka, termasuk wabah virus korona.

Di dalam masjid sudah dibersihkan terlebih dahulu. Karpet, sajadah, dan peralatan salat lainnya sengaja disingkirkan untuk sementara waktu. Para jamaah hanya beralaskan lantai dengan batas shaf menggunakan isolasi warna hitam. Jaraknya cukup lebar sehingga antara satu jamaah dengan jamaah lainnya tidak bersentuhan langsung.

Sebelum salat dimulai, pengurus masjid mengumumkan agar semua jamaah menjaga kebersihan, membersihkan tangan dengan cairan disinfektan yang sudah dipersiapkan serta mengurangi kontak fisik. Termasuk bersalaman usai salat Jumat diminimalkan sebagai antisipasi penyebaran virus korona.

Khotbah Jumat disampaikan Ketua MUI Jawa Tengah Ahmad Darodji.  Kalau biasanya bisa sampai 20-30 menit, kemarin berlangsung singkat, hanya sekitar lima menit. “Khotbah dibuat singkat untuk memperpendek berkumpulnya jamaah. Tapi semua sarat dan rukun dalam salat Jumat dijalankan,” kata Sekretaris Badan Pengelolaan Masjid Agung Semarang Abdul Wachid kepada Jawa Pos Radar Semarang. (sga/fth/aro)

 

Tinggalkan Balasan